Interfaith dan Islamophobia (Tamat)

oleh
Imam Shamsi Ali (Foto: CNNIndonesia)

Oleh Imam Shamsi Ali*

TIDAK dapat disangkal bahwa kegiatan interfaith dapat berujung ganda. Berujung madu atau berujung racun. Kegiatan ini, sebagaimana media sosial misalnya, bisa membawa manfaat besar. Atau sebaliknya mendatangkan mudhorat yang tidak disangka-sangka.

Itulah barangkali yang menjadi pertimbangan Rasulullah SAW ketika Beliau melarang sahabat-sahabatnya membaca Kitab Suci orang lain di awal kerisalahan. Pastinya ada pertimbangan mudhorat saat itu.

Belakangan Beliau justru menugasi sebagian sahabat, salah satunya Abdullah bin Salam, untuk mendalami Kitab Taurat. Kebetulan memang latar belakang beliau pernah beragama Yahudi.

Pelarangan dan/atau di sisi lain penugasan (perintah) ini menunjukkan adanya realita mudhorat dan manfaat dalam mempelajari kitab suci orang lain. Maka secara langsung atau tidak juga demikian dalam berinteraksi dengan penganut agama lain. Tentu kedua sisi ini harus masuk dalam konsideran kita semua.

Secara umum sebenarnya saya sering sampaikan bahwa kita yang berada di jalan Dakwah ini menghadapi dua kemungkinan. Menghadapi kemungkinan tantangan dan sebaliknya menghadapi kemungkinan godaan. Keduanya dapat menjadi lubang kejatuhan bagi da’i di jalannya.

Baca Berita Terkait: Interfaith dan Islamophobia (1)

Pada bagian lalu saya telah sampaikan beberapa manfaat dari kegiatan interfaith. Dari Interfaith sebagai jalan realisasi rahmah Islam. Hingga kepada pembuktian terbalik dari berbagai tuduhan buruk terhadap Islam.

Baca Berita Terkait: Interfaith dan Islamophobia (2)

Adapun mudhoratnya tentu akan lebih banyak ditentukan oleh bagaimana cara pandang pelaku interfaith. Dengan interfaith seseorang boleh saja terperangkap dalam pemahaman “unifikasi” atau penyatuan agama-agama. Dengan kata lain interfaith mengantarnya kepada pemahaman jika semua agama itu sama.

Baca Berita Terkait: Interfaith dan Islamophobia (3)

Sesungguhnya kekhawatiran sebagian orang dan hal itu memang valid. Sebab memang ada pelaku Interfaith yang kemudian hanyut atau terwarnai pemikiran unifikasi agama-agama itu. Padahal tanpa disadari cara pandang seperti itu dengan sendirinya meremehkan makna keragaman (diversity) yang dijunjung tinggi.

Baca Berita Terkait: Interfaith dan Islamophobia (4)

Kegiatan interfaith yang kami lakukan di Amerika dan berbagai belahan dunia lainnya tetap dengan konsideran tentang dua kemungkinan itu. Menimbang dengan jeli antara kemungkinan manfaat dan mudhorat yang ditimbulkan.

Baca Berita Terkait: Interfaith dan Islamophobia (5)

Di tulisan ini saya akan memberikan contoh Interfaith yang kami lakukan bersama Komunitas Yahudi Amerika. Pemilihan contoh ini karena relasi Islam dan Yahudi barangkali adalah relasi yang paling aneh dan unik. Tentu karena banyak pertimbangan, salah satunya karena konflik Timur Tengah yang klasik itu.

No More Posts Available.

No more pages to load.