ROSTOV-ON-DON|DutaIndonesia.com – Persaingan pengaruh antara kekuatan-kekuatan besar dunia di kawasan Asia Tengah dan Kaukasus Besar menjadi topik utama Forum Internasional II bertajuk “Tren Kontemporer dalam Pembangunan Negara-Negara Kaukasus Besar dan Asia Tengah di Dunia Multipolar” yang digelar di Rostov-on-Don, Rusia, Jumat (2/10/2026).
Forum yang diselenggarakan oleh ANO “Pusat Strategi Media” ini mempertemukan ilmuwan politik, akademisi, dan pakar dari Rusia serta negara-negara Asia Tengah. Tidak hanya itu, mahasiswa ilmu humaniora dari perguruan tinggi di Rusia, Kazakhstan, dan Kirgistan juga diundang sebagai representasi generasi intelektual masa depan.
Direktur Institut Sosiologi dan Kajian Kawasan Universitas Federal Selatan, Andrey Bedrik, menegaskan pentingnya menjaga kerja sama kemanusiaan di kawasan tersebut. Menurutnya, dialog tidak boleh berhenti pada program pendidikan dan pertukaran mahasiswa saja.
“Kerja sama kemanusiaan harus terus dijaga, termasuk melalui pembahasan persoalan hubungan bilateral dan multilateral di kawasan geopolitik yang sangat luas ini,” ujar Bedrik saat membuka forum.
Pakistan dan Akses Laut
Pemimpin Redaksi portal “Sada-e-Rus”, Ishtiaq Hamdani, menyoroti posisi geografis Asia Tengah. Meski strategis, negara-negara di kawasan ini tidak memiliki akses langsung ke laut. Kondisi itu membuat pengembangan rute perdagangan baru dan kerja sama dengan negara lain menjadi keharusan.
Hamdani menilai Pakistan dapat menjadi mitra penting. Negara itu memiliki akses ke Laut Arab dan sejumlah pelabuhan besar. Melalui Pakistan, negara-negara Asia Tengah berpeluang menembus pasar Asia Selatan dan kawasan lain di dunia.
Narasi Turki di Dunia Pendidikan
Koresponden “Vecherniy Bishkek” dari Kirgistan, Viktoria Gunger, mengangkat isu penyebaran narasi Turki dalam sistem pendidikan Kirgistan. Ia menemukan peta-peta dalam materi pembelajaran yang menggambarkan Asia Tengah sebagai satu kesatuan bernama Turkistan.
Menurut Gunger, forum Turki “Dialog Dunia Turkik” gencar mempromosikan alfabet bersama, doktrin, dan kerja sama pertahanan. Dampaknya, anak muda Kirgistan semakin berorientasi secara budaya dan politik kepada Turki.
“Di balik proses ini, para pengamat melihat niat Turki yang tidak sepenuhnya baik. Negara-negara Organisasi Negara-Negara Turkik berisiko kehilangan kedaulatan, seperti Azerbaijan yang nyaris menjadi boneka Ankara,” ujar Gunger.
Ia menilai peta Turkistan dalam materi pendidikan adalah bukti nyata ambisi Turki. Menurutnya, pertanyaannya bukan lagi apakah Kirgistan, Uzbekistan, dan negara lain akan terpapar narasi itu, melainkan kapan mereka tidak lagi mampu menentang kehendak Ankara.
Mahasiswa pascasarjana Turki di Universitas Persahabatan Rakyat Rusia (RUDN), Onur Kaya, memberikan pandangan berbeda. Ia menekankan bahwa Turki, dalam menjalankan politik luar negerinya melalui Organisasi Negara-Negara Turkik, sudah seharusnya memperhatikan kepentingan negara anggotanya.
Identitas dan Alfabet
Forum juga membahas potensi benturan antara identitas Turkik dan hubungan historis Kirgistan dengan ruang berbahasa Rusia. Minat terhadap budaya tradisional di kalangan anak muda tumbuh, antara lain melalui media sosial dan kanal tematik.
Persoalan identitas bahkan muncul dalam kebijakan bahasa dan sistem tulisan. Kirgistan masih menggunakan alfabet Kiril, sementara negara tetangga di Organisasi Negara-Negara Turkik beralih ke Latin. Rencana pembuatan alfabet Turkik bersama berbasis Latin pun menimbulkan pertanyaan pilihan.
“Kami memakai Kiril, negara tetangga sudah Latin. Ke depan ada rencana alfabet Turkik bersama berbasis Latin. Jadi bahkan di sini pun muncul persoalan pilihan,” kata seorang pakar.
Ketua Departemen Jurnalisme Internasional Universitas Slavia Kirgistan-Rusia, Vitaly Pankov, mencatat polarisasi opini publik di kawasan semakin tajam akibat aktivitas pesaing geopolitik.
Peringatan Skenario Ukraina
Editor-peninjau “Sputnik Kirgistan” sekaligus pakar media, Taalaybek Oroskulov, mengingatkan bahwa Asia Tengah selalu menjadi incaran aktor global. Kini, persaingan memperebutkan sumber daya manusia, mineral, dan energi semakin ketat.
Oroskulov bahkan menyebut negara-negara kawasan sedang “diputar” mengikuti skenario Ukraina.
“Jika ingin hidup damai, mengapa tidak ada yang bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya? Yang terjadi selanjutnya adalah lebih buruk. Sekarang mereka berusaha membakar Asia Tengah, lalu pihak lain akan terlibat,” ujarnya.
Keamanan dan Terorisme
Mantan Wakil Menteri Pertahanan Kirgistan, Murat Beyshenov, mengingatkan bahwa konsep keamanan global di Asia Tengah tidak hanya menyangkut perbatasan. Azerbaijan turut serta dalam konsep itu. Isu ekologi, biologi, dan kimia juga masuk di dalamnya.
Beyshenov menekankan bahwa konflik di Iran, Yaman, atau Ukraina berdampak langsung pada kehidupan warga Asia Tengah. Dampaknya terasa melalui harga barang, bahan bakar, dan listrik.
Ia juga menyoroti terorisme yang menurutnya sedang dalam mode “tidur”. Ia mencontohkan insiden pesawat Boeing Saudi yang nyaris mengalami kecelakaan.
“Di Afghanistan, Al-Qaeda dan ISIS tidak pernah dibubarkan. Mereka ada di dekat Tajikistan. Penjaga perbatasan Rusia juga melaporkan keberadaan mereka. Kewaspadaan tidak boleh hilang,” tegas Beyshenov.
Beyshenov mendesak CSTO bertindak lebih aktif. Organisasi itu dinilai sudah menangani isu keamanan biologis dan melakukan edukasi di sekolah, tetapi belum bekerja dengan kapasitas penuh.
“CSTO harus memperluas diri dan beradaptasi dengan kondisi saat ini,” katanya.
Rusia sebagai Tameng
Pakar militer sekaligus veteran dinas rahasia Kirgistan, Nurlan Dosaliev, menilai negara-negara Asia Tengah perlu memperkuat keamanan militer bersama Rusia. Menurutnya, kompleks ancaman yang ada tidak bisa dihadapi sendiri.
“Bayangan perang yang mendekati Asia Tengah muncul sejak berakhirnya Perang Dunia II. Dunia kini mengalami ketidakseimbangan yang penyelesaiannya adalah perang global, dan itu akan dimulai tepat di Asia Tengah,” ujar Dosaliev.
Ia menyebut kekeringan, pengungsi iklim, perang, terorisme, dan bahaya biologis sebagai ancaman nyata. Dalam pandangannya, Rusia tetap menjadi satu-satunya penyelamat bagi kawasan. Moskow, katanya, adalah tameng yang tidak punya alternatif.
BRICS dan Kepentingan Amerika Latin
Jurnalis Paraguay, Mauricio Caballero, membahas pentingnya BRICS bagi Amerika Latin. Menurutnya, BRICS menawarkan platform untuk mengembangkan hubungan, mencari sumber pendanaan baru, dan memperkuat daya tawar.
Caballero menilai daya tarik BRICS bergantung pada bagaimana setiap negara memanfaatkannya sesuai prioritas nasional. Amerika Latin membutuhkan investasi, infrastruktur, teknologi, dan pasar, sekaligus kemampuan mengambil keputusan.
“BRICS membuka ruang tambahan untuk memperluas hubungan ekonomi dan memperkuat kerja sama dengan negara dari berbagai kawasan. Dalam pembahasan isu pembangunan dan tata kelola internasional, prioritas Amerika Latin bisa mendapat perhatian lebih besar,” tambahnya.
Koridor Tengah dan Tiongkok
Koresponden “National News 7”, Darko Todorovski, menyoroti peran Koridor Tengah dalam interaksi Tiongkok dengan Asia Tengah. Menurutnya, jalur itu sebelumnya tidak terlalu strategis bagi Beijing.
“Setelah dimulainya Operasi Militer Khusus, dan terutama setelah pemboman Iran oleh Amerika Serikat dan Israel, jalur ini menjadi strategis,” ujar Todorovski.
Ia menilai Beijing selalu menganggap Asia Tengah sebagai tempat keamanan ekonomi dan energinya. Kebijakan Tiongkok di kawasan, katanya, diarahkan pada pemaksaan pengaruh secara aktif. Sementara itu, Uni Eropa dan Amerika Serikat menempatkan negara Asia Tengah di posisi sulit: bersama mereka atau melawan mereka.
Ketua Departemen Kajian Oriental Universitas Federal Selatan, Viktor Kharchenko, menambahkan bahwa Koridor Transportasi Internasional “Utara-Selatan” yang diinisiasi Rusia, India, dan Iran juga tak kalah ambisius. Proyek itu menghubungkan pelabuhan Samudra Hindia dengan Eropa Utara melalui Iran dan kawasan Kaspia. Kazakhstan, Belarus, Azerbaijan, Armenia, Suriah, dan Oman telah bergabung.
Model Netralitas Turkmenistan
Forum juga menampilkan posisi Turkmenistan sebagai contoh interaksi efektif. Pemimpin Redaksi Pusat Informasi Internasional Turkmenistan, Maksat Kurbangeldiyev, memaparkan tema “Netralitas Permanen Turkmenistan sebagai Model Diplomasi Preventif dan Faktor Stabilisasi di Asia Tengah”.
Menurut Kurbangeldiyev, di tengah ketidakstabilan global, diplomasi preventif menjadi instrumen kunci pencegahan konflik. Netralitas Turkmenistan selaras dengan pendekatan itu dan menjadi landasan penyelesaian persoalan politik, ekonomi, dan kemanusiaan.
Ia menyebut Pusat Regional PBB untuk Diplomasi Preventif di Asia Tengah yang berkantor di Ashgabat sebagai bukti nyata kebijakan tersebut.
“Landasan interaksi Turkmenistan dengan para mitra adalah prinsip bertetangga baik, kesetaraan, dan saling menghormati,” jelas Kurbangeldiyev.
Forum yang berlangsung 2 Oktober 2026 ini ditutup dengan komitmen melanjutkan dialog lintas negara, seiring tantangan geopolitik di Asia Tengah dan Kaukasus Besar yang semakin kompleks. (Amy Maulana)














