Bertempur untuk Rusia, Pasukan Chechnya Tewas di Ukraina

oleh
Rudal Rusia menghantam Kota Kharkiv. (CNNIndonesia)

GROZNY|DutaIndonesia.com – Perang Rusia vs Ukraina melibatkan sejumlah negara. Bila Ukraina didukung Amerika Serikat dan NATO, Rusia mendapat sokongan dari sekutunya antara lain Chechnya dan Belarus.

Bahkan pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov mengatakan bahwa ada pasukannya yang tewas dalam pertempuran di Ukraina. Kadyrov mengaku mengerahkan pasukan Chechnya ke Ukraina untuk membantu invasi yang dilancarkan Rusia.

Seperti dilansir AFP, Selasa (1/3/2022), Kadyrov, mantan pemberontak yang berubah menjadi sekutu Kremlin, telah menyatakan dukungan untuk serangan yang diperintahkan Presiden Vladimir Putin ke wilayah Ukraina. Dia bahkan memerintahkan pengiriman pasukannya ke Ukraina untuk menegaskan dukungannya itu.

“Sangat disayangkan, sudah ada kerugian dari penduduk asli Republik Chechnya. Dua tewas, enam lainnya mengalami luka-luka dalam berbagai tingkat,” kata Kadyrov dalam pernyataannya via Telegram.

Kadyrov yang bertanggung jawab atas Republik Chechnya di wilayah Rusia yang secara de-facto dipimpin dengan aturannya sendiri, telah mengunggah sejumlah video para petempur Chechnya di Ukraina.

Pada Selasa (1/3/2022) waktu setempat, dia memposting gambar seorang petempur Chechnya dengan tank Rusia yang melintas.

Sebelumnya, Rusia mengakui jatuhnya korban jiwa dari pihaknya dalam invasi ke Ukraina. Namun Rusia tidak mau mengungkapkan jumlah tentaranya yang tewas.

Pasukan Ukraina sendiri punya cara sendiri dalam menghadapi pasukan musuh. Termasuk saat melawan pasukan Muslim Chechnya yang pro Rusia.

Sebuah video menunjukkan para petempur Azov di Ukraina mengolesi peluru-peluru yang akan mereka gunakan untuk bertempur dengan lemak babi.

Peluru-peluru itu disebut akan digunakan untuk melawan pasukan Muslim Chechnya yang dikerahkan membantu Rusia dalam invasi militernya ke Ukraina.

Seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (1/3/2022), petempur Azov merupakan unit militer infanteri sukarelawan beraliran sayap kanan jauh, yang merupakan kelompok ultra-nasionalis yang dituduh menyembunyikan ideologi neo-Nazi dan supremasi kulit putih.

Petempur Azov pertama kali bertempur bersama militer Ukraina dalam konflik melawan separatis pro-Rusia di wilayah Ukraina bagian timur tahun 2014 lalu, dan sejak saat itu dimasukkan ke dalam Angkatan Bersenjata reguler.

Video yang menunjukkan aksi petempur Azov mengancam pasukan Chechnya itu diunggah ke Twitter oleh Garda Nasional Ukraina. Namun Al Jazeera belum bisa memverifikasi secara independen keaslian video tersebut.

Dalam video itu, seorang pria yang diduga salah satu petempur Azov tampak mencelupkan peluru ke dalam apa yang terlihat seperti lemak babi, sembari dia berbicara kepada pasukan Chechnya.

“Saudara-saudara Muslim yang terhormat. Di negara kami, Anda tidak akan masuk surga. Anda tidak akan diizinkan masuk surga. Silakan pulang. Di sini, Anda akan menghadapi kesulitan. Terima kasih untuk perhatian Anda, selamat tinggal,” ucap pria dalam video tersebut.

Diketahui bahwa meski telah terintegrasi ke dalam militer resmi Ukraina, para petempur Azov dilaporkan masih terus mengenakan lencana Wolfsangel yang dulu dipakai oleh sejumlah divisi Nazi pada era Perang Dunia II. (det/wis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.