Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*
Hari ini, saya mendapat kehormatan menyampaikan khutbah Jumat di kantor pusat Islamic Society of North America (ISNA) di Plainfield, Indiana. Saya berada di sini untuk mengikuti inaugurasi Dewan Pengurus (Board of Directors) ISNA yang alhamdulillah saya diberi amanah terpilih menjadi salah satu anggotanya.
ISNA adalah organisasi Muslim nasional tertua dan terbesar di Amerika Utara, yang melayani umat Islam di Amerika Serikat dan Kanada. Selama lebih dari 63 tahun, ISNA telah mengabdi kepada umat dalam berbagai kapasitas, dan layak disebut sebagai induk organisasi masyarakat Islam di Barat.
Umat Kita di Persimpangan Jalan
Umat kita hari ini sedang berdiri di persimpangan jalan.
Di satu sisi, kita menghadapi realitas yang pahit dan menyakitkan. Saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia terus menderita- Uyghur, Rohingya, rakyat Kashmir dan India, dan yang paling menyayat hati adalah penderitaan saudara-saudara kita di Gaza dan Palestina.
Di sisi lain, umat ini memiliki potensi yang luar biasa besar. Kita adalah komunitas agama terbesar di dunia, dengan lebih dari 2 miliar pengikut, 57 negara mayoritas Muslim. Kita merupakan blok terbesar kedua di Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah Gerakan Non-Blok (GNB).
Lebih dari itu, Islam terus tumbuh dan tak terbendung. Di Amerika saja, setidaknya 25.000 orang memeluk Islam setiap tahun, menjadikan komunitas Muslim sebagai komunitas agama yang paling cepat berkembang di Amerika- bahkan di seluruh dunia. Pertumbuhan ini terasa sangat nyata di Asia- Korea, Jepang, bahkan di Tiongkok.
Komunitas Muslim di Barat
Meskipun Muslim di Barat masih merupakan minoritas, kita baru-baru ini memperoleh momentum nyata dan peluang yang luas. Saya ingin secara khusus menggarisbawahi kemajuan ini, tidak hanya dalam bidang dakwah dan pendidikan, tetapi juga dalam bidang ekonomi dan politik.
Pemilihan umum terakhir di Amerika Serikat adalah bukti yang nyata. Komunitas Muslim telah meraih momentum politik yang dahsyat. Bukan hanya semakin banyak kandidat Muslim muda yang terpilih ke berbagai jenjang jabatan publik, tetapi Islam dan umat Islam juga semakin diterima dengan tulus oleh jauh lebih banyak warga Amerika dibandingkan beberapa tahun lalu.
Kabar baik lainnya adalah terpilihnya banyak politisi non-Muslim yang lebih inklusif dan bersahabat dengan komunitas kita. Hal ini membuat komunitas kita menjadi lebih aman dan lebih diterima dalam masyarakat Amerika yang lebih luas.
Menjaga Momentum agar Terus Tumbuh
Pertanyaan yang kemudian muncul secara alami adalah: bagaimana kita menjaga agar momentum ini terus tumbuh?
Ada banyak hal yang dapat dan harus kita lakukan. Dalam khutbah saya, saya merujuk pada sebuah surah dalam Al-Qur’an yang mulia, yaitu Surah As-Saff”. Saya memilih surah ini karena namanya sendiri sangat relevan dengan komunitas dan pentingnya kolektivitas “al-jama’ah” dalam Islam.
Dalam surah ini, Allah mengingatkan kita akan lima langkah penting agar momentum terus berpihak kepada kita:
1. Komunitas yang Berorientasi kepada Allah
Orientasi dan tujuan kita haruslah Allah semata. Dalam istilah agama, inilah yang disebut “ikhlas”- ketulusan. Tanpa ego, tanpa kepentingan sempit. Inilah yang akan membentuk sikap kita dalam menjalani seluruh kehidupan kita.
Ego, kepentingan kelompok, dan agenda sempit justru menghancurkan komunitas kita. Allah bahkan mengingatkan Rasul-Nya yang tercinta: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu melihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah, maka bertasbihlah dan pujilah Tuhanmu, dan mohonlah ampunan kepada-Nya.”
Seolah Allah mengingatkan RasulNya: jangan memuji diri sendiri, tetapi muliakan dan puji Allah, bahkan mohonlah ampun kepadaNya kita tidak sempurna dan tidak akan mampu mencapai semua itu tanpa pertolongan Allah.
2. Pengembangan Diri
Kita tidak dapat menjaga momentum ini tanpa upaya mengembangkan diri kita secara kolektif. Dan kita harus memulainya dari kritik dan koreksi diri. Saya melihatnya ini relevan dengan konsep taubat dalam Islam. Kita harus mengakui kekurangan kita dan berkomitmen melakukan perbaikan “amal saleh”. Allah berfirman: “Dan barangsiapa bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benar taubat.”
Fondasi dari pengembangan diri adalah perubahan. Sebagaimana Allah mengingatkan kita: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”.
3. Pentingnya As-Saff
Ayat ini mengingatkan Urgensi persatuan, kebersamaan, dan kolektivitas untuk menjaga momentum ini agar terus tumbuh. Kita semua tahu, kekuatan umat terletak pada persatuannya. Perpecahan hanya akan membawa kelemahan. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan janganlah kalian berselisih, karena kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.”
Hari ini terdapat sekitar dua miliar umat Muslim di seluruh dunia. Jika umat bersatu, ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa dahsyat.
Persatuan umat akan kokoh dengan dua fondasi penting, yang keduanya berkaitan dengan poin pertama di atas: pertama, hati yang bersih, yang bebas dari hasad (dengki), kibir (kesombongan), hiqd (kebencian), dan penyakit-penyakit hati lainnya. Dan yang kedua, pentingnya berpegang teguh pada pijakan bersama: li i’laa kalimatillah- untuk meninggikan kalimat Allah.
4. Pola Pikir dan Sikap Kontekstual
Kita harus mampu membaca realitas kita saat ini dengan benar: tantangan dan peluangnya. Kita membutuhkan “afwaah” pemikiran-pemikiran inovatif- yang mampu berinteraksi dengan realitas zaman, termasuk kecerdasan buatan (AI). Karena pada akhirnya kita harus memilih: apakah kita akan menjadi bagian dari mereka yang membentuk masa depan dan menguasainya, atau justru tergilas dan menjadi korbannya?
Bagi komunitas di Barat, Islamofobia misalnya masih menjadi realitas. “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah…”. Kata “yuriiduuna” dalam ayat ini menggunakan bentuk present continuous tense atau fi’il mudhori’, yang berarti Islamofobia akan terus berlangsung. Maka upaya untuk menghadapinya pun harus terus berlanjut. Namun komunitas Muslim Amerika harus menyadari, tantangan yang sesungguhnya jauh lebih berbahaya adalah terancamnya agama generasi masa depan.
5. Perjuangan yang Tak Pernah Goyah: Jihad
Akhirnya, kita dipanggil untuk berjuang tanpa goyah “jihad” dalam maknanya yang komprehensif.
Allah berfirman: “Maukah Aku tunjukkan kepadamu suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kamu berjihad di jalan Allah…” Allah menyebutnya sebagai sebuah perniagaan yang akan menyelamatkan kita dari azab yang pedih. “Itulah kemenangan yang agung.”
Namun juga perlu disadari, sebelum akhirat, ada janji di kehidupan ini: “Dan ada lagi karunia lain yang kamu sukai: yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat”. (Wa ukhra tuhibbunaha nasrun minallah wa Fathun qariib.. wa bassyiril mu’miniin”. Maka berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.”
Allah menutup dengan penekanan bahwa kemenangan “fathun qariib” itu akan datang jika diperjuangkan secara kolektif: “jadilah kalian penolong-penolong agama Allah…” (Kuunuu ansharallah)
Penekanan ayat ini adalah bahwa setiap elemen komunitas memiliki perannya masing-masing: “Katakanlah: masing-masing bekerja menurut pembawaannya.”
Insya Allah, jika kita mengikuti langkah-langkah di atas, Allah berjanji: “Maka Kami kuatkan orang-orang yang beriman terhadap musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.”
Yakinlah, pertolongan Allah dan kemenangan itu secara alami akan berada di pihak yang memperjuangkan kebenaran. Bahkan mungkin di waktu dan keadaan yang kita tidak sangka-sangka. Zohran di Kita New York, Abdul di Michigan, siapa yang pernah menyangka?
Plainfield Indiana, 6 November 2026
*Member, ISNA Board of Directors










