Khutbah Jumat: Berpegang Teguh pada Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Akidah Mayoritas Umat

oleh

Oleh Ustad Nur Rohmad

Tidak ada yang lebih berharga bagi seorang Muslim selain akidah yang benar. Sebab, akidah menentukan keselamatan seseorang di dunia dan akhirat. Di tengah banyaknya pemikiran yang berkembang, kita wajib berpegang teguh pada akidah yang diwariskan Rasulullah SAW dan para Sahabatnya, yaitu akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, akidah mayoritas umat Islam sepanjang sejarah. Naskah khutbah Jumat berikut berjudul “Khutbah Jumat: Berpegang Teguh pada Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Akidah Mayoritas Umat”.

Semoga bermanfaat.

Khutbah I:

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ، أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ۝١٠٣

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dari atas mimbar, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan. Saudara-saudara seiman, Ketika Sayyidina ‘Umar bin Khatthab datang dari Madinah menuju negeri Syam untuk mengadakan perjanjian dengan kaum Nasrani di Baitul Maqdis agar mereka berada di bawah kekuasaannya dengan membayar jizyah, beliau sampai di sebuah tempat bernama al-Jabiyah dekat Damaskus.

Di hadapan kaum Muslimin yang berkumpul menyambut kedatangannya, Amirul Mukminin berdiri menyampaikan sebuah khutbah yang sarat nasihat dan pelajaran.

Dalam khutbah tersebut ia berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي قُمْتُ فِيكُمْ كَمَقَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِينَا فَقَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِأَصْحَابِي، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ يَفْشُو الْكَذِبُ… أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ، عَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوْحَةَ الجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الجَمَاعَةَ (رواه الترمذي وغيرُه بالأسانيد الصحيحة)

Artinya; “Wahai umat manusia, sesungguhnya aku berdiri di hadapan kalian sebagaimana Rasulullah pernah berdiri di hadapan kami sebagai khatib, lalu beliau bersabda: ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar berbuat baik kepada para sahabatku, kemudian kepada generasi setelah mereka, lalu kepada generasi setelah mereka. Setelah itu akan tersebarlah kedustaan… Ingatlah, jangan sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, kecuali yang ketiga di antara keduanya adalah setan. Hendaklah kalian bersama mayoritas umat, dan jauhilah perpecahan. Sesungguhnya setan itu bersama orang yang sendirian, dan ia lebih jauh dari dua orang yang bersama. Barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga, hendaklah ia senantiasa bersama mayoritas umat (berpegangteguh pada akidah yang diyakini mereka).’” (HR at-Tirmizi dan lainnya dengan sanad yang sahih)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam hadis Nabi di atas terdapat peringatan agar seorang laki-laki tidak berduaan dengan seorang perempuan yang tidak dihadiri pihak ketiga. Karena apabila seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, setan hadir sebagai pihak ketiga. Dalam keadaan seperti itu, dorongan setan akan lebih kuat untuk menjerumuskan keduanya ke dalam dosa perzinahan yang dilarang keras dalam agama. Jika ada orang lain bersama mereka, pengaruh setan menjadi lemah. Tetapi bila hanya berdua, setan lebih mudah dan lebih leluasa untuk menggoda.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hadits di atas menegaskan bahwa generasi terbaik umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tiga generasi pertama Islam: para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Mereka adalah generasi yang mendapat pujian langsung dari Rasulullah karena kemurnian iman, keteguhan akidah, dan kesungguhan mereka dalam mengamalkan ajaran Islam. Karena itu, Rasulullah memerintahkan umatnya untuk mengikuti jejak mereka.

Para sahabat adalah generasi yang menerima agama ini langsung dari Nabi, kemudian menyampaikannya kepada generasi setelah mereka. Tanpa perantaraan para sahabat, Al-Qur’an dan Sunnah tidak akan sampai kepada kita sebagaimana yang kita kenal dan amalkan hari ini. Merekalah yang menyaksikan turunnya wahyu, memahami sebab-sebab turunnya ayat, serta mendengar langsung sabda-sabda Rasulullah.

Oleh sebab itu, tidak ada generasi yang lebih memahami Al-Qur’an dan Sunnah daripada mereka. Berpegang teguh kepada ajaran Islam sesuai dengan pemahaman para sahabat merupakan jalan yang paling aman untuk menjaga kemurnian akidah dan meraih keselamatan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kemudian Rasulullah mengabarkan bahwa setelah masa generasi terbaik, akan merebaklah kedustaan. Kedustaan itu bukan hanya dalam urusan dunia, tetapi juga dalam masalah agama. Karena itulah, muncul berbagai kelompok yang mengatasnamakan agama, namun menyimpang dari jalan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Sebagian kelompok yang menyimpang itu ada yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Padahal Baginda Nabi dan para sahabatnya mengajarkan kepada kita bahwa Allah tidak serupa dengan segala sesuatu.
Ada pula kelompok lain yang mengkafirkan seorang mukmin hanya karena melakukan satu perbuatan maksiat. Padahal seorang mukmin tidak boleh dikafirkan hanya karena perbuatan dosa yang ia lakukan selama ia tidak meyakini kehalalannya. Ada pula kelompok yang menyebarkan ajaran bahwa seorang hamba itu kuasa untuk menciptakan perbuatannya sendiri. Padahal wajib diyakini bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah memerintahkan kepada umatnya untuk berpegang teguh pada akidah mayoritas umat, yaitu akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya, kemudian mereka mengajarkannya kepada generasi setelah mereka, lalu generasi itu mengajarkannya kepada generasi berikutnya, hingga sampai kepada zaman kita sekarang.

Akidah ini senantiasa menjadi keyakinan mayoritas umat Baginda Nabi Muhammad. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan agar umatnya tidak menyimpang dari akidah tersebut.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang diajarkan oleh Rasulullah dan oleh para ulama dari masa ke masa adalah menetapkan adanya Allah ta’ala yang tidak didahului oleh ketiadaan, dan bahwa segala sesuatu selain Allah pada mulanya tidak ada kemudian menjadi ada. Pada azali, tidak ada selain Allah, tidak ada cahaya, tidak ada kegelapan, tidak ada tempat, dan tidak ada waktu.

Waktu dan tempat adalah sesuatu yang ada setelah sebelumnya tiada. Demikian pula cahaya, kegelapan, dan udara. Semuanya adalah makhluk yang awalnya tiada, kemudian menjadi ada. Allah-lah yang menciptakan itu semua.
Para ulama juga mengajarkan bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya. Sebab seandainya Allah menyerupai sesuatu dari alam semesta, niscaya Ia bukanlah Pencipta alam, melainkan membutuhkan kepada pencipta lain yang menjadikan-Nya. Maha Suci Allah dari hal semacam itu.

Karena itu, akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mensucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk, mensucikan Allah dari tempat dan arah, serta dari segala sifat makhluk. Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Allah Maha Suci dari ukuran dan bentuk.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sabda Rasulullah: “Hendaklah kalian bersama mayoritas umat, dan jauhilah perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, dan ia lebih jauh dari dua orang yang bersama. Barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga, hendaklah ia senantiasa bersama mayoritas umat (berpegangteguh pada akidah yang diyakini mereka).”

Sabda Nabi ini sejalan dengan firman Allah Ta‘ala:  وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ

Artinya; Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai.
Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan kaum beriman untuk bersatu di atas akidah dan syariat-Nya. Namun, persatuan yang diperintahkan bukanlah persatuan yang mengabaikan kebenaran atau membiarkan kesesatan tanpa nasihat. Persatuan yang sejati adalah persatuan yang dibangun di atas Al-Qur’an dan Sunnah, dengan saling menasihati dalam kebaikan serta saling mencegah dari kemungkaran. Dengan demikian, umat tetap bersatu tanpa mengorbankan prinsip-prinsip agama.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga kita senantiasa dianugerahi kekuatan untuk terus memegangteguh akidah Ahlussunnah wal Jama’ah hingga kita menutup mata dan meninggalkan dunia yang sementara ini.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: ﵟإِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ٥٦، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، ﵟإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٩٠ﵞ فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

* Al-Faqir Nur Rohmad, Anggota Tim Ahli Bidang Akidah pada Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Ketua Komisi Dakwah MUI Kab. Mojokerto.

No More Posts Available.

No more pages to load.