Kisah Senior Club New York: Diaspora Sepuh Itu Melepas Rindu di Warung Tunjuk

oleh

ara sesepuh diaspora Indonesia di Kota New York mencari kebahagiaan dengan berkumpul sesama senior di negeri asing tersebut. Mereka menamakan perkumpulan tidak resmi itu Senior Club- New York (SC-NY) Amerika Serikat.

Oleh: Mukly Zainuddin, New York, AS

Mukly Zainuddin

WO HOP. Restoran China yang berada di China Town, New York, Amerika Serikat, ini buka 24 jam. Koki-kokinya ada yang berasal dari negeri Melayu. Semenanjung Malaka dan Singapura serta Indonesia. Wajar saja kalau sejak setengah abad yang silam restoran ini menjadi posko pertemuan para perantau dari kawasan tersebut. Setiap singgah di sana pasti ada saja yang berasal dari Asia Tenggara. Masakannya ada tumis kangkung, liling, tutut, bekicot sungai, dan tentu saja sayur mayur dan masakan laut, seafood.

Terasa benar seperti di rumah sendiri. Serasa di kampung halaman. Para pendatang ini terdiri atas bermacam lapisan atau golongan masyarakat, mulai dari mahasiswa, pejabat negara, pengusaha, serta tentu saja imigran yang memang datang untuk mencari nafkah. Mereka ada yang menjadi pekerja halus dan kasar– apa saja dikerjakan asal bisa menghasilkan uang–, sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, penjaga orang tua, sopir, pelayan, pencuci piring, preman, mengemis, dan lain sebagainya.


Walau bagaimana pun perbedaan status, kerinduan bertemu dengan orang yang sebangsa setanah air dan sebahasa, menghapus perbedaan tersebut. Apalagi bagi orang tua yang sekarang disebut lansia, kebahagiaan adalah berkumpul dengan keluarga, anak cucu, bertemu dengan orang seasal, ngobrol dengan teman sebaya.

Sekarang sudah menjadi umum para lansia mempunyai perkumpulan sendiri, untuk menjadi ajang bertemu secara rutin setiap minggu. Memang di Amerika Serikat ini tersebar wadah yang disebut senior center dengan fasilitas lengkap seperti hiburan, olah raga, renang beladiri Taichi. Ditambah lagi , keterampilan seni musik, tarian dan sebagainya. Semua tersedia.

Ada pula makanan minuman gratis. Tetapi bagi bangsa kita, kongkow-kongkow ngecap ngalor-ngidul dua tiga jam seminggu dengan peserta lima belas sampai tiga puluh hadirin kadang kala lebih, sudah lebih dari cukup. Mereka sudah sangat bahagia. Seperti kumpulan ISC-NY, Indonesian Senior Club New York itu.

Ya, kami memang anggota Indonesian Senior Club- New York Amerika Serikat. ISC-NY bukanlah organisasi resmi, tak punya badan hukum, tak ada pengurus seperti ketua, bendahara atau pun sekretaris. Tak punya alamat ataupun telepon tapi punya WAG, WhatsApp Group, dan tentu saja anggota yang rajin ikut berkumpul untuk sekadar ngerumpi berita dari teman lain.

Tak ada syarat khusus keanggotaan, siapa saja boleh ikut hadir, nongkrong, tua muda, laki perempuan, siapa saja yang senang ngerumpi bareng sambil ngobrol ngalor ngidul berbagi pengalaman baik suka maupun duka, berbagi tawa. Semua orang boleh bergabung.

Jamaah Masjid Al Hikmah

Alkisah, kira-kira seperempat abad yang lalu, beberapa orang jamaah Masjid Al Hikmah, masjid orang Indonesia di New York, berkumpul usai salat. Mereka antara lain Pratomo, Singgih, Adjat, dan Rurun. Selesai salat Jumat, seperti umumnya jamaah sepuh, mereka tidak langsung bubaran pulang ke rumah masing-masing. Mereka tidak pula harus buru-buru bergegas kembali kerja ke kantor sebab sudah pensiun, tetapi ngobrol dulu melepas kangen atau melepas kerinduan, setelah sepekan tak berjumpa.

Kebetulan di sekitar pelataran masjid ada warung sate lontong. Warung ini mengingatkan kami akan kampung halaman dengan harga cukup sesuai dengan kantong pensiunan yang hidup dari sosial sekuriti. Rupanya banyak sudah sahabat senasib seumur ini ingin kangen-kangenan. Tak ada beda suku maupun kepercayaan, tak ada beda pula soal tebalnya kantong atau status sosial dan pandangan politik.

Maka, dicarilah tempat di luar masjid untuk berkumpul. Mereka lalu menemukan restoran China yang bisa dicapai kira-kira lima belas menit berjalan dari masjid. Pilihan restoran China itu karena warung Indonesia belum ada. Dan masakan yang cocok dengan selera lidah kami hanya di restoran China.

Nah, ketemulah restoran China di Broadway Elmhurst, Queens. Mudah dicapai, masakan cocok, dan kami pun boleh kongkow-kongkow saenaknya sejam atau dua jam. Bahkan lebih lama pun boleh. Murah meriah. Seringgit nasi putih, sekaleng soda, dua macam lauk. Karena pelayannya tak berbahasa Inggris, maka kami main tunjuk saja apa yang kita mau makan. Selanjutnya kita namakan “Warung Tunjuk!”.

Sejak itu kami mengenal nama Warung Tunjuk. Bahkan dari mulut ke mulut tersebarlah pengumuman: Pertemuan setelah salat Jumat pukul 03.00 pm hingga selesai di “Warung Tunjuk”.

Beberapa tahun kemudian Warung Tunjuk ini tutup. Untuk mencari tempat seperti itu ternyata tidak gampang terutama yang bisa ber-“hahahihi”, tertawa bersama, ramai berjam- jam memakai bahasa asing pula. Sampai akhirnya kami menemukan toko camilan bakery. Toko ini berjualan kue- kue dan kopi. Fay Da Bakery namanya. Lokasinya di Justice Avenue, Elmhurst Queens.

Yang menarik, kongkow ngopi di sini cukup dengan kopek lima perak dan mereka belum keberatan kita duduk berjam-jam di situ. Rupanya memang sudah banyak grup-grup ngopi bareng seperti ini. Tetapi setahun ini karena covid-19 kegiatan terhenti entah sampai kapan. Silaturahmi dilanjutkan melalui WAG, virtual seperti umumnya.

Imlek di New York Sepi

Perayaan Imlek di New York tahun ini sepi. Saat hari Jumat 12 Februari 2021, Tahun Baru China, Imlek, di Surabaya, Indonesia diperingati di tengah pandemi, kami di New York, Amerika Serikat masih Kamis malam Jumat, malam tahun baru Imlek alias tanggal 11 Februari 2021.

Karena wabah covid-19 keadaan sangat berbeda dengan biasanya, sebab ada pembatasan travel, lockdown, protokol kesehatan, larangan berkumpul. Ada pembatasan jumlah hadirin pada ruangan tertutup, sehingga perayaan akan terpusat secara virtual. Memang masih ada barongsai, pawai, pertunjukan dioangung di taman- taman tetapi tradisi saling mengunjungi terbatas antara keluarga dekat saja.

Bila biasanya sebelum Imlek masyarakat sibuk mempersiapkannya, tahun ini toko- toko sepi walau masih ada toko yang menjual kue-kue tahun baru, membagikan kalender tahun baru dan amplop angpaw. Sedangkan restoran hanya take out atau makan di tenda kaki lima di luar restoran. Larangan makan di dalam restoran akan dicabut padahari Jumat ini bertepatan dengan hari Raya Imlek. Ini pun terbatas hanya 25% dari kapasitas. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.