Tarawih di Masjid Wali (2): Salat Refreshing

oleh

Oleh Nur Fakih

SALAT Tarawih, cepat-cepatan jangan. Mengerjakan salat Tarawih dengan khusyu’ lebih menyegarkan. Pikiran kalut sepanjang hari bergelut dengan masalah dengan bertarawih akan kembali tenang. Salat yang sering dilaksanakan pada bulan Ramadhan ini, jika dijalankan sesuai dengan arti sebenarnya akan merefresh hati dan pikiran dari virus-virus perusak kehidupan.

Dalam bahasa Indonesia, Tarawih diartikan dengan istirahat. Orang yang sedang salat Tarawih berarti sedang mengistirahatkan semua hal yang berkaitan dengan fisik untuk menghidupkan semangat keruhanian. Mengalihkan beban berat dan hiruk pikuk kehidupan ke dalam medan batin yang sunyi penuh dengan kontempelatif akan membentuk gerakan fluktuasi dua sisi kehidupan yang saling terjaga.

Tarawih di Masjid Agung Gresik tempat yang bisa dipilih untuk beristirahat. Gerakan salat imam Tarawihnya bisa diikuti makmum dengan thuma’ninah. Mulai dari takbiratul ihram pada rokaat pertama sampai mengakhiri salat dengan salam terasa ada pembeda.

Di Masjid Agung Malik Ibrahim Gresik ini, salat Tarawih mulai rakat pertama sampai rokaat ke dua puluh menghabiskan satu juz al-Qur’an, sekali Tarawih satu juz. Membosankan? Tidak. Bacaan ayat-ayat al-Qur’an imam fasih dan telinga jamaah bisa menikmati suara imam yang khafidz nan merdu. Apalagi, kalau lantunan ayat-ayat itu direnungkan maknanya.

Masjid Agung Gresik dibangun sebelum krisis moneter atau tahun 1997 oleh bupati Gresik (almarhum) H Soewarso di Desa Sumber, Kec.Kebomas. Krisis keuangan yang memporakporandakan APBD Kabupaten Gresik mengakibatkan pembangunan masjid kebanggaan warga kota santri ini mangkrak. Bersamaan bergulirnya era reformasi, Bupati Robbach Ma’sum akhirnya berhasil menyelesaikan pembangunannya pada 2004.

Ornamen interior dan eksterior masjid didesain bergaya Eropa dipadukan dengan arsitektur Timteng dan Jawa sehingga menjadikan masjid terbesar di Gresik ini tampil berkarakter sebagai masjid yang inklusif, terbuka untuk umat. Bentuk kubahnya dibuat mengerucut tinggi berbeda dengan kubah-kubah masjid pada umumnya yang lebih memilih bentuk bulan paruh. Titik puncak kerucut kubah menggambarkan hubungan vertical manusia dengan Tuhan yang Maha Esa.

Cahaya yang dipancarkan 16 lampu gantung berukuran besar membikin ruangan semakin artistic. Berbahan tembaga, lampu-lampu gantung tidak sepenuhnya difungsikan untuk penerangan. Lampu-lampu itu dihadirkan agar masjid ini mampu meredupkan gejolak kehidupan manusia.

Penghuni bumi yang semakin panas ini diingatkan bahwa dengan salat Tarawih, semua keserakahan manusia itu harus segera diistirahatkan melalui salat sunnah di bulan Ramadhan ini untuk meraih keberkahan. (*

  • Penulis adalah Takmir Masjid Agung Maulana Malik Ibrahim Gresik

No More Posts Available.

No more pages to load.