Laporan Hj. Fatimah Angelia dari Hongkong: Arek Suroboyo Itu Sibuk Jadi Petugas Karantina Covid-19

oleh
Hj Siti Fatimah Angelia menunjukkan Al Quran kepada wartawan saat bertugas di Hung Shui Kiu Community Isolation Facility Hongkong.

Pandemi Covid-19 masih mengganas di Hongkong. Pemerintah Hongkong akhirnya membangun pusat karantina bagi pasien Covid-19 yang terus bertambah. Pusat karantina yang berada di pinggiran kota Hongkong dan sudah dihuni ribuan pasien ini bernama Hung Shui Kiu Community Isolation Facility. Yang menarik, ada satu WNI arek Suroboyo menjadi petugas di pusat karantina tersebut.

KESIBUKAN Hj Siti Fatimah Angelia sekarang bertambah. Sebelumnya, perempuan yang sudah lama tinggal di Hongkong bersama suaminya itu, selain menjadi aktivis sosial, juga menjadi satu-satunya WNI yang menjadi petugas memandikan jenazah di Happy Vally Muslim Cemetery Hongkong. Kini kesibukannya bertambah sejak Pemerintah Hongkong memintanya menjadi salah seorang petugas di pusat karantina Covid-19 Hung Shui Kiu Community Isolation Facility.

Saat ini ribuan pasien Covid-19 dirawat di tempat itu. Data terbaru pada Rabu 30 Maret 2022, ada 300 pekerja migran terkena Covid-19 ditampung di tempat tersebut. Dan paling banyak orang Indonesia atau PMI. “Sekitar 200 -an,” kata Fatimah kepada DutaIndonesia.com, Rabu siang.

Fatimah sudah dikontrak bekerja di tempat itu selama 2 bulan. Kehadirannya diharapkan membuat pasien asal Indonesia bisa lebih nyaman, bisa merasa seperti di rumah sendiri, dengan makanan ala Indonesia. Bagi yang muslim disediakan tempat sholat dan Al Quran untuk mengaji. Namun, ternyata, banyak di antara pasien PMI cerewet dan suka ngeyel, sehingga membuat Fatimah harus lebih bersabar lagi.

“Suka dukanya, ya itu, mereka suka ngeyel, sering tidak nyambung kalau ngomong, tapi saya harus telaten menghadapi mereka. Misalnya ada yang mual lalu minta makan nasi tapi terlambat jam makannya, lalu minta mi, minta roti. Ya sudah saya sediakan mi instan. Ada yang pusing gak mau kopi, minta ini itu. Ada yang mengaku gak bisa cuci baju minta laundry, malah mau bayar juga, tapi kan di sini tidak ada, dan tidak boleh. Dikira hotel saja. Aneh-aneh. Minta colokan ditambah. Omongannya tidak nyambung,” kata Fatimah.

Sebagai Ketua PCI Muslimat Nahdlatul Ulama (PCI MNU Hongkong-Macau Hj Siti Fatimah Angelia sudah biasa menghadapi PMI yang aneh-aneh tersebut. Karena itu arek Suroboyo yang sudah lama tinggal di Hongkong ini tidak heran. Dia harus bersabar mengingat tugasnya memang melayani mereka, khususnya dalam komunikasi dengan petugas yang semua orang Hongkong. Fatimah menjadi satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di pusat karantina Covid-19 tersebut.

“Sudah banyak PMI dikarantina di tempat ini. Saya sendiri sempat sakit dan belum sepenuhnya pulih, tapi karena ini permintaan Pemerintah Hongkong, saya mau bekerja di sini. Saya bekerja di sini juga membawa nama Muslimat NU sebab mereka tahu saya Ketua PCI Muslimat NU Hongkong-Macau yang sudah lama tinggal di Hongkong. Dan saya bukan PMI, sehingga bisa full bekerja. Muslimat NU juga sudah sering bekerjasama dengan Pemkot Hongkong. Saya bisa Bahasa Mandarin sehingga bisa menjadi penerjemah. Itu tugas saya di sini, selain menjadi semacam kepala di pusat karantina, yang untuk bagian pasien PMI ini,” kata Fatimah.

Tugas Hajah Fatimah juga menyiapkan segala yang diperlukan untuk pasien di ruangan isolasi bagi PMI. Untuk itu dia menyiapkan ruang sholat, menyediakan banyak Al Quran, juga keperluan makanan dan minuman. Hal itu penting sebab sekarang menjelang Bulan Ramadhan, sehingga pasien pun bisa menjalankan ibadah Ramadhan seperti salat tarawih dan lain-lain dengan khusyuk. “Pemerintah sendiri baik. Mereka menyediakan makanan halal sebab menganggap semua orang Indonesia muslim,” ujarnya.

Menurut Fatimah, sebenarnya para PMI itu sehat semua. Pasalnya, mereka tidak pernah keluar rumah. Kalau keluar rumah majikan, hanya saat libur Minggu saja. Bahkan, itu pun dia ke tempat-tempat tertentu, seperti ke Kantor Muslimat NU. “Justru majikannya yang keluyuran ke mana-mana. Jadi, para PMI itu sangat mungkin tertular dari majikannya,” katanya.

Sebagai pekerja di pusat karantina ini, Fatimah harus bekerja ekstra keras. Pertama, karena lokasinya cukup jauh dengan jarak tempuh sekitar dua jam perjalanan dengan bus kota. Lokasi pusat karantina ini ada di pinggiran Hongkong. “Seperti hari ini Rabu (30/3/2022), saya shif siang masuk jam 1, saya berangkat dari rumah jam 10,” katanya.

Para pekerja bekerja bergantian dalam tiga shif, dengan disiplin yang ketat. Misalnya, jam kerja dimulai pukul 09.00, semua pekerja harus sudah siap pukul 08.30. “Bila shif pagi, jam 09.00 sampai jam 05.00 sore. Bila shif siang, jam 01.00 sampai jam 10.00 malam. Lha ini kalau pulang jam 10.00 malam, saya sampai di rumah jam 12.00 malam, kadang lebih. Cukup berat, tapi ini permintaan pemerintah, sehingga saya mau saja bekerja di sini. Apalagi di sini banyak anak PMI. Alhamdulillah masih bisa membantu mereka,” katanya.

Dirawat 7 Hari

Para pasien tinggal di lokasi itu selama tujuh hari. Bila sudah sembuh mereka boleh pulang. “Bila semakin parah dibawa ke rumah sakit,” katanya.

Di sela-sela kunjungan pejabat Hongkong Senin lalu, Fatimah sempat diwawancarai sejumlah media massa setempat. Tampak Fatimah dengan memakai baju dan pin Muslimat NU menjelaskan kondisi di ruangan isolasi untuk pasien dari kalangan PMI. Termasuk permintaannya kepada pemerintah Hongkong agar disediakan ruangan khusus untuk sholat bagi pasien muslim. Dia juga menunjukkan ruang sholat, Al Quran yang ditata rapi, ruang tidur, dan memperagakan gerakan sholat di hadapan para wartawan.

Kondisi Covid-19 di Hongkong masih mengkhawatirkan, apalagi menjelang perayaan hari besar. Dikutip dari beritaindonesia.hk, Penasihat medis pemerintah David Hui menyatakan kekhawatirannya terhadap resiko pertemuan publik selama Festival Ching Ming dan liburan Paskah yang akan datang, karena jika tidak mematuhi protokol kesehatan bisa menyebabkan penularan virus Corona.

Hui juga mengatakan epidemi perlahan mereda, tetapi angka infeksi harian tetap tinggi, sehingga jika masyarakat tidak bisa menahan diri selama Ching Ming minggu depan dikhawatirkan wabah akan meningkat lagi. “Beberapa orang di komunitas mungkin telah terinfeksi, tetapi mereka mungkin tidak mengetahuinya karena mereka memiliki gejala ringan atau tanpa gejala. Pertemuan keluarga selama Tahun Baru Imlek sebelumnya juga sudah terlihat masalah yang sama. Jika lebih banyak keluarga berkumpul, maka risiko wabah akan tinggi. Saya pikir orang-orang harus menyapu makam pada hari-hari yang berbeda… dan orang-orang juga dapat pergi pada akhir pekan,” katanya.

Sementara itu, profesor Universitas China itu mengatakan latihan tes darah antibodi skala besar dapat dilakukan saat gelombang Covid ini berakhir, untuk mengukur jumlah infeksi sebenarnya di Hongkong. Pada hari Senin, Kepala Eksekutif Carrie Lam mengatakan jumlah total orang yang terinfeksi di kota itu mungkin jauh lebih tinggi daripada satu juta kasus yang dicatat oleh pemerintah, dan tingkat kematian saat ini yang dilaporkan oleh pihak berwenang mungkin terlalu tinggi.

Sementara ahli mikrobiologi Universitas Hong Kong Ho Pak-leung mengatakan pihak berwenang sekarang harus fokus pada peningkatan vaksinasi, memperkuat dukungan untuk rumah sakit umum dan memastikan bahwa obat antivirus oral Covid didistribusikan dengan benar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.