Puasa, Revolusi Akhlak, dan Restorasi Negeri

oleh
Masdawi Dahlan

Oleh Masdawi Dahlan

PADA bulan Ramadhan tahun 1443 hijriyah ini insya Allah umat Islam di Indonesia akan bisa melaksanakan ibadah puasa dengan tenang, karena Covid-19 diyakini sudah mulai aman. Dr Sri Fadilah Supari, mantan Menkes RI mengatakan bahwa covid-19 di Indonesia bukan pandemi lagi tapi sudah masuk endemi. Pemerintah Indonesia bahkan sudah membolehkan salat tarawih dan salat berjamaah walaupun harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Pemerintah juga telah membolehkan umat Islam melakukan mudik Lebaran Idul Fitri dengan tetap mengikuti berbagai persyaratan yang harus dipenuhi.

Setelah dua tahun berpuasa dalam keadaan gamang dan penuh kekhawatiran, mulai bulan Ramadhan tahun ini diharapkan umat Islam akan bisa lebih khusyuk dan tenang menjalani ibadah puasa. Dengan demikian ibadah puasa yang akan dilakukan diharapkan bisa melahirkan perubahan pada perilaku umat Islam dalam seluruh aspek kehidupannya, dalam rumah tangga, dalam bermasyarakat dan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Ibadah puasa memiliki keutamaan yang sangat fundamental. Puasa tidak hanya menyehatkan fisik namun juga akan bisa menyehatkan mental. Karena itu bagi yang mejalankan ibadah puasa tidak hanya dilarang untuk makan dan minum, akan tetapi juga dilarang melakukan tindakan yang berupa ucapan, pemikiran bahkan hingga pada suara hati yang negatif. Karena hal itu akan bisa mengurangi pahala puasa hingga membatalkannya.

Puasa berasal dari bahasa Arab dari kata ash-shiyam yang berarti menahan. Puasa adalah menahan dari makan dan minum, menahan dari nafsu seks dan menahan dari aneka nafsu negatif lainnya, misalnya marah, dusta, berbohong, iri, dengki, egois, tamak, rakus dan berbagai sikap negatif yang melanggar norma dan moralitas, mulai terbit fajar hingga tenggelam matahari.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda jika seseorang yang berpuasa tidak berhasil mengalahkan berbagai perilaku negatif, misalnya berbohong, dusta, khianat, menapulatif dan berbagai tindakan munkar lainnya, maka Allah SWT tidak butuh dengan ibadah puasa yang dilakukan oleh manusia.

Ibadah puasa adalah ibadah yang memiliki manfaat untuk menciptakan manusia sehat jasmani dan rohani, yakni manusia yang sehat fisiknya dan memiliki kebersihan hati, kebersihan pemikiran, akhlak dan kepribadian yang baik. Berbagai amalan ibadah sunnah dalam bulan Ramadhan, seperti dianjurkannya banyak bersadakah dan amalan sunnah sosial lainnya, mengajarkan manusia untuk memiliki kepedulian yang tinggi kepada lingkungan.

Kebersihan hati dan pikiran dari perbuatan yang dilarang Allah, pada gilirannya akan melahirkan manusia yang memiliki pribadi dan akhlak yang mulia. Puasa bisa mengubah watak manusia yang biasa tidak jujur menjadi jujur. Mengubah tindakan korup menjadi pribadi yang adil dan taat aturan. Puasa akan bisa menjadi momentum bagi manusia untuk memperbaiki akhlak.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran : “Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana juga diwajibkan atas umat sebelum kamu agar kamu bertaqwa,” (QS Al Baqarah). Taqwa sebagai tujuan utama disyariatkannya puasa adalah ciri manusia yang sehat lahir batin, yang memiliki kepribadian dan akhlak yang terpuji. Manusia yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan tuhannya.

Bangsa Indonesia kini dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, memiliki banyak penyakit. Ekonomi nasional dalam keadaan berantakan dan kultur politik kacau balau karena ambisi merebut kekusaan yang tak terkontrol. Demokratisasi yang berhasil dibuka saat awal reformasi, kini justru berjalan mundur akibat praktik politik menghalalkan segala macam cara. Kepemimpinan nasional juga kurang efektif dan tidak berwibawa, akibat oligarki dan konspirasi antar elit negara.

Dengan menyadari manfaatkan puasa Ramadhan sebagai sarana perbaikan akhlak dan mental manusia, maka puasa Ramadhan tahun ini seharusnya dipakai untuk menjadi momentum melakukan introspeksi dan pertaubatan total menghentikan perilaku politik yang menghalalkan segala cara dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Juga untuk menghentikan perilaku monopoli, barbar dan rakus dalam bidang ekonomi.

Sudah waktunya menghentikan nafsu serakah dalam memenuhi ambisi mengelola sektor strategis, dan berusaha untuk bertindak adil dan berbagi dengan masyarakat yang masih dalam keadaan kekurangan. Sudah waktunya para pemimpin negeri ini, para penegak hukum untuk bertindak jujur, menjaga serta mengayomi rakyat. Hindari pula tindakan kriminalisasi kepada para aktifis oposisi dan lawan politik.

Puasa Ramadhan tahun ini, seharusnya menjadi momentum bagi negeri ini untuk secepatnya melakukan restorasi, yaitu memperbaiki dan menyehatkan kembali kondisi bangsa dari berbagai aspeknya. Kondisi ekonomi yang morat marit, akan kembali pulih jika semua elemen bangsa ini kembali mau menyadari untuk hidup kompak mengelola potensi ekonomi dengan baik, jujur, taat aturan dan penuh kebersamaan.

Begitu pula kondisi kultur politik yang menghalalkan segala cara untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan akan bisa dihentikan jika semua elemen bangsa mau menyadari tentang keharusan menjaga hati dan pikiran dari hal yang merugikan orang dan kelompok lain, dan dari perilaku yang melanggar aturan. Penegakan hukum juga akan berjalan adil, bijaksana, menyejukkan serta menenteramkan masyarakat jika para aparat penegak hukum menyadari tentang dosa menganiaya dan bersikap tidak adil.

Bagi para alim ulama dan tokoh agama, dalam momentum puasa Ramadhan tahun ini harus kembali bersatu memperkuat ukwah Islamiyah, ukhwah wathaniyah secara tulus. Hindari perpecahan dan perbedaan pendapat yang akan mengganggu kerukunan umat. Mereka harus kembali lagi pada fungsinya yang utama mengawal, mendidik umat dan menasihati para pemimpin negeri dengan tulus, setelah sebelumnya mereka sempat bercerai berai akibat terbawa arus deras politik praktis. Sehingga umat patuh dan taat aturan, yang kemudian akan menghantarkan pada kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik.

Dengan melaksanakan puasa Ramadhan yang khusyuk dan penuh penghayatan, para pemimpin negeri ini di berbagai kelompok dan tingkatan juga akan kembali menyadari untuk menjalakan tugas dengan amanah, memimpin dengan hati yang tulus dan mengayomi demi kesejahteraan rakyat dan membawa bangsa ini menuju negeri yang maju dan berkeadilan, negeri yang ‘’baldatun tayyibatun warabbun ghafur’’. Semoga! (*)

  • Penulis adalah wartawan DutaIndonesia.com dan Global News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.