Oleh Shamsi Ali Al-Kajangi*
BAPAK Drs. H. Jusuf Kalla, yang akrab disapa Pak JK, telah lama mengakhiri amanahnya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Jabatan itu tidak hanya telah dijalankan dengan dedikasi dan amanah, tetapi juga bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, seorang putra bangsa menjadi Wakil Presiden sebanyak dua kali di bawah dua Presiden yang berbeda.
Tidak mudah menggambarkan sosok Pak JK dalam tulisan singkat. Beliau adalah pribadi “multi-talented”: pebisnis sukses, politisi ulung, budayawan yang peduli, humanitarian sejati, pejuang sosial, dan agamawan yang tulus. Pekerja keras, pantang menyerah, dan pemberani. Saya menyebut beliau: “Tiger of the East.”
Di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur pada umumnya, bahkan jauh sebelum terjun ke politik, beliau sudah dikenal sebagai saudagar sekaligus tokoh sosial terkemuka. Nama besar keluarga Kalla di Sul-Sel lekat dengan kombinasi dagang, keagamaan, serta pelayanan sosial dan kemanusiaan.
Era Reformasi membuka jalan lebih luas bagi Pak JK. Tidak lagi terbatas pada bisnis dan sosial-keagamaan, beliau terpanggil terjun langsung ke politik praktis dalam skala nasional.
A Man of Peace and Peacemaker
Kali ini saya sedikit memberikan catatan pada kerja nyata keberhasilan Pak JK menyelesaikan berbagai konflik nasional dan regional. Bahkan lebih jauh beliau menginisiasi upaya perdamaian global dengan berusaha mempertemukan faksi-faksi yang bertikai di Afghanistan.
Menyelesaikan Konflik di Dalam Negeri
Pasca-Reformasi 1998, dengan terbukanya keran kebebasan, gesekan sosial muncul di berbagai daerah dan mengancam keutuhan NKRI.
Konflik Maluku
Warga yang selama puluhan tahun hidup rukun tiba-tiba saling bermusuhan, bahkan saling membunuh. Isu agama paling mudah dieksploitasi untuk menumbuhkan kebencian. Di kedua pihak, Muslim dan Kristen, muncul kelompok pejuang yang membela golongannya. Di pihak Islam khususnya dikenal Laskar Jihad pimpinan Ustadz Ja’far Umar Thalib.
Konflik ini menelan banyak korban jiwa dan harta. Yang lebih parah: runtuhnya nilai sosial positif yang telah lama tumbuh; saling percaya, toleransi dan kerjasama.
Pak JK yang ketika itu hanya seorang Menko Kesra turun tangan langsung dan menanganinya hingga tuntas. Beliau berhasil membangun kembali “mutual trust” di antara warga Maluku sehingga tenggang rasa hadir kembali.
Konflik Poso
Hampir bersamaan, konflik antarwarga di Poso meledak. Mengatasnamakan agama, konflik ini juga menimbulkan korban jiwa, kerugian materi, dan krisis kepercayaan.
Krisis Poso sangat berbahaya karena dampaknya melebar ke daerah tetangga, khususnya Sul-Sel. Tiba-tiba di daerah-daerah itu muncul kelompok-kelompok yang mengklaim mewakili kelompok yang bertikai.
Yang paling krusial: adanya upaya pihak luar untuk terlibat dan memperparah konflik. Perang melawan Al-Qaeda di Afghanistan membuat para pendukungnya mencari “safe haven.” Poso yang sedang bergejolak menjadi kawasan yang dianggap cocok untuk membangun basis baru.
Kehadiran pengaruh luar di satu kelompok memicu kelompok lain mencari dukungan kekuatan luar pula. Beberapa negara bermain cantik, kadang atas nama HAM, padahal membangun basis untuk membantu kelompok yang dianggap bagian dari mereka.
Di saat genting itulah Pak JK hadir. Dengan langkah sederhana, berani, tegas, namun bijak, beliau meredam kedua pihak dan menghentikan konflik dan kekerasan itu.
Konflik Aceh Yang Berkepanjagan
Upaya perdamaian terbesar yang akan dikenang bangsa Indonesia, bahkan dunia, adalah penyelesaian konflik Aceh. Kekerasan di Serambi Mekkah ini berlangsung cukup lama, sangat sadis, dan menelan banyak korban jiwa dan harta.
Jika Maluku dan Poso dipicu isu agama, konflik Aceh dipicu isu etnis dan rasa ketidakadilan antara pusat dan daerah. Bagi sebagian warga Aceh, suku Jawa dianggap zalim dan penjajah. Kemarahan itu begitu dalam hingga muncul keinginan memisahkan diri dari NKRI.
Lahirlah Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Gerakan ini sempat mendapat dukungan dari beberapa negara yang punya kepentingan.
Sejarah kembali ditorehkan Pak JK. Sebagai Wakil Presiden bersama timnya, beliau berhasil meyakinkan kelompok separatis untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan bersama membesarkan Aceh dalam tatanan Kesatuan Negara Republik Indonesia.
Saya tidak perlu membahas secara rinci proses perdamaian di tiga kawasan itu. Dari Maluku, Poso, hingga Aceh, semua bisa damai karena ikhtiar seorang putra Sul-Sel: Jusuf Kalla.
Kiprah Perdamaian Internasional
Konon, Pak JK juga andil dalam upaya mendamaikan pihak yang bertikai di Thailand Selatan. Demikian pula dengan proses damai antara pemerintah Filipina dan pejuang Bangsa Moro di selatan negara itu.
Yang saya secara pribadi sangat ingat adalah upaya beliau sebagai wapres ketika itu untuk mendamaikan faksi-faksi yang saling bertikai di Afghanistan. Saya ingat karena saya salah seorang yang diundang hadir saat itu. Beliau mengnisiasi pertemuan segitiga ulama Indonesia, Pakistan, dan Afghanistan di Istana Bogor beberapa waktu lalu. Walaupun tidak ada tindak lanjut secara kongkrit tapi upaya itu menjadi catatan tersendiri dalam kiprah international diplomacy Indonesia.
Pengabdian Tanpa Batas
Kini Pak JK tidak lagi memegang jabatan formal. Namun rasa cinta dan patriotisme membuatnya terus bergerak untuk kemanusiaan dan perdamaian di usia yang semestinya dinikmati bersama keluarga, anak, dan cucu. Beliau tidak egois.
Beliau dipercaya banyak pihak sebagai konsultan berbagai hal. Duta besar negara sahabat sowan ke beliau di saat kritis. Para mantan Dubes RI pun meminta masukan beliau ketika situasi tidak normal.
Satu hal istimewa dari Pak JK: “speaking by heart and mind” meski pahit dan tidak populer. Ketika fitnah soal ijazah mantan Presiden Jokowi menguat, beliau tanpa ragu menyarankan agar Jokowi menunjukkan ijazah aslinya supaya kegaduhan di negara ini selesai. Ketika beliau bersuara terbuka dengan seruan itu, para pembenci dan buzzer bermulut comberan memfitnah beliau lebih jauh. Di situlah Pak JK, “Tiger of the East”, tampil lagi dengan keberanian dan kegagahannya.
Akhirnya, saya sangat yakin Pak JK tidak memerlukan pujian untuk menjadi terpuji. Kehormatan dan kemuliaannya tidak berkurang oleh gonggongan buzzer yang bak cacing-cacing kepanasan tong-tong sampah itu. Beliau lebih tinggi dan mulia dari sekadar penghargaan Hadiah Nobel sekalipun. Pengabdian dan kontribusinya bagi bangsa, negara, serta upaya mewujudkan perdamaian dunia jauh lebih mulia di sisi Allah, Penguasa semesta alam.
Pak JK akan selalu dikenang sebagai “one of the finest Indonesians”. Hanya mereka yang tidak tahu berterima kasih yang tidak menyadari dan mengakuinya. Shame on you!
New York City, 20 April 2026
*Poetra Kajang Al-Nuyorki, Diaspora Indonesia di Kota New York.












