Siswa SMA Labschool Cibubur Sulap Tandan Kosong Sawit Jadi Anoda Baterai, Sabet Emas di IID 2026

oleh
Empat siswa SMA Labschool Cibubur, Jakarta, meraih medali emas dalam ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2026. Pengumuman pemenang disampaikan pada Selasa (6/10/2026).
Empat siswa SMA Labschool Cibubur, Jakarta, meraih medali emas dalam ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2026. Pengumuman pemenang disampaikan pada Selasa (6/10/2026).

 

JAKARTA| DutaIndonesia.com – Empat siswa SMA Labschool Cibubur, Jakarta, meraih medali emas dalam ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2026. Pengumuman pemenang disampaikan pada Selasa (6/10/2026).

Keempat siswa tersebut adalah Colin Orville Sedana, Jinan Alima Sakanti, Raditya Arsa Pradana, dan Raihana Hayfa Alwani. Mereka menggondol medali emas lewat riset berjudul “Turning Palm Waste into Sustainable Lithium-ion Batteries for Greener Future”, yang mengolah limbah sawit menjadi bahan baterai litium-ion.

IID 2026 digelar pada 3–6 Oktober 2026 di Gedung SMESCO Indonesia, Jakarta. Ajang yang diselenggarakan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA) ini diikuti peserta dari 20 negara, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Iran. Karya para siswa masuk dalam kategori Protection, Environment, Energy, Water & Sanitation.

Manfaatkan Limbah Tandan Kosong Sawit

Penelitian ini berangkat dari meningkatnya kebutuhan penyimpanan energi yang efisien seiring beralihnya dunia ke kendaraan listrik, sementara industri kelapa sawit Indonesia menghasilkan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dalam jumlah besar. Dengan kandungan selulosa dan lignin yang tinggi, TKKS dinilai berpotensi menjadi prekursor karbon alternatif untuk anoda baterai litium-ion.

Para siswa mengolah TKKS melalui karbonisasi pada suhu 500°C selama satu jam, lalu grafitisasi katalitik bersuhu rendah, yakni 1.300°C selama dua jam. Hasilnya dijadikan anoda yang dirakit bersama katoda NMC menjadi sel baterai litium-ion.

Pengujian dengan spektroskopi Raman, difraksi sinar-X (XRD), dan HR-TEM menunjukkan material grafit dapat dihasilkan lewat grafitisasi katalitik pada suhu yang relatif rendah. Uji elektrokimia menunjukkan anoda tersebut memiliki kapasitas spesifik 170 mAh/g.

Tantangan dan Rencana Pengembangan

Dalam laporan penelitiannya, para siswa juga memaparkan tantangan yang masih harus dijawab, antara lain efisiensi coulomb awal (initial coulombic efficiency) sekitar 21% dan stabilitas siklus jangka panjang. Untuk tahap berikutnya, mereka berencana mengoptimalkan grafitisasi katalitik guna meningkatkan kristalinitas dan konduktivitas, menaikkan kapasitas spesifik di atas 170 mAh/g, serta menguji stabilitas siklus dalam jangka panjang.

Inovasi ini sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), yakni energi bersih dan terjangkau (SDG 7), industri, inovasi, dan infrastruktur (SDG 9), konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12), serta penanganan perubahan iklim (SDG 13).

Kutipan Narasumber

“Kami melihat tandan kosong sawit itu melimpah di Indonesia, tapi sering hanya jadi limbah. Dari situ kami terpikir, bagaimana kalau dimanfaatkan jadi bahan baterai. Awalnya tidak mudah, tapi kami terus mencoba sampai hasilnya terbukti lewat pengujian. Medali emas ini kejutan sekaligus motivasi untuk terus meneliti” ujar Raditya sebagai tim leader.

“Para siswa ini menunjukkan semangat dan ketekunan yang luar biasa. Mereka mampu menunjukkan bahwa grafit dapat dihasilkan dari biomassa pada suhu yang relatif rendah. Tentu masih ada tantangan, seperti efisiensi awal dan stabilitas siklus jangka panjang, tetapi ini fondasi yang baik untuk dikembangkan lebih lanjut” kata Prof. Jarot Raharjo, peneliti ahli utama BRIN yang membimbing riset tersebut.

Dukungan BRIN untuk Inventor Muda

BRIN sendiri berpartisipasi dalam IID 2026 dengan menampilkan hasil riset dan inovasi, antara lain prototipe Pesawat Tanpa Awak LSU-02 VTOL, Kapal Multipurpose Decommissioning and Salvage Vessel (MDSV), Floating Offshore Wind Turbine 1 kW, serta reaktor nuklir dengan simulasi control rod. Partisipasi itu menjadi bagian dari upaya BRIN mendorong hilirisasi hasil riset dan kolaborasi lintas sektor.

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan UMKM BRIN, Driszal Fryantoni, mengatakan invensi dan inovasi tidak boleh berhenti pada tahap penciptaan. Hal itu ia sampaikan saat pembukaan IID 2026, Sabtu (3/10/2026).

“Kita membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan untuk menciptakan invensi baru, yaitu ekosistem yang mampu menghubungkan pengetahuan, teknologi, kreativitas, kebutuhan masyarakat, dan kekuatan industri,” ujarnya.

Driszal juga memberi perhatian khusus kepada inventor muda. Ia menilai kemajuan teknologi Indonesia ke depan sangat bergantung pada keberanian generasi muda untuk mencoba dan menciptakan hal baru. Menurutnya, melalui forum seperti IID, pelajar dan mahasiswa dapat bertemu dengan peneliti, sementara akademisi dapat berdiskusi dengan industri. Para periset BRIN juga turut mendukung proses penilaian dan apresiasi terhadap karya para inventor.

“Inovasi pada dasarnya adalah sebuah proses belajar, dan yang terpenting adalah bagaimana sebuah ide terus dikembangkan, kemudian diuji, diperbaiki, dan pada akhirnya dapat menjawab persoalan yang nyata,” jelasnya.

Para siswa menyampaikan terima kasih kepada BRIN, SMA Labschool Cibubur, dan INNOPA atas dukungan selama penelitian.

(Sumber: Humas BRIN, diolah dengan data riset tim siswa SMA Labschool Cibubur)

No More Posts Available.

No more pages to load.