KUALA LUMPUR|DutaIndonesia.com – Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama, Khofifah Indar Parawansa, mengadakan silaturrahmi dengan PCI Muslimat NU Malaysia pada Minggu (18/12/2022). Silaturrahmi Gubernur Khofifah dilakukan di sela-sela program misi dagang Pemprov Jatim ke negeri jiran tersebut.
Acara silaturahmi yang digelar di Grand Barakah Hotel Ampang itu dihadiri sekitar 350 orang. Acara dimulai selepas Dzuhur dan ditutup tepat menjelang Maghrib.
“Alhamdulillah. Kebetulan Beliau (Gubernur Khofifah, Red.) sedang punya program misi dagang dengan KBRI, lalu menyempatkan diri untuk bersilaturrahmi dengan kami (PCI Muslimat NU Malaysia) yang memang sudah cukup lama tidak bertemu,” tandas Mimin Mintarsih, Ketua Umum PCI Muslimat NU Malaysia, kepada DutaIndonesia.com, Rabu (21/12/2022).
Mimin dalam sambutannya, selain menyampaikan apresiasi atas kinerja dan koordinasi PP Muslimat NU selama ini, secara khusus menyebutkan laporan perkembangan sanggar belajar yang dikelola oleh PCI Muslimat NU Malaysia. Bertindak sebagai pembicara utama, dalam kesempatan itu, Gubernur Khofifah memberikan motivasi keagamaan dan ceramah ilmiah kepada seluruh anggota Muslimat NU Malaysia, warga Nahdliyyin, dan semua tamu undangan.
Berkecimpung dalam sebuah organisasi keagamaan seperti Muslimat, menurutnya, merupakan suatu hal yang sangat penting. Sebab, orang-orang yang saling bertujuan baik itulah yang pada akhirnya akan membantu menggiring umat ke surga.
Gubernur Khofifah juga menekankan pentingnya sanad keilmuan dalam beragama. Suatu tradisi intelektual keagamaan yang hingga kini dipertahankan dan diperjuangan oleh NU. Sanad tersebut menjadi penting karena beragama tidak cukup hanya mengandalkan narasi digital sebagaimana yang kian marak terjadi hingga saat ini. Membatasi akses ilmu keagamaan hanya pada narasi digital, menurutnya, jelas akan memungkinkan sanad tersebut akhirnya putus.
Perempuan yang telah menahkodai PP Muslimat NU selama beberapa periode ini juga memberikan contoh beberapa ulama yang bisa dijadikan salah satu dari rantai sanad yang dimaksud. Di antaranya adalah Syeikh Mahfudz Termas, Syeikh Muhammad Ihsan Jampes, KH Syeichona Cholil Bangkalan, dan KH Hasyim Asy’ari Jombang. Mereka adalah para ulama lokal Indonesia yang mempunyai kontribusi di tingkat internasional.
Khofifah secara khusus mengulas profil Syeikh Mahfudz Termas yang berhasil menulis sebuah syarah dari kitab “al-Manhaj al-Qawim” yang merupakan karya dari Syeikh Ibnu Hajar al-Haitami (wafat 1566 M), seorang Mufti Besar Kota Makkah ketika itu.
Kitab al-Manhaj al-Qawim itu sendiri merupakan salah satu di antara kitab yang paling banyak dikaji di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia bahkan Asia Tenggara. Secara ringkas, Gubernur Khofifah merangkum sambutan ilmiah tersebut dengan berpesan bahwa “kesungguhan, ilmu, dan pendidikan adalah prasyarat kemajuan bangsa”.
Selain keluarga besar PCI NU Malaysia, turut hadir juga Wakil Dubes RI di Kuala Lumpur, Rossy Verona, dan Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) KBRI, Yoshi Iskandar. “KBRI selalu siap berkolaborasi dengan program sosial keagamaan NU, khususnya Muslimat,” tandas Rossy dalam sambutannya.
Dia juga menyatakan sedang mengupayakan guru tetap dan perizinan resmi bagi sanggar belajar yang sedang dikelola oleh PCI Muslimat NU Malaysia. (Mimin/Muntaha/Aziz)













