Herd Immunity Jatim Kado HUT ke-76 RI: Belajar dari India

oleh -2.973 views
Agoes Aufiya dan keluarga saat ini tinggal di New Delhi India. (Foto: Dok. Agoes Aufiya)

SURABAYA | DutaIndonesia.com – Mohd Agoes Aufiya, mahasiswa S3 di Jawaharlal Nehru University New Delhi India menyambut baik target herd immunity dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Namun dia menilai target tetap harus realistis sehingga benar-benar bisa dicapai.

Dia memberi contoh di India yang tanpa mematok target tapi dengan melakukan persiapan yang matang setelah belajar dari melonjaknya kasus Covd-19 gelombang kedua. Saat ini India melakukan persiapan sangat matang untuk menghadapi kemungkinan gelombang ketiga setelah ada gejala varian baru pasca-Delta.

“Saat ini alhamdulilah kasus di India turun dan rendah dengan positivity rate-nya di bawah 5%. Tapi Pemerintah sedang pasang kuda-kuda bersiap untuk gelombang ketiga di sekitar akhir Agustus,” katanya kepada DutaIndonesia.com dan Global News Rabu 28 Juli 2021.

Persiapan yang dilakukan India itu menyangkut semua kebutuhan untuk melawan Covid-19 lagi, termasuk melakukan lockdown lagi, memenuhi kebutuhan oksigen dan tempat tidur ICU serta obat-obatan harus cukup. Lalu vaksin dipercepat.

“Menurut penelitian 2/3 sudah mengembangkan antibodi sepertinya terhadap varian Delta. Tapi jika ada mutasi virus yang lebih parah ya bisa kalah antibodi yang ada. Kalau melihat vaksinasi, belum masuk kategori herd immunity sebab penduduk India sangat besar, sekitar 1,3 miliar, atau hampir 4-5 kali lipat Indonesia. Mungkin karena itu tak ada target herd immunity seperti di Jatim. Padahal India memproduksi sendiri vaksin, tak tergantung negara lain, sementara Indonesia masih impor. Untuk bisa herd immunity dengan vaksin perlu 85% warganya tervaksin,” katanya.

YouTube player

Karena itu, dia menyarankan, target herd immunity harus realistis. Jatim harus jelas hitungannya sebab sangat tergantung ketersediaan vaksin dan juga melihat penerimaan warganya sendiri. “Ini potensi dan tantangan,” katanya.

Yang juga penting adalah aturan lockdown. Lockdown di India ketat. Tidak ada penegakan aturan setengah-setengah. Tidak ada aturan makan di tempat restoran 20 menit saat lockdown. Hanya boleh dibungkus. “Yang boleh buka toko sembako, sayur, buah. Bagi kurir juga boleh bekerja. Pasar ditutup selama lockdown termasuk mal,” katanya.

India juga memberikan bantuan sosial. Bentuknya makanan jadi untuk makan siang dan malam hari beserta beras/gandum. Lalu ada juga bantuan dana untuk UMKM dan bantuan uang tunai kepada rakyat yang membutuhkan.

“Tapi tetap, tak terelakkan kondisi ekonomi tumbuhnya kecil. Tapi setelah lockdown perlahan bangkit,” katanya.

Agoes menambahkan herd immunty sebenarnya lebih efektif dalam cakupan nasional daripada provinsi. Sebab jika provinsi tetangga belum mencapai target vaksin agar terwujud herd immunty sementara mobilitas antar provinsi terus berjalan pasca PPKM Darurat dan PPKM Level 4, maka tidak akan efektif. “Selayaknya target vaksin ini menjadi target pemerintah pusat untuk cakupan se-Indonesia,” katanya.

Menurut dia, herd immunty sebenarnya lebih efektif dalam cakupan nasional daripada provinsi. Sebab jika provinsi tetangga belum mencapai target vaksin agar terwujud herd immunty sedangkan mobilitas antar provinsi berjalan pasca PPKM Darurat, maka bisa berjalan tidak efektif. Selayaknya target vaksin ini menjadi target pemerintah pusat untuk cakupan se-Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.