Haji dan Umrah Harus Gairahkan Ekonomi Umat

oleh
Dirjen PHU Hilman Latief saat berbicara dalam Forum Rapat Kerja Nasional Jaringan Wisata Muhammadiyah di Yogyakarta, Kamis (17/2/2022).

YOGYAKARTA|DutaIndonesia.com – Perputaran uang dari aktivitas haji dan umrah sangat besar. Uang itu mencapai triliunan rupiah. Banyak di antara uang itu berasal dari uang milik orang-orang desa yang dikumpulkan dengan cara menabung penghasilannya sedikit demi sedikit kemudian disetor untuk membayar biaya haji. Yang kadang mereka harus menunggu puluhan tahun untuk menggunakan uangnya itu guna menjadi tamu Allah SWT.

Uang sebanyak itu, bila dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi umat, pasti bisa mengatasi kemiskinan yang membelit mereka selama bertahun-tahun. Caranya bagaimana? Ini yang perlu dipikirkan bersama. Tanpa ada kepentingan dari individu, kelompok, atau politik tertentu. Uang itu pasti mampu mengurangi angka kemiskinan secara signifikan bila diihtiarkan untuk umat.

Ini baru dari uang jamaah haji, belum uang dari jamaah umrah. Bila dihitung semuanya akan sangat mencengangkan nilanya. Para ahli ekonomi tahu itu. Namun, entah mengapa belum bisa maksimal menggerakkan ekonomi umat dengan muara menghapus kemiskinan yang anehnya sebagian besar adalah umat Islam.

Lalu siapa penggeraknya? Tentu kita semua harus terlibat secara proporsional. Dimulai dari Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) Kementerian Agama (Kemenag) yang sekarang tengah mendorong penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah. Rencana ini tengah dibahas bersama antara Ditjen PHU dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan Bank Indonesia.

“Ini menjadi visi dan perhatian bersama, bagaimana kita bisa terus berkontribusi dalam penguatan ekonomi masyarakat melalui penyelenggaraan haji dan umrah,” kata Dirjen PHU Hilman Latief saat berbicara dalam Forum Rapat Kerja Nasional Jaringan Wisata Muhammadiyah di Yogyakarta, Kamis (17/2/2022).

“Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal PHU beberapa kali diundang BPKH dan Bank Indonesia terkait hal ini,” sambungnya.

Hilman mengatakan, ekosistem haji dan umrah merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi masyarakat, terutama Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Apalagi, kegiatan haji dan umrah berjalan secara berkesinambungan. Total nominal dana haji dan umrah juga cukup banyak, sehingga dampaknya untuk rakyat Indonesia harus terlihat.

“Dengan dana haji dan umrah yang tidak sedikit, dampaknya untuk Rakyat Indonesia bagaimana? Berapa banyak UMKM dan hasil petani kita yang bisa diekspor dengan pengiriman konsumsi hasil panen kita ke Arab Saudi contohnya. Kesinambungan itulah yang saat ini pemerintah pikirkan dan rencanakan,” jelasnya.

Hilman mengakui bahwa siklus permasalahannya cukup rumit ini. Pihak yang serius menangani hal ini juga tidak banyak. Namun, pihaknya berkomitmen untuk terus menguatkan visi tersebut, berkoordinasi dengan berbagai pihak.

“Saya akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, Kementerian dan Lembaga terkait. Saya akan bertemu Dirjen Perikanan untuk mendampingi para petani dalam melakukan standarisasi hasil ekspor yang sesuai regulasi internasional,” jelasnya.

Hilman menanbahkan, visi ini tidak akan berhasil kalau tidak melibatkan banyak pihak. Untuk itu, keseriusan akan hal ini harus dijalani dengan konsep yang jelas.

“Peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan lain-lain juga kita perlukan. Keseriusan pemerintah harus dilakukan dengan konsep matang dan tidak lanjut yang berkesinambungan,” tandas Hilman.

Penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah merupakan salah satu program inovasi Ditjen PHU di tahun 2022. Selain itu, ada juga program Sapa Jemaah Masa Tunggu, Transformasi SDM dan Penguatan Tata Kelola Asrama Haji, Manasik Bilingual, serta Penguatan Diplomasi Haji. (red/kgi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.