Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*
Ada satu realitas yang harus diakui, bahkan diyakini: Allah tidak pernah berhenti bekerja untuk memenangkan kebenaran dan keadilan, bahkan dengan cara yang tidak kita duga. Bagi komunitas Muslim di Barat, khususnya di Amerika, hal ini telah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan sejak lama, terutama pasca peristiwa 9/11 sekitar 25 tahun silam. Intinya, semakin Islam ditekan dan dihalangi, justru semakin menemukan momentum untuk bangkit.
Peristiwa Nine Eleven tahun itu diakui sebagai salah satu fase terpahit dalam sejarah dakwah di Amerika. Tidak hanya kekerasan yang dialami komunitas Muslim saat itu, tetapi yang lebih pahit adalah dibangunnya narasi publik bahwa Islam adalah ideologi berbahaya, bahkan musuh dan ancaman bagi Amerika serta dunia Barat. Islam diidentikkan dengan terorisme dan kekerasan yang menakutkan.
Namun, Allah dengan kuasa-Nya membalikkan keadaan. Situasi yang sulit dan mencekam berubah menjadi pintu-pintu kemudahan dan kesempatan bagi terbukanya kebenaran Islam secara luas. Cerita yang berkembang saat itu bahwa Al-Qur’an menjadi buku terlaris bahkan habis terjual di toko-toko buku Amerika bukanlah dongeng. Saya menjadi salah seorang saksi mata sekaligus pelaku di lapangan.
Empat hari setelah peristiwa yang meruntuhkan gedung WTC, Jumat 14 September 2001, terjadi dua peristiwa penting. Pertama, kunjungan Presiden G.W. Bush ke Ground Zero untuk pertama kalinya. Kedua, acara doa bersama (memorial service) untuk para korban WTC di sebuah lapangan di downtown Manhattan. Di kedua acara itu, saya adalah salah satu dari dua imam yang diundang. Satunya lagi adalah Imam Ezekiel Pasha dari Masjid Malcolm X di Harlem.
Kisah yang ingin saya sampaikan terjadi di acara doa bersama tersebut. Setelah saya memimpin doa secara Islam dan Imam Pasha menyampaikan sambutan singkat, saya dihampiri seorang pria Kaukasia (kulit putih) dan berbisik: “I am a Muslim”. Saat itu kecurigaan sangat besar. Saya termasuk yang curiga, jangan-jangan dia mata-mata.
Singkat cerita, setelah acara selesai saya ajak dia ke samping dan bertanya, “Kapan Anda memeluk Islam?” Jawabnya, “Kemarin.” Berarti tiga hari setelah peristiwa WTC. Awalnya saya makin curiga. Di saat Islam dicurigai, dibenci, dan ditakuti, mengapa justru dia masuk Islam? Maka saya tanya, “Kok bisa? Bukankah Islam dituduh ajaran teror? Warga Amerika takut bahkan benci. Lalu Anda bisa masuk Islam?”
Dengan serius beliau bercerita bahwa pada hari peristiwa itu terjadi, dia menonton CNN. Pembawa beritanya (Anchor) berkata, “Jika Anda ingin tahu inspirasi serangan teror ini, bacalah Al-Qur’an.” Ia pun segera pergi ke Islamic Center dan membeli Al-Qur’an. Bukan untuk mencari hidayah, tetapi untuk menemukan ajaran teror di dalamnya.
Sambil tersenyum ia berkata, “Tiga hari tiga malam saya cari kata ‘teror’ dalam Al-Qur’an, tapi tidak saya temukan. Yang saya temukan justru mutiara-mutiara Al-Qur’an.” Itulah yang membawanya kembali ke Islamic Center dan mengikrarkan syahadat. Alhamdulillah!
Presiden Trump dan Muslim Ban
Selama delapan tahun G.W. Bush berkuasa, banyak hal yang cukup merepotkan dan mengganggu perjalanan dakwah di Amerika. Dari perang Afghanistan hingga Irak dan seterusnya, semua menjadi pembenaran untuk menekan aktivitas dakwah. Salah satu yang terkenal adalah “Patriot Act” yang membenarkan aparat keamanan menggeledah warga tanpa mempertimbangkan hak-hak sipil, atas nama patriotisme Amerika.
Di era Barack Obama situasinya diakui cukup kondusif. Meski secara sistem berbagai peraturan di tingkat kota dan negara bagian masih menyulitkan, setidaknya Obama tidak secara agresif menggunakan wewenang untuk meminggirkan komunitas Muslim. Ada angin segar dan ruang gerak yang dibuka pada masa itu.
Ujian kembali muncul pada 2017 dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika. Trump yang mengusung slogan MAGA _Make America Great Again_ membangun kampanye dan pemerintahan di atas rasisme _white supremacy_ yang memang sedang menguat di berbagai belahan dunia Barat, termasuk Australia.
Pada masa Trump inilah terbit Keputusan Presiden yang disebut “Muslim Ban” yang dimulai dari enam negara. Meski disebut spesifik enam negara, belakangan terungkap bahwa tujuannya memang mengarah pada pelarangan orang Islam dari dunia mayoritas Muslim untuk masuk Amerika.
Sekali lagi, Allah justru membalik keadaan itu secara misterius. Pelarangan orang Islam masuk Amerika yang bertujuan membangun narasi bahwa Islam berbahaya, justru menjadi jalan bagi banyak warga untuk bersimpati, mempelajari, bahkan menerima Islam. Ada yang menyebutnya “9/11 kecil”. Artinya, tantangan besar berbalik menjadi peluang dakwah yang juga besar.
Saya sendiri, atas usulan seorang teman pendeta Yahudi, mengadakan sebuah demonstrasi, mungkin yang terbesar di Kota New York saat itu. Motto yang kami usung adalah “Today I Am a Muslim Too”. Teman saya, Russell Simmons, yang dikenal sebagai “Hip Hop Mogul” dan beragama Buddha, mendanai acara yang dihadiri beberapa aktor/aktris Hollywood.
Genosida Gaza dan Loyalitas yang Dipertanyakan
Trump pergi, datanglah Biden.
Joe Biden adalah mantan Wapres Obama dari Partai Demokrat, beragama Katolik, namun mengaku Zionis. Pada masanya terjadi genosida terburuk dalam sejarah dunia modern. Biden adalah presiden yang tersenyum kepada Islam, tetapi menusuk dari belakang. Karena bantuan militer dan keuangan Amerika pada masanya, minimal 70.000 warga sipil terbunuh secara kejam oleh penjajah Zionis di Gaza.
Kepergian Biden empat tahun kemudian tidak mengubah situasi Palestina secara signifikan. Memang pembunuhan massal terhenti, tetapi pembunuhan sporadis terus terjadi. Namun pada masa Trump ini, desakan untuk mengambil alih Gaza dan Palestina secara keseluruhan semakin menguat. Melalui tekanan politik dan ekonomi, negara-negara Islam dipaksa, baik secara langsung dan kasar maupun tidak langsung dan hampir tak terdeteksi, untuk membuka hubungan diplomatik dengan negara penjajah Zionis.
Dalam situasi tersebut, masyarakat Muslim dihadapkan pada realitas yang dilematis. Di satu sisi, masyarakat Muslim Amerika terpanggil untuk bangga dan mencintai negara adopsinya, Amerika. Namun di sisi lain, nurani dan kemanusiaan mereka terpanggil untuk membela saudara-saudara mereka di Palestina. Di sinilah masyarakat Muslim di Amerika dipandang dengan mata kecurigaan: di mana letak loyalitas mereka?
Dalam situasi seperti itulah Allah kembali bekerja secara misterius di luar nalar manusia. Gelombang konversi ke Islam di Amerika dan dunia Barat meningkat tajam, hampir menyamai apa yang terjadi pasca 9/11. Dan yang lebih menakjubkan, mereka yang masuk Islam umumnya karena kekaguman kepada warga Gaza. Mereka menangkap bahwa kehidupan sejati: kehidupan yang bermakna dan punya orientasi jauh ke depan ada pada masyarakat Gaza. Dan mereka memiliki kehidupan itu karena iman dan Islam.
23 Tahun Dakwah Rasulullah & 23 Tahun Dakwah di Kota New York
Saya tidak bermaksud membandingkan karena tidak mungkin dibandingkan. Hanya saja, apa yang kita alami di Kota New York memakan waktu yang sama dengan masa perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Kita tahu beliau berdakwah pada fase Makkah selama sekitar 13 tahun, lalu fase Madinah sekitar 10 tahun. Dengan demikian, perjuangan beliau mengemban amanah dakwah memakan waktu sekitar 23 tahun.
Selama itu pula, kurang lebih 23 tahun, perjalanan dakwah di Kota New York mengalami perkembangan yang secara logika biasa sulit dipahami. Jumlah Muslim meningkat drastis hingga lebih dari 10% dari total penduduk. Bisnis-bisnis Muslim tumbuh di mana-mana, sekolah-sekolah umum dipenuhi anak-anak Muslim, sekitar 14-15% pelajar sekolah umum adalah Muslim. Maka Idulfitri dan Iduladha menjadi hari libur resmi sekolah. Ada lebih dari 3.000 anggota NYPD beragama Islam. Dan masih banyak lagi bukti perkembangan Islam di kota ini.
Jika dalam 23 tahun itu Rasulullah SAW berjuang dengan segala pahit getir dan berhasil mendirikan Madinah sebagai negara pertama yang beliau pimpin, maka di Kota New York, setelah melalui masa-masa getir tahun 2001/2002, akhirnya pada 2025 sejarah terukir dengan terpilihnya seorang Muslim menjadi wali kotanya. Mungkin ini hanya kebetulan. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menyamakan karena memang tidak pantas. Hanya waktunya yang hampir sama: 23 tahun perjuangan.
Perubahan Politik Amerika yang Signifikan
Terpilihnya Zohran Mamdani menjadi Wali Kota New York sekaligus menandai perubahan cara pandang publik dan arah politik di Amerika. Terlebih jika cara pandang dan karakter politik ini kita kaitkan dengan fenomena global dan konflik Timur Tengah, khususnya isu Palestina.
Kita tahu bahwa politik Amerika sedemikian lama dikontrol oleh lobi Zionis Israel. Dua partai besar tidak berbeda ketika berhadapan dengan pengaruh lobi politik Zionis yang disebut AIPAC. Lobi inilah yang selama ini banyak menentukan wajah politik dan kebijakan publik Amerika, terlebih kebijakan luar negeri.
Di hadapan realitas itu Allah kembali menunjukkan kuasa-Nya. Justru di tengah terbangunnya narasi bahwa komunitas Muslim memiliki loyalitas yang dipertanyakan, arah politik Amerika mengalami perubahan signifikan. AIPAC secara perlahan tapi pasti mengalami krisis kepercayaan. Semakin banyak politisi Amerika, khususnya yang memiliki akses luas ke dunia baru yang dipengaruhi media sosial, berubah haluan.
Dan yang paling menggembirakan adalah mulai bermunculannya politisi-politisi muda yang secara terbuka mendukung Palestina dan menolak kolonialisme Zionis Israel. Tentu yang paling menggembirakan adalah hadirnya politisi-politisi Muslim di kancah politik dengan dukungan besar dari publik Amerika. Selain Zohran Mamdani di Kota New York, ada Omar Fateh di Minnesota, Abdullah Hammoud di Dearborn, Amer Ghalib di Hamtramck, dan lain-lain. Kali ini juga ada beberapa calon anggota Kongres dan Senat, di antaranya Abdul El-Sayed di Michigan dan Adam Hamawy di New Jersey.
Selain itu, dukungan terhadap Palestina di Kongres semakin menguat. Contoh terdekat adalah rancangan resolusi yang disponsori Senator Bernie Sanders baru-baru ini untuk melarang bantuan persenjataan ke Israel, yang didukung oleh 40 dari 100 anggota Senat. Sesuatu yang bahkan lima tahun lalu tidak terbayangkan.
Namun dari semua itu, yang paling menggembirakan adalah kesadaran masyarakat Amerika tentang isu Palestina-Israel yang semakin meningkat. Saat ini opini yang berpihak ke Palestina telah mencapai lebih dari 65% warga Amerika. Sementara dukungan untuk Israel anjlok ke tingkat 27%, itu pun mayoritasnya adalah warga lansia dari kalangan Yahudi dan Kristen radikal.
Penutup
Kesimpulan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa apa yang terjadi di Amerika dari masa ke masa semakin menguatkan keyakinan bahwa Allah tidak pernah berhenti bekerja untuk memenangkan agama-Nya. Dan semua itu terus terjadi tanpa henti, secara misterius, di luar nalar biasa manusia.
Lalu apa dan bagaimana seharusnya komunitas Muslim menyikapinya? Tunggu sambungannya! (*)
NYC Subway, 8 Juni 2026
*Direktur/Imam Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation













