SURABAYA | DutaIndonesia.com – Biasakanlah berbicara dengan kata-kata atau kalimat yang baik dan santun, kepada siapa pun. Maka derajatmu akan naik di mata Allah, dan otomatis naik pula di mata manusia.
Hal ini dikatakan oleh Prof. DR KH Asep Syaifuddin Chalim MA, pendiri dan pengasuh Ponpes Amanatul Ummah (AU), saat memberikan pengajian kitab kuning pada para santrinya di Pondok AU, Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya, Rabu pagi, (21/10/2026).
Dijelaskan oleh Kiai Asep, bahwa akhlak berbicara semacam itu, adalah bagian dari akhlakul Karimah (budi pekerti atau tingkah laku yang mulia, terpuji serta luhur), seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Dan akhlakul Karimah akan menuntun langkah seseorang ke pintu-pintu surga.
Sebaliknya, apabila kita berbicara dengan kata-kata atau kalimat yang kotor dan buruk, bahkan ada unsur umpatan, meskipun yang berbicara tidak memiliki niat buruk apa pun, namun itu sudah cukup menuntun orang tersebut untuk jatuh ke api neraka.
Kenapa demikian, karena kata-kata dan Bahasa yang buruk dan kotor, akan mengundang murka Allah.
Kenapa satu kalimat buruk bisa menjerumuskan ke neraka? Tanya Kiai Asep, yang kemudian dijawab dengan penjelasan.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah, yang dia anggap remeh, padahal dengannya Allah mencampakkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari No. 6477).
Para ulama menjelaskan, “kata yang dimurkai Allah” itu bukan hanya kata kasar. Tapi mencakup:
– Dusta & Fitnah: Mengada-adakan cerita untuk menjatuhkan orang lain.
– Ghibah & Namimah: Membicarakan aib orang lain, adu domba.
– Mencela Agama / Takdir: Mengeluh berlebihan seakan-akan menyalahkan Nasib, agama dan bahkan sang pencipta, Akllah SWT.
Marah Itu Syetan
Yang seringkali kata-kata dan kalimat kotor dan buruk keluar, adalah keluar dari mulut orang yang sedang marah.
Dan ini biasanya juga diidap oleh orang yang punya penyakit hati. Ada dua penyakit hati yang paling sering merusak kita. Yakni Ghadab (Marah) dan Su’udzon (Buruk Sangka / Menilai Cepat).
”Marah itu hakekatnya dari syetan. Dan ingat, syetan dibuat Allah dari api. Sementara api bisa dipadamkan dengan air. Dalam hal ini air wudhu,” kata Kiai Asep.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya marah itu dari syaitan, dan sesungguhnya syaitan itu diciptakan dari api, dan sesungguhnya api itu dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud No. 4784, Ahmad)
Kenapa marah dari syaitan? Karena saat marah, darah naik ke kepala, akal sehat pun tertutup. Selanjutnya, lisan jadi liar, mudah mengucap kata yang dimurkai Allah.
Tak hanya itu, tangan mudah memukul, merusak barang, menceraikan istri, memecat karyawan.
Syaitan masuk di celah itu dan membisikkan “Kamu benar, dia salah, balas!”
Itulah kenapa Rasulullah memberikan terapi bertahap untuk memadamkan api itu.
Tangga Pemadam Marah:
Pertama, diam dulu. Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang marah, hendaklah diam.” (HR. Ahmad). Jangan jawab WA, jangan ngomong, jangan buat keputusan.
Kedua, duduklah jika sedang berdiri. “Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika belum hilang, hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud). Dengan mengubah posisi, aliran darah dan gengsi kita turun.
Ketiga, berbaring / tidur sejenak. Ini mematikan ego. Orang yang berbaring sulit untuk menantang berkelahi.
Keempat, berwudhu. Ini puncaknya. Air wudhu secara fisik mendinginkan panas di wajah dan kepala, dan secara ruhani, wudhu mengusir syaitan. Syaitan tidak betah dengan orang yang suci.(Moch. Nuruddin)













