ZISWAF di Bawah Kepemimpinan BAZNAS Kunci Pengelolaan Zakat yang Baik

oleh


Oleh: Khoirul Huda Sabili

Jumlah penduduk miskin turun drastis dari 54 juta jiwa atau 40% dari jumlah penduduk (1976) turun menjadi 22,5 juta jiwa atau sekitar 11,3% (1996). Sejak adanya krisis ekonomi tahun 1998 meningkat 400%, pada tahun 1997 dari 22 juta jiwa menjadi 80 juta jiwa (BPS, 2005). Di Jawa Tengah kondisi kemiskinan rata-rata menunjukkan peningkatan dari 5,9 juta jiwa pada tahun 2003 menjadi 6,9 juta jiwa di tahun 2006 (Susenas).

MENINGKATNYA jumlah penduduk miskin merupakan bahaya besar bagi umat manusia dan tidak sedikit umat yang jatuh peradabannya hanya karena kefakiran, oleh karena itu diperlukan suatu kebijakan dalam pemberantasan kemiskinan. Dalam Islam, pemberantasan kemiskinan dilembagakan dalam salah satu rukunnya, yaitu zakat (Abdurrachman Qadir, Irsad Andriyanto 228 Jurnal Zakat dan Wakaf 2001: 83-84), oleh karena itu diperlukan pengelolah zakat yang amanah, transparan, dan profesional.

Salah satu lembaga negara dari sekian banyak organisasi yang mengelola zakat secara efektif, efisien dan transparan adalah Baznas (Badan Amil Zakat Nasional). Bahkan pada 17 Januari 2022, Baznas kembali berhasil mempertahankan sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015. “Alhamdulillah Baznas kembali berhasil menorehkan capaian positif pada masa-masa krisis akibat pandemi Covid-19 ini. Penghargaan ini tentu harus jadi kekuatan yang memicu kita ke depan, karena penghargaan ini sekaligus menunjukkan manajemen Baznas yang berjalan telah memenuhi persyaratan yang berlaku,” kata Ketua Baznas, Prof Noor Achmad dalam republika.co.id.

Sertifikat manajemen mutu yang secara konsisten diraih Baznas dalam setiap tahunnya ini menjadi penyempurna Baznas dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dengan menerapkan sistem manajemen mutu berstandar Internasional di seluruh unit kerja Baznas.

Suatu hal yang tak boleh dilupakan adalah pilar-pilar sosial dan ekonomi bangsa Indonesia tidak hanya bertumpu pada nilai tukar mata uang rupiah. Tetapi masih ada pilar sosial yang terus menerus menopang dan merekat kehidupan masyarakat, yaitu pilar filantropi umat Islam. Seperti yang dikatakan Prof Dr KH Didin Hafidhuddin pada Ahad 18 Maret 2018 dalam Republika.co id.

Urgensi filantropi dalam Islam dapat dilihat dari cara Al Qur’an menekankan keseimbangan antara menunaikan zakat dan mendirikan shalat. Filantropi dimaknai sebagai konseptualisasi dari praktik pemberian sumbangan sukarela (voluntary giving), penyediaan layanan sukarela (voluntary services), dan asosiasi sukarela (voluntary association) secara sukarela untuk membantu pihak lain yang membutuhkan sebagai ekspresi rasa cinta. Filantropi dalam arti pemberian derma biasa juga disamakan dengan istilah karitas / charity.

Istilah filantropi yang dikaitkan dengan Islam menunjukkan adanya praktik filantropi dalam tradisi Islam melalui Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF). Istilah ini dapat membantu membawa wacana kedermawanan Islam ke dalam sebuah diskursus yang dapat menjangkau isu-isu yang lebih luas. Tidak hanya melihat masalahnya dari segi wacana tradisional saja, seperti fiqih, melainkan dapat dikaitkan dengan isu-isu keadilan sosial, kesejahteraan umat, masyarakat madani, kebijakan publik, tata kelola yang baik, serta manajemen yang profesional.

Sebagaimana tercantum dalam QS. Al Hasyr [59] : 7 :


مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ۝

Harta rampasan fai’ yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.

Dalam ayat ini, Islam menganjurkan seorang muslim untuk berfilantropi agar harta kekayaan tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja. Ketika menerangkan filantropi, Al Qur’an sering menggunakan istilah zakat, infak, dan sedekah, yang mengandung pengertian berderma. Dalam Islam, kedermawanan mencakup dimensi-dimensi kebaikan secara luas seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf merupakan istilah-istilah yang menunjukkan bentuk resmi filantropi Islam. Sistem filantropi Islam ini kemudian dirumuskan oleh para fuqaha dengan banyak bersandar pada Al Qur’an dan As Sunnah mengenai ketentuan terperinci, seperti jenis-jenis harta, kadar minimal, jumlah, dan aturan lainnya.

Di tengah problem sosial masyarakat dan tuntutan kesejahteraan ekonomi saat ini, eksistensi ZISWAF menjadi sangat strategis. Selain sebagai salah satu aspek ajaran Islam yang berdimensi spiritual, zakat, infak, sedekah, dan wakaf juga merupakan ajaran yang menekankan pentingnya kesejahteraan ekonomi dan dimensi sosial. ZISWAF merupakan pilar penyangga bagi tegaknya institusi-institusi sosial keagamaan masyarakat muslim selama berabad-abad. Hal itu dilakukan melalui penyediaan dana dan sarana pendukung bagi kegiatan-kegiatan ritual keagamaan, pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan seni budaya.

Apabila ZISWAF dikelola secara produktif, akan mampu menjalankan fungsi yeng lebih lagi, misalnya penyediaan sarana umum, pemberdayaan ekonomi, dan lain-lain. Tujuan-tujuan ini sejalan dengan paradigma kemashlahatan yang menjadi orientasi dari syariat Islam. Lembaga yang mengelola ZISWAF memiliki peran dan fungsi yang signifikan sebagai instrumen pengembangan ekonomi. Dalam jangkauan yang lebih luas, kehadiran mereka dapat pula dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di bidang ekonomi, terutama jika ZISWAF dikelola dengan manajemen yang rapi, teratur, dan profesional.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) menjelaskan bahwa kemiskinan adalah situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena dikehendaki oleh si miskin, melainkan karena tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya.

  1. Kemiskinan (Poverty), memiliki tanda-tanda sebagai berikut : rumah reot dan dibuat dari bahan bangunan yang bermutu rendah, perlengkapan yang sangat minim, ekonomi keluarga ditandai dengan ekonomi gali lubang tutup lubang, serta pendapatan yang tidak menentu.
  2. Masalah Kerentanan (Vulnerability), kerentanan ini dapat dilihat dari ketidakmampuan keluarga miskin menghadapi situasi darurat. Perbaikan ekonomi yang dicapai dengan susah payah sewaktu-waktu dapat lenyap ketika penyakit menghampiri keluarga mereka yang membutuhkan biaya pengobatan dalam jumlah yang besar.
  3. Masalah Ketidakberdayaan (Powerlessness), bentuk ketidakberdayaan kelompok miskin tercermin dalam ketidakmampuan mereka dalam menghadapi elit dan para birokrasi dalam menentukan keputusan yang menyangkut nasibnya, tanpa memberi kesempatan untuk mengaktualisasi diri.
  4. Lemahnya Ketahanan Fisik (Physical Weakness), karena rendahnya konsumsi pangan baik kualitas maupun kuantitas sehingga konsumsi gizi mereka sangat rendah yang berakibat pada rendahnya produktifitas mereka.
  5. Masalah Keterisolasian (Issolation), keterisolasian fisik tercermin dari kantong-kantong kemiskinan yang sulit dijangkau, sedangkan keterisolasian sosial tercermin dari ketertutupan dalam integrasi masyarakat miskin dengan masyarakat yang lebih luas.

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang berdimensi keadilan sosial kemasyarakatan. Secara etimologi zakat berarti suci, baik, tumbuh, bersih, dan berkembang. Sedangkan secara terminologi zakat adalah sejumlah harta yang diwajibkan oleh Allah SWT. diambil dari harta orang-orang tertentu (aghniyāa) untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu. Esensi dari zakat adalah pengelolaan dana yang diambil dari aghniyāa untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dan bertujuan untuk menyejahterakan kehidupan sosial kemasyarakatan umat Islam.

Zakat sudah sejak lama senantiasa menjadi objek studi yang menarik. Oleh karenanya berbagai studi seputar zakat sudah cukup banyak dilakukan, baik pada dataran teoritik maupun pada dataran empirik. Secara umum dapat disimpulkan bahwa maju dan berkembang dengan pengelolaan zakat dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan sosial dan ekonomi.

Melihat kinerja lembaga amil dalam negeri, sejumlah studi telah menunjukkan efek positif dari program distribusi zakat dalam mengurangi kemiskinan, kedalaman kemiskinan, dan tingkat keparahan kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa lembaga-lembaga amil di negara ini telah menunjukkan kinerja yang baik dalam mengelola dana zakat. Hal ini perlu ditingkatkan terus di masa depan.

Kesadaran masyarakat dari dan keyakinan dalam membayar zakat melalui lembaga amil telah meningkat dari waktu ke waktu. Ini harus dimanfaatkan dalam rangka mewujudkan potensi zakat, yang setinggi 3,40% dari PDB. Waktu yang dibutuhkan untuk keluar kemiskinan bisa dibuat menurun bila distribusi zakat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, desain kebijakan yang komprehensif diperlukan.

Setidaknya ada empat langkah yang perlu dilaksanakan. Pertama, sosialisasi terus-menerus dan pendidikan publik tentang konsep zakat. Pemahaman yang komprehensif merupakan kunci dasar untuk membuka kesediaan masyarakat untuk membayar zakat. Kedua, memperkuat dukungan regulasi pemerintah. Hal ini penting karena peraturan pemerintah akan memiliki dampak besar dan signifikan. Ketiga, mempercepat kemampuan organisasi BAZNAS dan lembaga zakat lainnya di bawah kepemimpinan BAZNAS. Ini adalah kunci untuk pengelolaan zakat yang baik. Keempat, kerjasama zakat internasional perlu diperkuat.

Potensi pengembangan filantropi Islam sangat besar dalam bentuk kedermawanan umat Islam melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Hasil survei menunjukkan bahwa hampir semua masyarakat Muslim Indonesia (99 %) pernah berderma. Sejalan dengan semangat kedermawanan umat Islam, filantropi Islam di Indonesia juga sedang mengalami perkembangan signifikan yang ditandai dengan meningkatnya antusiasme umat dalam berfilantropi dan dipengaruhi oleh revitalisasi visi dunia filantropi Islam, yang mencoba mentransformasikan paradigma lama filantropi dengan paradigma baru yang lebih kreatif dan inovatif. Filantropi Islam dalam bentuk ZISWAF apabila dikelola secara produktif, akan mampu menjalankan fungsi yeng maksimal, seperti penyediaan sarana umum, pemberdayaan ekonomi, dan sebagainya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.