Oleh: Ulul Albab_
Ketua ICMI Jawa Timur
ZAMAN sekarang, bahagia sering tampak seperti jadwal yang padat. Agenda di kalender tak tersisa. Grup WhatsApp ramai. Banyak undangan berdatangan. Namun ironisnya, banyak orang justru kelelahan di tengah semua itu._
_Kita sekarang ini hidup di masa ketika sibuk dianggap sukses, dan diam sering disalahpahami sebagai kalah. Padahal tidak semua yang bergerak itu maju. Karena ada juga yang bergeraknya sekadar berputar-putar, lalu lelah sendiri._
_Disadari atau tidak, media sosial sekarang malah memperparah keadaan. Bahagia dipajang seperti etalase toko: “senyum lebar, caption panjang, emoji berderet”. Namun seperti etalase toko, yang terlihat hanyalah bagian depan. Bagian dalamnya, siapa yang tahu?_
_Karena di balik foto yang ceria, tak jarang ada hati yang tegang. Seperti rumah yang lampunya menyala terang, tapi penghuninya sulit tidur. Gelisah._
_Tanpa disadari kadang kita jadi terbiasa mengejar bahagia dengan suara keras. Padahal bahagia yang paling tahan lama justru sering datang dengan suara perlahan, bahkan sering tanpa suara._
_Islam sejak awal tidak mendefinisikan bahagia sebagai kegembiraan yang meledak-ledak. Islam berbicara tentang ketenangan. Sesuatu yang hari ini justru semakin langka. Al-Qur’an menyebutnya *ṭuma’ninah:* “suasana ketika hati tidak ikut panik meski keadaan berubah”._
_Bunyi ayatnya begini: *“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”* Ayat ini terasa sederhana, tapi efeknya sangat dalam luar biasa. Ia seperti tombol “mute” di tengah kebisingan hidup. Nggak percaya? Cobalah “berdzikir” mengingat Allah._
_Tenang bukan berarti hidup tanpa target. Tenang adalah kemampuan untuk tidak terburu-buru menilai diri sendiri hanya karena hidup orang lain terlihat lebih cepat, lebih kaya, atau lebih diakui._
_Banyak orang hari ini kelelahan karena membandingkan. Mengukur hidup dengan standar orang lain. Seperti sedang mengikuti acara lomba yang tidak terdaftar sebagai peserta. Lalu heran mengapa tidak mendapat piala meski memenangi perlombaan. Paham kan maksudnya?_
_Orang yang tenang adalah orang yang tidak sibuk menjelaskan dirinya. Ia tidak merasa perlu membela pilihan hidupnya di setiap percakapan. Karena ia tahu: yang paling perlu diyakinkan bukan orang lain, tapi justru hatinya sendiri._
_Tenang juga bukan sikap pasrah tanpa usaha. Justru dari ketenangan itu lahir kerja yang lebih fokus, keputusan yang lebih jujur, dan relasi yang lebih sehat. Orang tenang jarang yang impulsif. Ia melangkah, bukan meloncat. Juga bukan meledak-ledak._
_Di dunia yang semakin bising ini, mungkin bahagia hari ini sesederhana ini, yaitu: tidak iri melihat keberhasilan orang lain, tidak panik melihat keterlambatan diri sendiri, dan tidak lupa pulang ke rumah, pulang ke hati, dan pulanh ke Tuhan._
_Karena sesungguhnya, bahagia bukan tentang seberapa ramai hidup kita dibicarakan. Tetapi seberapa tenang kita menjalaninya ketika tidak ada yang melihat dan membicarakan.
*(‘ala bidzikrillahi tathma’innal qulub:* Selamat selalu terus berdzikir dan selamat selalu berbahagia)._













