Tarawih di Masjid Wali (3): Di Sini 10 Tahun Lalu

oleh

Oleh Nur Fakih

BULAN Ramadhan sepuluh tahun lalu. Angin spiritual berbisik kencang untuk menziarahi makam Sunan Giri sekaligus melaksanakan salat tarawih di masjid Ainul Yaqin. Sesekali sampai larut malam larut mengikuti peziarah yang datang berdzikir, menderes Qur’an serta berdoa untuk para mujahidin penghuni kompleks makam di Dusun Giri Deda, Kebomas, Gresik.

Lima belas tahun setelah anak pertama lahir, baru kemudian Allah SWT menganugerahkan seorang anak laki-laki bernama Ataka Syakura Ibna Tursina. Terjemahan bebasnya, telah datang kepadamu seorang anak laki-laki dari negeri Tursina yang selalu bersyukur. Sampai saat ini atau 10 tahun kemudian, anak itu belum pernah sekali pun saya ajak berziarah ke tempat yang dulu pernah ikut berproses menghadirkannya di dalam keluarga besar kami.

Semalam, ingin sekali sebanyak-banyaknya berdzikir, sekaligus sebagai usaha melepaskan lelah setelah mengikuti salat Tarawih yang durasinya tidak cocok untuk pemilik dengkul koplak seperti saya ini. Namun, karena penerapan prokes covid-19 semua jamaah diminta segera bergeser ke teras masjid dan saya pun tidak sempat klangenan seperti yang dulu-dulu.

Padahal masjid Ainul Yaqin ini paling disenangi sebagai tempat yang nyaman bertafakur dan berdzikir. Letaknya di puncak bukit Giri, jauh dari deru mesin dan keramaian. Jika saja jendela-jendela depan salat itu dibuka, mata akan memandang bebas alam Giri. Hati yang terus mengering spiritualnya itu akan diantarkan masuk kembali dalam ruang ruhani yang penuh rahmat.

Masjid ini dibangun oleh Sunan Giri di atas bukit Kedathon. Kemudian dipugar dan dipindahkan lokasinya oleh Nyi Ageng Kabunan mendekati makam Sunan Giri pada tahun 1544. Banyak bangunan dan ornament masjid yang dipengaruhi Hindu, seperti gapura pintu masuk, ornamen buah nanas dan bunga terate. Bentuk ukiran naga dan singa yang menjadi trademark bangunan Sunan Giri tidak ditemukan di dalam masjid.

Sunan Giri, waliyullah yang sering disebut dengan Joko Samudra, Raden Paku, Ainul Yaqin, dan Prabu Satmoto. Cerita menakjubkan mulai dari lahir sampai menjadi tokoh utama walisongo sering disematkan pada penguasa Giri Kedathon ini. Kisah romantisme menghiasai masa-masa kelahirannya, remajanya dan saat menjelang dewasa. Dan posisinya di jajaran walisongo semakin dihormati karena kemampuannya mengatur strategi perang dan politik.

Meski mengalami beberapa kali perbaikan, aura wali masih bertebaran di dalam maupun di luar masjid. Setiap melakukan ritual salat, cahaya ilahi memancar melalui jalan lurus menuju titik abadi yang di sanalah semua yang fana akan dikembalikan. (*

  • Penulis adalah Takmir Masjid Agung Malik Ibrahim Gresik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.