Teater: Menemukan Kembali Kemanusiaan di Ruang Bersama

oleh

Oleh Jil Kalaran
Koordinator FPKS

Di era digital saat ini, manusia seolah terjebak dalam paradoks konektivitas. Di satu sisi, media sosial menjanjikan dunia yang tanpa batas, namun di sisi lain ia justru menciptakan sekat-sekat tak kasat mata yang mendorong setiap individu menjadi penyendiri di balik layar gawai.

Algoritma media sosial cenderung mengurung kita dalam “ruang gema” (echo chamber) yang memuja kenyamanan personal, namun mengikis kemampuan kita untuk berinteraksi secara nyata.

Dalam konteks keretakan sosial inilah, teater kembali menemukan relevansi vitalnya: bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai ruang bersama yang memulihkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial.

Teater menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh layar digital, yakni kehadiran fisik yang mutlak.

Saat kita melangkah masuk ke dalam gedung pertunjukan, kita melepaskan diri dari isolasi mandiri yang diciptakan oleh media sosial. Di sana, terjadi pertemuan yang jujur antar umat manusia.

Tidak ada tombol mute atau opsi untuk menggulir layar (scrolling) saat sebuah adegan berlangsung. Kita dipaksa untuk hadir sepenuhnya, duduk bersisian dengan orang asing dan berbagi napas serta emosi dalam frekuensi yang sama.

Penting untuk diingat bahwa fungsi teater sebagai ruang bersama bukanlah sebuah fenomena baru, melainkan kembalinya kita ke akar peradaban.

Jauh sebelum algoritma menentukan siapa yang layak kita ajak bicara, teater telah menjadi semacam alun-alun batin bagi masyarakat.

Di Yunani Kuno, misalnya, teater seperti Amphitheatre bukan sekadar tempat menonton hiburan, melainkan ruang politik dan spiritual di mana warga kota berkumpul.

Sejarah mencatat bahwa teater adalah bentuk media massa pertama yang mengandalkan partisipasi fisik. Di panggung-panggung terbuka zaman dahulu, tidak ada dinding pemisah yang kaku antara aktor dan penonton. Ia adalah agora atau ruang publik tempat nilai-nilai moral diperdebatkan dan rasa kepemilikan terhadap komunitas dipupuk.

Keunikan teater terletak pada dialog langsung yang tercipta tanpa perantara sinyal internet. Di atas panggung, para aktor memberikan ekspresi, keringat dan energi mereka secara langsung kepada penonton.

Sebaliknya, penonton memberikan respons berupa tawa, isak tangis atau bahkan keheningan yang mencekam, yang secara instan memengaruhi ritme pertunjukan.

Inilah yang disebut sebagai lingkaran energi. Sebuah dialog non-verbal yang membuktikan bahwa manusia hanya bisa merasa benar-benar hidup ketika mereka saling menatap dan berinteraksi secara nyata.

Selain itu, teater juga menjadi ruang bagi kita untuk merayakan perbedaan.

Di tengah gencarnya serangan media sosial yang sering kali memicu polarisasi, teater mengajak kita untuk melihat dunia dari perspektif orang lain melalui karakter-karakter yang ditampilkan.

Saat menonton, kita tidak hanya bertemu dengan sesama penonton, tetapi juga berjumpa dengan kemanusiaan yang beragam.

Kita belajar berempati melalui konflik yang diperankan, menyadari bahwa di balik setiap wajah yang kita temui di kursi penonton, terdapat narasi kehidupan yang sama kompleksnya dengan apa yang ada di atas panggung.

Sebagai sebuah ruang bersama, teater adalah antitesis dari budaya penyendiri. Ia adalah ruang di mana tatap muka menjadi sakral dan dialog langsung menjadi alat untuk meruntuhkan dinding-dinding kecurigaan.

Melalui seni pertunjukan, kita diingatkan kembali bahwa teknologi mungkin bisa menghubungkan informasi, namun hanya interaksi nyata dalam ruang bersamalah yang mampu menghubungkan hati nurani.

Teater adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, kita masih memiliki tempat untuk pulang: sebuah tempat di mana manusia saling melihat, mendengar dan mengakui keberadaan satu sama lain.

Surabaya hari Ini #08 kali ini mengangkat tema Surabaya Ngudarasa untuk merayakan Hari Teater Dunia pada 27 Maret 2026, mulai pukul 15.00 hingga 22.00 di Galeri DKS, Kompleks Balai Pemuda Surabaya. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS) bersama beberapa komunitas seni di kota Surabaya.

Secara maknawi, ngudarasa berarti kegiatan mengungkapkan isi hati, merenung atau mencurahkan perasaan yang selama ini terpendam. Dalam budaya Jawa, ngudarasa tidak selalu bersifat keluhan yang meledak-ledak. Sering kali, ini merupakan bentuk kontemplasi yang tenang. Seseorang mencoba mengurai benang kusut di dalam pikirannya untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya atau lingkungan sekitarnya.

Jil Kalaran
Koordinator FPKS

No More Posts Available.

No more pages to load.