Kisah Judy Houyai, Aktivis Buruh Migran di Hongkong: Sibuk Blusukan Membentengi PMI dari Virus Hedonisme

oleh

Sri Martuti, warga negara Indonesia (WNI) yang sekarang tinggal di Hongkong, bersama sejumlah perempuan penulis lain dari berbagai negara, meluncurkan buku bertajuk “#myvoice. Perempuan yang biasa dipanggil Judy Houyai ini sudah bertahun-tahun jadi aktivis PMI di Hongkong. Berikut suka duka yang dialami Judy menjadi PMI dan aktivis buruh migran.

Oleh Gatot Susanto

JUDY HOUYAI sudah 12 tahun tinggal di Hongkong menjadi pekerja migran Indonesia (PMI). Selama bertahun-tahun itu dia gelisah melihat kondisi PMI. Mereka rela meninggalkan keluarga di kampung halamannya di Tanah Air, tapi masih saja ada yang hidup nestapa di negeri orang.

Ada yang mengalami kekerasan seksual, menderita akibat penganiayaan dari majikannya, tidak mendapat gaji, korban human trafficking, hingga terjebak gaya hidup tidak sehat yang ditularkan orang lain. Selain itu ada yang sakit parah dan meninggal dunia. Apalagi bila mereka memegang visa ilegal.

Maka, pada tahun 2013, Judy pun mulai mendirikan organisasi atau komunitas PMI untuk berkumpul dan saling berbagi. Saling tolong menolong bila ada masalah. Sejak 2014 hingga sekarang ada 7 komunitas dengan berbagai bidang, mulai advokasi, edukasi, pelatihan, sosial, dan entrepreneur untuk para PMI.

“Lalu terakhir tahun 2017 saya mendirikan Komunitas Cilacap-Hongkong, khusus ormas atau individu PMI asal Cilacap di Hongkong. Para anggotanya bebas berekspresi, memberi saran, dan lain-lain. Kami fokus upgrade peningkatan skill PMI guna mempersiapkan diri ketika mereka pulang ke Cilacap dan tidak menjadi PMI lagi,” kata Judy kepada DutaIndonesia.com.

Judy mengaku sering blusukan melakukan edukasi ke kantong kantong komunitas PMI. Judy mengedukasi mereka soal keberadaan PMI. Khususnya visa legal, terkait hak dan kewajiban. Begitu juga bila PMI ilegal. Yang sering menjadi masalah.

“Kami mengedukasi apa yang harus dilakukan saat mengalami hal buruk, kita beri pendampingan, melaporkan ke KJRI atau ke pemerintah Hongkong,” katanya.

Selain itu, juga melakukan pemberdayaan PMI. Sejak 2013, mulai memberikan pemahaman agar PMI menghilangkan kebiasaan hidup hedonis – konsumtif. Sosialisasi ini dilakukan secara intensif, sehingga sejak itu mereka mulai berubah menjadi orang yang mau menata masa depan hidupnya. Bukan hanya hura-hura. Menghamburkan uang hasil kerja kerasnya.

“Mereka berubah menjadi berentrepreneur, memikirkan tujuan hidup, memiliki program, target pulang kapan, dan lainnya. Kami memberinya pelatihan peningkatan skill dan pengembangan SDM. Bukan hanya saya, banyak komunitas memberi pelatihan, misalnya kerajinan tangan, handy craft, kuliner, salon, dan lain-lain. Semua skill ini bisa dimanfaatkan untuk hidup di kampung halaman saat pulang. Mereka bisa membuka toko kelontong dan menjual barang lain. Pelatihan kami berikan gratis. Bisa pula menjual produk UMKM, membuat website, tidak kalah dengan SDM tenaga formal lain di Indonesia. Kami melakukan sinergitas dengan BUMN, BUMD, LSM, kampus, baik di Hongkong maupun di Indonesia. Kalau hal positif banyak yang mendukung,” katanya.

Judy membenarkan gaji PMI lebih besar. Tidak hanya di Hongkong, tapi juga di negara lain, terutama Jepang dan Korea. Dulu dengan gaji sebesar itu di Hongkong, banyak PMI suka hidup hedonis, hura-hura, konsumif. Namun, sekarang lebih memilih berinvestasi, mulai tabungan, deposito, tanah, hingga reksadana.

“Setelah memberikan edukasi bertahun-tahun, hasilnya seperti jamur di musim hujan. Ayo kita investasi, saving money, mereka pun serentak melakukan investasi. Hanya sekitar 15% saja, biasanya new comer, yang baru datang ke Hongkong, bergaya hidup mewah. Mungkin karena di Indonesia tidak bisa melakukan gaya hidup semacam itu sehingga mereka melakukannya saat di Hongkong,” ujarnya.

Saat datang di Hongkong, kata dia, PMI new comer ini seakan merdeka. Lepas bebas melakukan apa saja karena ada uang. Namun, Judy yakin mereka yang seperti ini tidak bisa betahan lama, sebab mayoritas sudah memulai menata hidupnya agar lebih baik dan sejahtera. “Sehingga pada saatnya nanti para new comer ini akan meniru mereka yang sudah berhasil tersebut,” katanya.

Judy mengatakan, biasanya mereka yang hura-hura ini terbawa arus pergaulan yang tidak sehat. Mereka bertemu teman baru yang sudah salah jalan tersebut.

“Kami cari akar sebabnya. Sebenarnya bukan karena mereka ingin gaya hidup tak sehat, tapi karena pertemanan. Mereka dapat teman dan merasa nyaman. Tidak tahu apa memberi pengaruh buruk atau baik, teman ini sangat menentukan perilaku mereka. Karena itu, selalu saya sampaikan ke teman-teman PMI, carilah teman yang memiliki aura positif, kalau memiliki kebiasaan negatif cenderung mengikuti negatif,” katanya.

Awalnya, kata dia, mereka hanya ikut-ikutan karena tidak faham. Mereka kebanyakan ilegal, suka tidak terikat oleh majikan, tapi mereka lupa bahwa mereka hidup di negara lain. Yang memiliki hukum berbeda dengan di Indonesia.

“Para PMI baru itu hanya tergiur oleh orang lain yang jadi PMI ilegal, padahal risikonya besar. Para PMI ilegal ini banyak mengajak orang lain, yang tidak mengerti kondisi tersebut, sebab mereka tidak mau menjadi PMI ilegal sendirian. Inilah yang harus kita bentengi agar PMI tidak terbujuk rayu para PMI ilegal yang akhirnya jadi recognized paper tersebut. Karena itu kita memberi edukasi soal apa itu overstay, apa itu recognized paper, apa risikonya dll. Kalalu tahu risikonya, mereka akan membatasi diri dalam pergaulan,” katanya.

Kondisi para PMI ini akan semakin parah saat kena bujuk rayu pria asing. Lalu hidup bersama tanpa terikat pernikahan. Sebagian di antara mereka jadi recognized paper, hidup tanpa kewarganegaraan, menjadi pengungsi di Hongkong. Judy mengaku miris setiap kali mendengar kabar PMI terbujuk rayu pria asing tersebut.

“Karena saya memiliki keluarga di Indonesia. Orang tua, saudara, anak, suami, akan mengira kondisi PMI di Hongkong seperti itu. Padahal bila dipersentase, jumlah PMI yang berperilaku buruk itu tidak lebih dari 2-3 persen. Ibarat, nila setitik merusak susu sebelanga. Karena ulah seorang oknum PMI, seluruh PMI jadi ikut terkena getahnya, menjadi buruk citranya. Apalagi hal buruk itu dibesarbesarkan. Padahal banyak kegiatan positif tidak terekspose, justru yang buruk dan aib banyak terekspose, padahal mereka itu satu dua orang oknum saja. Tidak semua,” katanya.

No More Posts Available.

No more pages to load.