Pulau Bawean yang Semakin Indah di Bulan Ramadhan dan Idul Fitri (1) : Berbuka Menu Serba Laut Sambil Memandang Cakrawala Nan Memesona

oleh
Zainal Abidin SE dalam perjalanan mudik ke Pulau Bawean dengan Kapal Bahari Express, Sabtu (30/4/2022).

Mengunjungi Pulau Bawean seakan berwisata ke surga yang tersembunyi di balik keriuhan pembangunan di wilayah Jawa Timur. Betapa tidak, daerah berjuluk Pulau Putri ini menyimpan keindahan yang menakjubkan. Pulau Bawean layak menjadi wisata prioritas di wilayah Jatim.

Oleh Gatot Susanto

SALAH seorang pengusaha asal Pulau Bawean, Zainal Abidin SE, tengah menggagas usaha rintisan untuk mengembangkan Pulau Putri agar menjadi wisata prioritas di Jatim. Direktur Utama PT Andromeda Atria Wisata (biro haji dan umrah Atria Tour & Travel) di Surabaya ini pernah berencana membuat event Gowes Keliling Bawean dengan menggandeng komunitas gowes di Jatim. Tujuannya untuk menggairahkan wisata di pulau nan indah ini.

“Pulau Bawean layak dijadikan wisata prioritas sebab secara geografis letaknya cukup jauh dari Pulau Jawa dan Kalimantan. Bahkan Madura. Maksud saya, saat wisatawan berdiri di tepi pantainya, sekelililng Pulau Bawean, sejauh mata memandang, hanya melihat cakrawala di kaki langit sahaja,” kata Zainal Abidin kepada DutaIndonesia.com dan DutaJatim.com di tengah perjalanan mudik ke kampung halamannya menumpang Kapal Bahari Express, Sabtu 30 April 2022 .

Video perjalanan menuju Pulau Putri Bawean.

Zainal yakin, para wisatawan akan merasa damai dan tenteram hatinya saat memandang langit berselendang cakrawala. Apalagi di bulan Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri, suasana sangat syahdu dengan aktivitas penduduknya yang semuanya muslim.

“Masyarakat Bawean itu satu aqidah seiman seagama. Adalah tugas kita bersama untuk menjadi ummat yang muttakin,” katanya.

Warga Pulau Bawean sebagian besar perantau. Mereka menjadi diaspora Indonesia di berbagai negara. Sebagian besar sukses di negara keduanya itu. Sukses menjadi pengusaha. Bahkan di sejumlah negara ada kampung bernama kampung Bawean, seperti di Singapura dan Malaysia, hingga Australia.

Bahkan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong memuji warga Boyan atau Bawean saat memberikan sambutan dalam suatu acara. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dikenal dekat dengan ulama asal Pulau Bawean. Salah satunya bernama Haji Buang bin Masadin. Pernah tahun 2000 saat Haji Buang berulang tahun, Lee Hsien Loong yang saat itu belum PM, juga menghadiri acara ultah sang Ulama tersebut.

Namun, meski sudah eksis di negara keduanya, diaspora asal Bawean tidak pernah lupa akan tanah kelahirannya di Pulau Bawean, sehingga setiap lebaran Idul Fitri, warga Bawean yang mengelana di berbagai negara itu mudik ke kampung halamannya untuk menikmati Lebaran bersama keluarga.

Menurut Zainal Abidin, mereka merupakan potensi besar yang sangat berharga untuk membangun Pulau Bawean agar semakin maju. Apalagi Pulau Bawean memiliki lumbung sumber daya alam yang sangat cukup untuk mensejahterakan penduduknya, yaitu hamparan laut yang bersih dari limbah pabrik sehingga berbagai jenis ikan bisa hidup berkembang riang mengikuti musim dan arus laut yang ada.

“Sangat natural sekali. Mestinya ini sebagai anugerah ilahi yang patut disyukuri oleh orang-orang Bawean. Rasanya, saat memerlukan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan atau pun pendidikan anak-anak, orang Bawean, saya pikir, cukup melaut saja. Tapi sayang suasana seperti ini jarang lagi terlihat seperti masa kecil saya dulu. Mereka lebih gemar merantau ke negeri seberang. Seperti Malaysia, Singapore dan Australia. Padahal, mestinya tidak harus semua ke negeri orang, harus ada beberapa orang yang tetap tinggal untuk memikirkan kemajuan Pulau Bawean, sehingga saat mudik ada yang kerasan untuk hidup di tanah kelahirannya, alias tidak balik merantau lagi,” katanya.

Zainal membayangkan kekayaan laut yang melimpah itu bisa dikelola dan dijaga oleh putra Bawean sendiri. Bukan hanya ikan-ikan, masih banyak isi perut laut sekitar Bawean yang bisa dieksplorasi dan dieksploitasi secara terkontrol untuk kesejahteraan masyarakat.

“Bayangan dan harapan saya, bisakah ekonomi masyarakat Bawean cukup ditopang oleh lautnya dengan ikan-ikan yang ada di dalamnya? Sehingga ketika butuh uang penduduknya tinggal melempar kail dan jala atau jaring sebagaimana nyanyian Koes Plus itu, ya? Jawabnya, pasti bisa. Apalagi setelah saya baca surat Al-A’raf (ayat 96) dalam Al Quran,” kata Zainal Abidin.

Surat Al A’raf ayat 96 itu mengabarkan karunia Allah SWT kepada umat manusia yang beriman dan bertakwa. Namun sebaliknya, Allah memberikan siksa bagi manusia yang mendustakan ayat-ayat Illahi Rabbi tersebut.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

“Sekali lagi, masyarakat Bawean itu satu aqidah seiman seagama. Adalah tugas kita bersama untuk menjadi ummat yang muttakin,” katanya lagi.

Kuliner Pulau Bawean

Menikmati senja Ramadhan di Pulau Bawean. (Foto: FB Arini Jauharoh)

Kekayaan laut Pulau Bawean langsung bisa dinikmati dalam sajian kuliner. Sebab banyak kulineran dari ikan-ikanan, dan jajanan berbahan dasar ikan laut. Tidak terlalu sulit mencari kuliner ini. Bahkan, bila Anda ingin mencarinya sambil jalan-jalan keliling pulau pun sangat mudah ditemukan. Sebab pulaunya kecil, hanya 196.3 km. Jika Anda memberi tanda start lalu akan berkeliling naik kendaraan dari suatu titik akan muter kembali ke situ, bertemu dari pinggiran laut yang satu ke pinggiran laut yang lain.

Pulau Bawean berada di tengah Laut Jawa atau sekitar 150 km dari Surabaya. Masuk wilayah Kabupaten Gresik. Sudah dipastikan mata pencaharian utama penduduk di sana adalah nelayan.

Tiba di Pulau ini siang hari, lalu pada saat buka puasa dengan menu di penginapan adalah makanan berbahan hasil laut lautan. Bertemu awal adalah lobster gedenya sak kepalan tangan dewasa.

“Masih heran dengan sajian lobster yang disajikan, sehingga saya kalap habis 3. Mumpung di Bawean dipuas-puasin makan lobster . Kalo di Jawa harganya selangit. Eh, pas sahur ketemu lobster lagi. Besoknya sahur dan buka bertemu lobster lagi. Suwe-suwe lha kok mesti ada lobster. Tinggal nunggu cenut-cenutnya. Tapi alhamdulillah nggak datang cenut-cenut pertanda koles,” kata Arini.

Tak menyiakan di sana, dia pun beranjak dari malas sehabis Subuh. Belanja ke pasar tradisional, melihat jajanan khas apa yang dijual di pasar. Belanja ke pasar Subuh. Meski namanya Pasar Subuh, saat kami habis Subuh ke sana, ternyata belum buka. “Kami pakai semangat pagi berkeliling di seputaran ibu kota Kecamatan Sangkapura. Kami menuju pelabuhan ikan, yang di sampingnya berdiri PLTG ( Pembangkit Listrik Tenaga Gas), untuk menghidupi penerangan penduduk Bawean. Sembari melihat matahari terbit dan nelayan mencari ikan,” katanya.

Akhirnya kami balik ke pasar lagi berburu ciri khas kuliner kue Bawean. Ada makanan mirip empek-empek namanya koncok-koncok, katanya ini makanan adopsi dari Malaysia. Lalu martabak kentang, yang dalamnya dibuat dari kentang. Selain itu juga ada camilan namanya posot-posot. Semua bernuansa rasa ikan.

Untuk minuman, karena di sana banyak pohon kelapa dan nira, ciri khasnya adalah nira, dibuat sebagai bahan untuk gula aren. Segar dicampur kelapa muda untuk buka puasa sambil memandang cakrawala.
Yang tak kalah menarik ada rusa Bawean. Rusa bawean adalah sejenis rusa yang saat ini hanya ditemukan di Pulau Bawean. Spesies ini tergolong langka dan diklasifikasikan sebagai “terancam punah” dilindungi secara nasional dan internasional.

Rusa Bawean adalah satwa endemik, aktif malam hari. Biasanya bergerak mulai pukul 17.00 hingga 21.00 WIB. Rusa ini sangat hati-hati dengan kehadiran manusia, sehingga banyak menghabiskan waktu di hutan dan lereng-lereng curam.

“Maka ketika kami bertandang ke sana, hanya ada 2 rusa yang nampak. Untung saja ada yang keluar, seakan menghibur kami yang datang jauh-jauh, agar tak kecewa. Sehingga kami nggak sia-sia melihat penangkaran rusa dan melihat rusa dari dekat. Karena tempatnya di hutan, meski tak banyak rusa yang nongol, pemandangan sekitar yang indah sangat menghibur. Pada Asian Games 2018, kita mengenal Atung, salah satu maskot ajang olahraga yang berwujud rusa. Itulah rusa Bawean. Rusa Bawean terkenal dengan kecepatannya berlari, maka ia dipilih sebagai maskot kecepatan. (Nah, tunggu apa lagi) Ayo ke Bawean!,” ajaknya. (*)
.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.