Ibrahim AS dan Komunitas (Part 4)

oleh
Imam Shamsi Ali (Foto: CNNIndonesia)

Oleh Imam Shamsi Ali* 

IBRAHIM AS memang diutus bukan untuk Makkah. Melainkan untuk tanah Syam dan sekitarnya. Karenanya Ibrahim harus meninggalkan anak-isterinya (Ismail dan Hajar) di lembah yang dalam benak manusia tidak menjanjikan.

Gunung bebatuan, padang pasir, dan pastinya berbagai binatang buas yang mengancam kehidupan Hajar dan putranya Ismail AS. 

Sebelum dengan berat hati meninggalkan kota tua itu, dari balik sebuah gunung Ibrahim AS berhenti sejenak, menengadahkan tangannya ke langit seraya bermunajat, meminta beberapa hal kepada Allah SWT. 

Pertama, meminta kiranya Allah menjadikan “sebagian manusia” jatuh hati kepada kota itu. “Waj’al af-ifadatan minan naas tahwi ilaihim”, demikian firmanNya. 

Dengan doa inilah Allah membuka jalan bagi banyak orang untuk berkeinginan tinggal di Kota Makkah ini. Tentu ada yang bermotivasi dunia, seperti untuk pekerjaan dan niaga. Tapi motif terutama dari “tahwi” (dari kata hawaa atau keinginan/desire) ini adalah dorongan nilai (value) yang Allah berikan kepada kota ini. 

Terlepas dari sejarah Perjalanan orang-orang luar datang ke kota itu, yang konon kabarnya dimulai oleh kabilah Jurhum dari kawasan Yaman tua, saya justeru lebih tertarik menggali makna dari doa Ibrahim ini. Kenapa justeru berdoa agar Allah menjadikan manusia jatuh hati kepada kota itu? Kenapa justeru bukan meminta “penjagaan” Allah untuk keluarganya? 

Ada beberapa makna penting dari doa ini. 

1) Bahwa Ibrahim selalu mengedepankan kepentingan umum dan masa depan dakwah. Bahkan melebihi kepentingan diri dan keluarganya. Mengajarkan bahwa dalam perjuangan ini terkadang kepentingan sempit pribadi dan keluarga bukan menjadi pertimbangan utama. 

2) Dan ini yang lebih penting. Bahwa dengan doa ini Ibrahim AS terbukti memiliki pandangan masa depan yang besar dan jauh. Sebuah Wawasan yang melihat bahwa Makkah akan menjadi kota besar di kemudian hari. Bahkan tidak mengejutkan jika kota ini belakangan lebih dikenal dengan “Ummul Qura”(penghulu negeri). Sebuah Wawasan yang harusnya dimiliki oleh para da’i khususnya. 

3) Doa Ibrahim ini juga terbukti di kemudian hari ketika jutaan manusia yang dipilih Allah untuk jatuh hati untuk mengunjungi kota itu. Setiap insan Mukmin akan bermimpi berkunjung ke tempat ini. Bahkan tidak mengherankan jika ada seorang Muslim yang sholatnya tidak konsisten, tapi ingin suatu ketika mengunjungi kota ini. 

Kedua, doa kedua Ibrahim adalah kiranya Allah memberikan rezeki berupa buah-buahan kepada kota ini. Tentu timbul pertanyaan di benak kita. Kenapa buah-buahan di sebuah daerah/kota yang tidak ada air? Pegunungan batu dan gurun pasir yang kering. Dari mana logika akan datangnya buah-buahan itu? 


Di sini Ibrahim AS kembali ingin membuktikan Kuasa Allah. Bahwa dengan Kuasa Allah tidak ada yang mustahil. Buah-buahan yang diminta pastinya akan terwujud dengan cara Allah yang kerap di luar nalar biasa manusia. 

Tapi makna terpenting dari doa ini adalah bahwa dengan hadirnya orang-orang bertempat tinggal di kota ini Ibrahim tidak menginginkan mereka menjadi orang-orang yang papah dan miskin. Ibrahim memiliki wawasan kemajuan. Bahwa masyarakat ideal di sebuah negeri itu adalah masyarakat yang secara ekonomi mampu dan makmur. 

Hal ini tentunya menjadi pelajaran penting juga bahwa dalam pandangan Islam, Komunitas atau masyarakat yang dibangun itu harus kuat secara ekonomi. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah di Madinah dengan membeli pasar itu dari masyarakat Yahudi. 

Hanya dengan perekonomian yang kuat Komunitas Muslim akan kuat. Kuat secara politik, militer, bahkan menguasai media dan dunia. Salah satu hal yang kita bisa pelajari dari Komunitas Yahudi dunia. 

Ketiga, dari semua doa itu, doa terpenting yang Ibrahim panjatkan adalah doa agar kelak Allah mengutus seorang rasul kepada bangsa ini. Doa ini memiliki makna-makna yang luar biasa untuk menjadi pelajaran bagi Umat ini. 


1) Sekali kali doa ini memaknai Wawasan Ibrahim yang besar dan jauh ke depan. Cara pandang tentang kehidupan dan perjuangan yang harusnya dimiliki oleh kita semua. Bahwa hidup ini bukan hari ini dan untuk kita semata. Tapi untuk masa depan yang jauh dan generasi kita, bahkan peradaban dunia itu sendiri. 


2) Ibrahim sadar bahwa kemakmuran dunia (tsamarat) seperti yang dipinta sebelumnya tidak akan maksimal bagi kehidupan tanpa “petunjuk” (hidayah) bagi manusia. Dan karenanya hadirnya seorang rasul menjadi jalan petunjuk bagi manusia. Dengan doa ini Ibrahim ingin menyatakan bahwa Dunia tanpa agama itu tak bermakna. 

Doa Ibrahim AS inilah yang kemudian terbukti berabad-berabad kemudian dengan diutusnya Rasulullah, Muhammad SAW. Seorang Rasul yang ternyata menjadi “sayyidul mursaliin” (penghulu para rasul dan nabi). Sekaligus “khatamun nabiyyin” (penutup semua nabi). 

Dengan semua doa-doa di atas sekaligus mengajarkan bahwa Ibrahim memang bukan sekedar nabi yang telah hadir menyampaikan wahyu semata. Tapi sekaligus hadir untuk mewujudkan “Komunitas” atau Umat yang besar.

Dan karenanya wajar jika Ibrahim pada dirinya, pada pikiran dan misinya adalah ummah (komunitas/bangsa) (Bersambung)


* Presiden Nusantara Foundation

No More Posts Available.

No more pages to load.