Kekeringan Belum Reda, Siap-siap Hadapi Banjir

oleh

SURABAYA| DutaIndonesia.com – Saat Jawa Timur (Jatim) masih sibuk menghadapi kekeringan, sejumlah pihak sudah diimbau bersiap pula menghadapi musim penghujan awal November 2023. Bahkan, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak El Nino dan Banjir Tahun 2023/2024 di Bendungan Selorejo, Kec. Ngantang, Kab. Malang, Rabu (27/9/2023) lalu, sudah mengantisipasi terjadinya curah hujan tinggi di Jatim. Khofifah juga menggencarkan gerakan menanam pohon. Misalnya menanam 1.500 bibit Pohon Durian Musang King dan Alpukat Aligator di Kawasan Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, untuk menghadapi El Nino.

Mengutip data dari media sosial BMKG Juanda, Rabu (4/10/2023), terdapat sejumlah daerah di Jatim yang diperkirakan akan memasuki musim hujan mulai awal November 2023. Misalnya pada 11-20 November 2023 hujan diperkirakan mengguyur seluruh Kabupaten dan Kota Malang, seluruh Kota Blitar dan seluruh Kabupaten Blitar kecuali Kecamatan Bakung, Kademangan, Panggungrejo, Srengat, Sutojayan, Udanawu, Wonodadi, dan Wonotirta yang diperkirakan baru turun hujan pada minggu kedua Desember 2023.

Selanjutnya 21-30 November 2023 hujan diperkirakan terjadi di seluruh Kota Batu, Kota Probolinggo, Kota Madiun kecuali Kec. Taman yang turun hujan di awal Desember, seluruh Kabupaten Ngawi, seluruh Kabupaten Madiun kecuali Kec. Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang Kare, Kebonsari, dan Wungu yang baru turun hujan pada awal Desember 2023.

Untuk wilayah Kabupaten Proboliggo hujan diperkirakan turun kecuali Kec. Bantaran, Kotaanyar, Kuripan, Lumbang, Pakuniran, Sukapura, Paiton, Tongas, dan Wonomerto yang baru hujan di awal Desember 2023. (Selengkapnya Lihat Tabel)

“Terkait kewaspadaan, pertama, bisa dilakukan saat masa pancaroba dan awal musim hujan yang biasanya sering terjadi cuaca ekstrem seperti puting beliung, waterspout, hujan es atau bisa juga tanah longsor. Sedangkan untuk yang kedua adalah kewaspadaan saat berada di puncak musim hujan yang biasa dapat terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor,” kata Ary Pulung, Prakirawan BMKG Juanda, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (4/10/2023).

Sebelumnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin Apel Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak El Nino dan Banjir Tahun 2023/2024 di Bendungan Selorejo, Kec. Ngantang, Kab. Malang, Rabu (27/9/2023). Apel ini diikuti berbagai unsur OPD Pemprov Jatim, Polres Batu, Korem 083/Baladhika Jaya, Perum Jasa Tirta I, BBWS Brantas, BBWS Bengawan Solo, BBPJN Jatim-Bali, dan Basarnas.

Dalam arahannya, secara khusus Gubernur Khofifah meminta semua pihak termasuk para Bupati/Walikota di Jawa Timur menyiapkan langkah program mitigasi, preventif dan quick response atau respon cepat. Utamanya dalam menghadapi El Nino sekaligus potensi banjir karena berdasarkan data BMKG pada minggu kedua atau ketiga November sudah mulai terjadi hujan dengan intensitas cukup.

“Apel kesiapsiagaan ini kita gelar dalam rangka menghadapi El Nino sekaligus potensi banjir. Kita harus terus meningkatkan kehati-hatian dan mitigasi harus dilakukan lebih komprehensif,” tegasnya.

Lebih lanjut dijelaskan Khofifah, langkah-langkah mitigasi dan preventif tersebut salah satunya yaitu dengan mengecek kondisi dam di masing-masing wilayah. Ini penting karena beberapa kasus banjir yang terjadi di Jawa Timur disebabkan adanya tumpukan sampah di beberapa dam. Sehingga ketika ada arus air besar maka air tidak bisa mengalir dengan baik.

“Maka yang harus dilakukan adalah gotong royong, kerja bakti, sinergi dan antisipasi bersama,” imbuhnya.

Selanjutnya, Khofifah juga meminta dilakukan pengecekan pada Rumah Pompa yang fungsinya sangat signifikan dalam pengaturan air. Bahkan, ia sudah beberapa kali mengecek langsung kondisi Rumah Pompa baik yang dalam koordinasi Pemprov maupun Pemkab/Kota.

“Dalam Rumah Pompa jangan sampai ada listrik yang tidak mengalir sehingga ketika dilakukan proses pengaturan air tidak berfungsi. Dan bisa berdampak pada terjadinya banjir,” terangnya.

Berikutnya yang menurut Khofifah tak kalah penting adalah normalisasi sungai agar bisa menampung debit air yang lebih besar dan optimal. Ia menegaskan, masyarakat masih banyak yang membuang sampah rumah tangga di sungai seperti kasur, sofa dan televisi sehingga ini juga menjadi salah satu penyebab kepadatan sungai.

“Kami pernah diinfo Pak Kepala BNPB untuk segera melakukan normalisasi di 3 sungai di Jatim. Ketika kami cek bersama kepadatannya luar biasa, untuk membersihkannya pun tidak bisa manual harus menggunakan long hand excavator. Di situ banyak ditemukan potongan kayu yang panjangnya sampai 6 meter, TV, juga sofa dan lain sebagainya,” urainya.

“Nah ini saya minta tolong siapkan mitigasi bersama karena banyak sungai-sungai yang memang mungkin ada sampah yang menumpuk. Itu antisipasi kita terhadap ancaman banjir,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Gubernur Khofifah terus melakukan update mitigasi bersama jajaran BNPB, Basarnas dan BMKG. Dari semula puncak kemarau kering tahun ini diprediksi bulan Agustus, kemudian mengalami perpanjangan karena perubahan iklim global sehingga diprediksi sampai November 2023.

Untuk itu, terkait dampak El Nino, dia kembali meminta berbagai pihak untuk melakukan kehati-hatian atas tindakan yang bisa mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Seperti beberapa waktu yang lalu Pemprov Jatim bersama berbagai pihak dibantu BNPB melakukan langkah ekstra keras untuk memadamkan kebakaran hutan baik di Gunung Arjuno Welirang dan Bromo. Namun, di saat bersamaan, Aceh dan Kalimantan Utara sudah mengalami banjir bandang.

“Begitu luasnya wilayah Indonesia di satu titik karhutla di titik yang lain mengalami banjir bandang. Ini artinya kesiapsiagaan ini harus dilakukan secara serius. Koordinasi-koordinasinya harus dilakukan secara kontinyu, dan bersama-sama kita melakukan langkah-langkah secara sistemik, programatik dan terukur,” katanya.

Kepada seluruh relawan, dia juga meminta menjaga kegotongroyongan, kekompakan, soliditas, dan terus meningkatkan koordinasi serta sinergitas dengan seluruh elemen. Baik dari jajaran Kementerian PUPR baik Perum Jasa Tirta I, BBWS Bengawan Solo, BBWS Brantas dan BBPJN.

“Selama ini kita sudah melakukan koordinasi dengan sangat harmonis, sangat sinergis dan sangat produktif. Maka semua harus kita jaga, kita tingkatkan mitigasi secara lebih detail supaya antisipasi-antisipasi yang bisa kita siapkan juga bisa kita lakukan secara lebih komprehensif lagi,” katanya.

Antisipasi Krisis Pangan

Selain melakukan upaya mitigasi dan respon cepat mengantisipasi dampak El Nino dan Banjir, dalam kesempatan ini Gubernur Khofifah juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam menghadapi krisis pangan.

“Sejak akhir tahun 2022, sudah mulai menjadi mitigasi serius di dunia bahwa ada kekhawatiran terjadinya krisis pangan. Kekhawatiran itu muncul selain karena terjadinya perang Rusia-Ukraina juga karena mitigasi terhadap kemungkinan El Nino yang bisa berdampak pada produksi pangan di seluruh dunia,” katanya.

Oleh karena itu, dia meminta kepada seluruh pihak untuk memaksimalkan seluruh proses untuk bisa memastikan bahwa produksi pangan Jatim tidak berkurang. Meskipun pada dasarnya year-on-year September 2022-September 2023 produksi padi di Jawa Timur surplus 9,23%.

“Meskipun hari ini kita mendapatkan informasi beberapa titik irigasi sudah tidak tersuplai air karena dampak El Nino. Maka dampak terhadap kemungkinan tumbuh kembang padi tidak bisa seproduktif seperti sebelumnya, saya mohon kerjasama kita semua para bupati walikota cek di lapangan masing-masing, ” katanya.

Lebih lanjut, pada dasarnya selain stok beras di Provinsi Jatim cukup, stok beras di kabupaten/kota di Jatim juga cukup sampai Idul Fitri tahun depan. Namun beberapa waktu belakangan harga beras naik. Hal ini karena naiknya harga Gabah Kering Giling (GKG) dan Gabah Kering Panen (GKP) di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) sejak masuk ke tempat penggilingan. Sehingga end product yakni beras di pasaran harganya mengalami kenaikan di atas HET.

“Ini sesuatu yang harus kita antisipasi bersama karena meskipun dalam keadaan surplus, ternyata harga beras sampai di pasar itu di atas HET. Maka Pemprov Jatim melakukan operasi pasar murah untuk bisa merespon keterjangkauan daya beli masyarakat,” pungkasnya.

Usai apel, Gubernur Khofifah bersama Danrem 083/Baladhika Jaya, Pj. Walikota Batu, serta jajaran Forkopimda Malang Raya turut meninjau sarana dan prasarana serta alat yang digunakan untuk mengatasi banjir. Seperti Excavator, Long Hand Excavator, Dump truck, Mobile PUMP, Perahu Karet, Tenda Dapur Umum, Tenda Pengungsi, Loader dan Truck Rescue.

Dalam kesempatan ini Gubernur Khofifah turut menyerahkan Kunci Escavator, berbagai penghargaan, life jacket, dan Tali Asih. Penyerahan simbolis kunci escavator diserahkan kepada Kepala Dinas PU SDA Jatim.

Kemudian penyerahan penghargaan yakni Tim Siaga Banjir Terbaik yakni UPT PSDA WS Welang Pekalen, Pengelola Irigasi Terbaik yakni UPT PSDA WS Kepulauan Madura, Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Terbaik yakni UPT PSDA WS Bondoyudo Baru.

Selanjutnya penghargaan Operasi Pemeliharaan Jaringan Irigasi Terbaik diraih UPT PSDA WS Bengawan Solo, Pekarya Jaringan Irigasi terbaik diraih UPT PSDA WS Brantas di Kediri, Pengelolaan Kinerja DAS Berkelanjutan Terbaik diraih UPT PSDA WS Sampean Setail dan Komunitas Peduli Sungai Terbaik oleh Sekolah Sungai Brantas Berdaya.

Juga penyerahan life jacket kepada 10 nelayan di Selorejo yang diserahkan secara simbolis kepada 2 orang. Dan penyerahan tali asih kepada PPA Pekarya kepada 6 orang.

Seperti dikutip dari laman BMKG, secara umum awal musim hujan 2023 – 2024 diprakirakan terjadi pada bulan November – Desember 2023 meliputi 41 ZOM (55,4%). Dari 74 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur, Prakiraan “Awal” Musim Hujan 2023 – 2024 dibagi pada November 2023 32 ZOM (43,2% dari 74 ZOM), Desember 2023 41 ZOM (55,4% dari 74 ZOM), dan Januari 2024 1 ZOM (1,4% dari 74 ZOM).

Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis Khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi. Keragaman iklim Indonesia juga dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain, fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), fenomena regional, seperti sirkulasi angin monsun Asia – Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator. Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño, namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia. El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif). Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia. Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim. Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.

Indian Ocean Dipole (IOD)

Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI). Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat. Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.

Sirkulasi Monsun

Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun. Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali. Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

Lalu Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ). ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis Khatulistiwa.

Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.

Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit. Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

Keragaman Iklim

Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi prakiraan musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

Informasi prakiraan musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya. (gas)