Etika Buang Air Kecil dan Besar

oleh
Kiai asep
Prof Dr KH Asep Syaifuddin Chalim MA

SURABAYA| DutaIndonesia.com – Buang air kecil atau besar, merupakan sesuatu yang teramat lumrah pada manusia. Karena tubuh membuang racun dan zat yang sudah tidak berguna. Sehingga tubuh tetap sehat dan terhindar dari penyakit.

Meski hal tersebut terjadi setiap hari, namun etika dalam melaksanakan buang hajat tersebut harus diperhatikan. Agar tidak mengganggu orang lain, tidak menyinggung makhluk lain dan menyinggung sisi religius keagamaan.

Hal ini dikakatan Prof DR KH Asep Syaifuddin Chalim MA, saat memberikan pengajian kitab kuning pada para santrinya di Ponpes Amanatul Ummah, Siwalan Kerto, Wonocolo, Surabaya, Rabu, 17 September 2025.

“Anak-anak harus perhatikan ini, karena adab atau etika, atau sopan santun itu posisinya di atas ilmu. Jadi ini pelajaran yang sangat luhur,” kata Kiai Asep.

Karena adabnya cukup banyak, sekitar 12-an, maka penulis buat poin-poin / nomor-nomor. Adapun adab yang harus diketahui oleh seorang muslim antara lain;

1. Pada Air Diam

Jangan buang air kecil atau pun besar, pada kolam yang airnya diam.

2. Di bawah pohon yang sedang berbuah

Jangan buang air kecil atau pun besar di bawah pohon yang sedang berbuah. Karena bila buahnya jatuh, terkena kotoran kita, lalu dimakan oleh makhluk hidup lainnya, akan membawa penyakit baginya.

3. Di tempat teduh

Hal ini dikhawatirkan, bila nanti ada orang yang akan berteduh, menjadi tidak bisa, karena ada air seni atau tinja yang kotor dan berbau di situ.

4. Di lobang tanah

Hal ini dikhawatirkan, lobang tersebut adalah rumahnya hewan, maka hewan kecil tersebut akan menderita atau bahkan mati.

Bahkan, bila hewan itu hewan cukup besar dan berbahaya (ular, rakun, dlsb) bisa marah dan menggigit orang yang sedang buang air kecil / besar.

5. Dilarang berbicara

Selama buang air besar atau kecil janganlah berbicara. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dua orang buang air hendaklah salah satu di antara mereka sembunyi dari yang lain, dan janganlah keduanya bercakap-cakap karena Allah murka terhadap yang demikian.” (H.R. Ahmad dari Jabir r.a.). Maksud dari sembunyi dari yang lain adalah tidak saling melihat aurat.

6. Membersihkan bekas buang air besar atau kecil

Bersihkan sisa buang air besar atau kecil dengan air atau jika tidak ada boleh dengan tisu. “Bersihkanlah diri dari buang air, karena kebanyakan siksa kubur disebabkan oleh hal itu (tidak bercebok atau tidak bersih-bersih setelah buang air kecil atau besar).” (H.R. Dharaquthni dari Abu Hurairah r.a.).

7. Cebok dengan tangan kiri

Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kalian memegang kemaluan dengan tangan kanan saat buang air dan jangan pula bercebok dengan tangan kanan.”
(H.R. Muslim dan Abu Qatadah r.a.).

8. Buang air di toilet atau kamar mandi

Untuk buang air, pilihlah tempat yang jauh dari penglihatan orang lain jika sulit ditemukan toilet atau kamar mandi. “Apabila Rasulullah pergi untuk buang air,
beliau mencari tempat yang jauh dari penglihatan orang lain.” (H.R. Abu
Daud dari Mughirah bin Syu’bah r.a.).

9. Tidak kencing di sembarang tempat

Rasulullah SAW bersabda, “… Jauhilah olehmu dua yang mendatangkan
laknat; … yang kencing di jalan dan tempat berteduh …” (H.R. Muslim dari
Abu Hurairah r.a.).

10. Boleh kencing sambil berdiri bagi laki-laki

“Nabi mendatangi suatu tempat, lalu beliau kencing sambil berdiri, kemudian meminta air, lalu aku membawakan air kepadanya dan beliau pun berwudhu.” (H.R. Bukhari dari Abu Hudzaifah r.a.). Kencing sambil berdiri ini hanya untuk laki-laki.

11. Tidak menghadap atau membelakangi Ka’bah

Rasulullah Saw bersabda, “Apabila kamu mendatangi tempat buang air besar atau kecil, janganlah menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya.” (H.R. Nasa’I dari Abu Ayyub al-Ansharry r.a.). Hal itu hanya berlaku untuk buang air besar atau kecil di tempat terbuka. Jika di toilet atau kamar mandi boleh saja dilakukan.

12. Jangan memandang matahari dan rembulan

Saat buang air kecil mau pun besar, janganlah memandang ,matahari (bila siang hari) atau rembulan (pada malam hari). Karena di langit Tingkat 1 hingga 7, ada penghuni makluk Allah lainnya juga. Bahkan di atas langit tingkat 7, adalah singgasana Allah.

“Di sinilah kelebihan agama kita, Islam. Mengatur sampai hal yang sekecil-kecilnya. Agar kita selamat di dunia dan akherat. Jadi sangat tepat kalian sekolah di Amanatul Ummah,” kata Kiai Asep mengakhiri. (Moch. Nuruddin)

No More Posts Available.

No more pages to load.