Hongkong Mencekam, Mayat Antre Menumpuk, Pemerintah Bagi-bagi Paket Kesehatan

oleh


HONGKONG|DutaIndonesia.com –  Suasana duka merayapi sekujur warga Kota Hongkong setelah angka kematian semakin meningkat akibat Covid-19. Namun demikian Pemerintah yang kewalahan menghadapi gelombang kelima Covid-19 tetap memperhatikan kebutuhan warganya untuk menjaga kesehatan.

Pemerintah membagikan paket kesehatan berisi alat tes antigen dan lain lain  ke rumah rumah warga. Semua warga diimbau tes antigen.

“Paket kesehatan dikirim ke rumah, tinggal mengambil dan tanda tangan saja sebagai bukti telah mengambil. Hongkong sangat bersedih sebab Covid-19 masih mengganas, bersyukur di Indonesia covidnya mulai mereda. Tapi harus tetap taat prokes ya,” kata Hj. Siti Fatimah Angelia, Ketua PCI Muslimat NU Hongkong Macau kepada DutaIndonesia.com, Kamis 8 April 2022.

Paket kesehatan diantar ke rumah warga.

Hajah Fatimah yang bekerja di pemulasaran jenazah Happy Valley, kini juga bekerja di pusat karantina Covid-19. Dia mengatakan, banyak pekerja migran Indonesia dirawat di pusat karantina tersebut. “Ada 200 pasien PMI,” katanya.

Saat ini peti mati kayu tradisional hampir habis di Hongkong ketika pihak berwenang berupaya untuk menambah ruang di kamar mayat di saat pusat keuangan global itu dihantam gelombang kelima Covid-19. Kondisi ini membuat rumah duka kebanjiran jenazah.

“Saya belum pernah melihat begitu banyak mayat ditumpuk bersama-sama,” kata Lok Chung, (37) seorang direktur pemakaman. Chung telah bekerja sepanjang waktu, menyelenggarakan sekira 40 pemakaman sepanjang Maret, naik lebih dua kali lipat dari rata-rata 15 pemakaman dalam satu bulan.

“Saya belum pernah melihat anggota keluarga begitu sedih, sangat kecewa, sangat tidak berdaya,” kata Chung kepada Reuters dikutip okezone.com.

Sejak gelombang kelima virus corona menghantam Hongkong, kota itu telah melaporkan lebih dari satu juta infeksi dan lebih dari 8.000 kematian.

Pemandangan mayat yang ditumpuk di ruang gawat darurat di sebelah pasien telah mengejutkan banyak orang. Ini terjadi karena tempat-tempat di kamar mayat telah terisi penuh.

Chung menambahkan bahwa antrean panjang untuk memproses dokumen kematian telah menghambat pekerjaannya. Dia mengatakan bahwa klien korban Covid-19 terbarunya, keluarga seorang wanita yang meninggal pada 1 Maret, masih menunggu surat-surat untuk memungkinkan mereka mengklaim jenazah almarhum.

Hongkong juga kekurangan replika kertas tradisional dari barang-barang, dari mobil hingga rumah dan barang-barang pribadi lainnya, yang dibakar sebagai persembahan di pemakaman Tiongkok untuk digunakan orang mati di akhirat.

Sebagian besar keterlambatan disebabkan oleh kemacetan transportasi dari kota tetangga di China selatan, Shenzhen, yang memasok banyak barang, tetapi sekarang mereka juga tengah memerangi wabah Covid-19-nya sendiri.

Perbatasan dengan Hongkong sebagian besar ditutup karena penyakit itu.

“Infeksi di antara staf di rumah duka juga menimbulkan tantangan yang signifikan, kata direktur pemakaman lainnya, Hades Chan, (31).
“Hampir seperempat orang tidak bisa bekerja. Jadi, beberapa panti harus mengumpulkan staf di antara mereka sendiri untuk tetap bekerja.”

Pejabat makanan dan Kebersihan Hong Kong Irene Young mengatakan bahwa China memasok lebih dari 95% dari 250 hingga 300 peti mati yang dibutuhkan kota itu. Ia menerima lebih dari 3.570 peti mati selama periode 14-26 Maret, setelah pemerintah Hong Kong berkoordinasi dengan otoritas Chna daratan.

Enam krematorium sekarang dijalankan hampir sepanjang waktu oleh departemen Young melakukan hampir 300 kremasi sehari, atau dua kali lipat dari biasanya.

Dan kamar mayat umum telah diperluas untuk menampung 4.600 mayat dari 1.350 sebelumnya, kata pihak berwenang.

Organisasi non-pemerintah Forget Thee Not telah bermitra dengan pembuat peti mati ramah lingkungan, LifeArt Asia, untuk menyumbangkan 300 peti mati tersebut dan 1.000 kotak pengawet ke enam rumah sakit umum. (gas/okz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.