Ramadlan Karim (1): Jangan Salah Niat!

oleh

Oleh Nur Fakih

SETIDAKNYA ada dua dimensi dalam memaknai pahala bulan Ramadlan. Pertama pahala yang diberikan karena kita menjalankan perintah berpuasa Ramadlan dan yang kedua, pahala yang diberikan karena kita menjalankan kebaikan selama bulan Ramadlan. 

Kedua bentuk pahala itu bisa direngkuh langsung oleh orang beriman karena menjalankan ibadah puasa sekaligus berkelakuan baik pada bulan Ramadlan. Ada juga pahala kebaikan bulan Ramadlan itu hanya diraih orang yang beriman tetapi tidak sedang menjalankan ibadah puasa. 

Orang sakit, para musafir dan wanita yang sedang diberi keringanan untuk tidak berpuasa Ramadlan tetap diberi kesempatan oleh Allah untuk mendapatkan pahala.  Sekecil dan seringan apapun kebaikan yang dikerjakan akan diberi pahala sebagaimana yang berlaku pada bulan Ramadlan. 

Malam lailatul qadar atau malam yang lebih baik dari seribu malam atas izin Allah SWT bisa diraih oleh orang-orang yang sedang sakit dan atau orang-orang mukmin yang berstatus musafir. Pun begitu untuk wanita-wanita yang diberi dispensasi untuk tidak berpuasa Ramadlan. 

Dalam surah al Baqoroh ayat 183 Allah berfirman, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Menjadi muttaqin adalah prestasi yang diraih melalui proses. Menjadi orang bertakwa bukanlah given. Berpuasa adalah wasilah atau media yang tepat untuk menjadi hamba-hamba yang bertaqwa. 

Pemberian Allah kepada orang- orang beriman yang berpuasa dijelaskan dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946:

 عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’

Pertanyaannya adalah mengapa pahala puasa Ramadlan dirahasiakan Allah? Dalam banyak pendapat, seperti yang disampaikan Prof. Dr. Qurais Syihab disebutkan bahwa berpuasa Ramadlan itu untuk menguji keihlasan orang beriman. Artinya jangan hanya karena pahalanya sangat besar muncul riya’ berpuasa. 

Lebih-kebih dalam kehidupan serba materialis ini, banyak orang beriman salah niat puasa Ramadlan. Dipikir puasa itu bisa menjadikan badan sehat, dapat membentuk tubuh yang ideal, dapat membentuk keluarga samawa, dapat hidup sederhana ekonomis dan lainnya. Bukan itu tujuannya, tetapi itu semua adalah ikutan dari kewajiban menjalankan ibadah puasa. Hakekat berpuasa itu sebenarnya untuk Allah not the other. Percayalah Allah tidak akan mengingkari janjiNya. (*)