Busana Karya Desainer Tari Made Memukau Pengunjung JIBB 2021

oleh -10 views


YOGYAKARTA|DutaIndonesia.com – Desainer Tari Made menampilkan karya  busana yang memukau pengunjung acara penutupan Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2021. Kegiatan ini diselenggarakan bersama-sama dengan 24 negara lainnya di seluruh dunia. 

Tari Made dalam acara penutupan JIBB 2021  menampilkan 3 outfit motif Nitik berkolaborasi dengan motif Sakamade serat kayu, banji swastika dari Bali dan krambil secukil. Kolaborasi motif batik ini disambut positif kalangan mode  dan fashion.
Tari Made optimistis berbagai macam batik, khususnya batik Yogya dan juga karya hasil kolaborasinya tersebut bisa menjadikan batik semakin mendunia.Apalagi kegiatan ini diselenggarakan bersama-sama dengan 24 negara lainnya di seluruh dunia. 

Sebelumnya MenkopUKM memuju acara JIBB 2021.

“Kegiatan ini merupakan doa agar dunia segera pulih dari pandemi,  sekaligus sebagai pernyataan kuat posisi Jogja sebagai ibu kota batik dunia,” kata Teten mewakili Wakil Presiden Republik Indonesia KH Ma’ruf Amin. 

MenKopUKM mengatakan, narasi kuat ini merupakan bukti mahakarya produk tradisi Indonesia dan mahamakna dengan filosofi yang mengakar. 

“Tema yang sangat relevan dalam kondisi penuh tantangan saat pandemi seperti saat ini,”  kata Teten. 

Pada 2009, UNESCO menetapkan Batik Indonesia sebagai Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity. Pengakuan internasional bahwa batik Indonesia merupakan bagian kekayaan peradaban manusia. 

“Untuk itu, saya berharap melalui Jogja Membatik Dunia, UMKM terkait wastra tradisional, termasuk batik Indonesia dapat bangkit dan meraja di pasar global,” imbuh MenKopUKM. 

Pagelaran Jogja International Batik Biennale (JIBB) menampilkan motif Ceplok Mangkoro yang terinspirasi bagian belakang penutup kepala/sumping pewayangan Jawa. Mangkara berarti ora ana sekara-kara, bermakna tidak ada halangan dan rintangan. Menorehkan Ceplok Mangkoro (dalam lukisan/batik) adalah wujud doa untuk menolak musibah. 

Pentingnya Inovasi

Berdasarkan data, ekspor batik Indonesia pada 2020 mencapai US$532,7 juta atau Rp7,5 triliun. Industri batik telah memberdayakan 200 ribu tenaga kerja dari 47 ribu unit usaha yang tersebar di 101 sentra wilayah Indonesia. 

MenKopUKM pun menekankan pentingnya inovasi karena para kompetitor internasional terus menjadi tantangan. 

“Harapan kami, UMKM pengrajin batik dapat  membentuk kelembagaan koperasi. Koperasi jadi offtaker, kami dan LPDB-KUMKM siap dukung pembiayaan,” ungkap Teten. 

Tak hanya itu, KemenKopUKM juga siap memfasilitasi kemitraan dengan usaha besar ataupun stakeholder lainnya. 

“Manfaatkan Fashion Lab di Smesco Labo, terkait research and development produk,” kata Teten. 

Selain itu, pelaku wastra juga dapat bereksplorasi bersama dengan project KRTA, inisiatif future fashion dari Smesco yang mendemokratisasi siluet fashion kebangsaan untuk dimanfaatkan para perajin fashion termasuk batik. 

“Saya berharap beragam inovasi serta rangkaian sinergi dan kolaborasi dapat terlahir,”  kata MenKopUKM. 

Di waktu yang sama, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap, melalui ajang ini batik dapat lebih dikenal di kancah dunia dan dapat menjadikan Yogyakarta sebagai kota batik. Apalagi mengingat saat ini batik sudah semakin populer dan menjadi kebutuhan dunia. 

“Saya ucapkan terima kasih atas segala upaya dan bantuan dari berbagai pihak, untuk membangun masa depan batik Indonesia, yang tidak hanya dilihat dari sisi kebudayaan, melainkan juga kepentingan ekonomi masyarakat,” katanya. (gas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.