Menyambut Debat Capres Kelima: Pentingnya Menyoal Teknologi Informasi dari Perspektif Cip Semikonduktor

oleh
Gus Oding Jerman
Muhammad Rodlin Billah (Gus Oding).Foto:bangkitmedia.com

Oleh Muhammad Rodlin Billah (Gus Oding)

(Peminat bidang Optik dan Fotonik, Ketua Tanfidziyah PCI NU Jerman)

Setiap perangkat elektronik di masa modern, baik komputer, jejaring komunikasi, sistem otomotif, telepon genggam, bahkan mesin cuci, semuanya membutuhkan satu komponen  penting: cip semikonduktor. Indonesia harus lebih meningkatkan lagi perannya dalam industri ini. Dan tiga capres-cawapres perlu pula mendiskusikan dan mendebatkan masalah yang menjadi “energi baru” menuju kedaulatan teknologi tersebut.

CIP semikonduktor dalam perangkat ini biasanya berfungsi sebagai memori atau prosesor; mereka merupakan teknologi fundamental dan tulang punggung komunikasi masyarakat modern. Ditambah lagi, era Industrie 4.0 meniscayakan keterhubungan berbagai peralatan elektronik/digital untuk bertukar informasi/data maupun komunikasi dengan/antar penggunanya kapan pun dan di mana pun berada. Tanpa keberadaan cip semikonduktor, teknologi informasi tak akan berkembang sejauh yang kita amati hari ini.

Kompleksnya value chain cip semikonduktor

Sejauh ini, value chain cip semikonduktor ditentukan hanya oleh segelintir pemain utama: Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Uni Eropa, Singapura, dan Tiongkok yang terus meningkatkan kapasitas produksi dan teknologinya. Menurut organisasi lobi semikonduktor SEMI, dari seluruh produksi cip semikonduktor berukuran wafer 300 mm yang diproduksi sepanjang tahun 2022, sekitar 70 persennya berasal dari Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok, kemudian dari Jepang dan Amerika yang memiliki pangsa pasar sebesar 13 persen (lihat gambar 1).

Gus Oding Jerman cip semikonduktor


Gambar 1: Menurut organisasi lobi semikonduktor SEMI, sekitar 70 persen dari total kapasitas produksi cip semikonduktor dengan ukuran wafer 300 mm berada di Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok, dengan Amerika berada di peringkat kelima setelah Jepang, yang memiliki pangsa pasar sebesar 13 persen pada tahun 2022.

Dari gambaran tersebut, nyata terlihat bila tidak ada satu pun negara/wilayah yang menguasai seluruh rangkaian produksi di wilayahnya sendiri, sehingga tidak ada wilayah yang mencapai “otonomi strategis”, “kedaulatan teknologi”, atau “swasembada” dalam semikonduktor. Sebab utamanya karena kompleksnya ketiga tahap pembuatan cip semikonduktor, dimulai dari proses desain, kemudian fabrikasi, hingga perakitan. Selain itu, fokus aplikasi/teknologi, misalnya untuk digunakan sebagai memori atau
prosesor, juga perlu dipertimbangkan sejak awal.

Kerumitan ini semakin meningkat bila pertanyaan mengenai bagaimana memiliki sebuah memori atau prosesor yang lebih cepat, lebih murah, serta lebih hemat energi turut dipertimbangkan. Jawaban dari pertanyaan demikian sesungguhnya bermuara pada tiga hal:

(1) Bagaimana membuat cip semikonduktor lebih terintegrasi agar memiliki berbagai fungsi dengan efisiensi yang tinggi,

(2) Bagaimana menurunkan biaya produksi, dan

(3) Bagaimana membuat cip semikonduktor dengan dimensi yang jauh lebih kecil.

Salah satu jalan krusial yang saat ini sedang ditempuh oleh berbagai pihak untuk memenuhi ketiga hal ini ialah dengan menggeser pelan-pelan sistem elektronik menuju sistem fotonik.

Oleh karena itu, banyak perusahaan semikonduktor memfokuskan diri pada beberapa proses maupun aplikasi/teknologi tertentu demi efisiensi ekonomi. Dengan demikian, value chain cip semikonduktor ini dicirikan dengan adanya saling ketergantungan yang mendalam, pembagian serta lalu lintas kerja yang padat, dan kolaborasi/riset yang erat di seluruh proses produksi.

Misalnya saja, perusahaan-perusahaan semikonduktor AS mengandalkan fabrikasi cip dari perusahan Taiwan, sementara fabrikasi di Taiwan sendiri mengandalkan peralatan, bahan kimia, dan wafer silikon dari AS, Eropa, dan Jepang.

No More Posts Available.

No more pages to load.