Nyoman Nuarta dan Seni Mengubah Gagasan Menjadi Kenyataan

oleh

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

SURABAYA (Global-News.co.id) – Seorang seniman tidak boleh berhenti pada imajinasi. Sebuah gagasan artistik, sebesar apa pun, harus dapat diterjemahkan menjadi kenyataan melalui perhitungan teknis, penguasaan teknologi, kemampuan membangun jaringan, serta narasi yang mampu meyakinkan pihak lain.

Seniman, pematung kondang Njoman Nuarta menyampaikan itu dalam forum “Seniman Wicara” di selasar Balai Budaya, Minggu (20//2026). Forum ini merupakan rangkaian perhelatan ARTSUBS 2026 yang berlangsung di Balai Pemuda.

Dalam “Seniman Wicara” yang juga menghadirkan budayawan sekaligus kurator ARTSUBS Nirwan Dewanto, Njoman Nuarta membagikan pengalaman panjangnya mewujudkan sejumlah proyek monumental, dari Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali hingga Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Untuk diketahui, jejak Nuarta di Surabaya bisa dilihat lewat karyanya Patung Karapan Sapi di ujung selatan Jalan Basuki Rahmat dan Monumen Jalesveva Jayamahe di Ujung.

Menurut Nuarta, persoalan terbesar dalam mengerjakan karya monumental bukan semata-mata bagaimana menciptakan bentuk artistik, melainkan bagaimana membuat gagasan tersebut benar-benar dapat dibangun.

“Pertama-tama adalah mengajukan proposal proyek. Saya membuat proyek gagasannya terlebih dahulu, lalu menawarkannya kepada pihak mana pun,” kata alumnus ITB ini.

Dengan kata lain, gagasan harus memiliki jalan untuk keluar dari kepala seniman dan masuk ke dunia nyata.

Perjalanan Garuda Wisnu Kencana menjadi salah satu contoh bagaimana gagasan besar membutuhkan keberanian untuk diwujudkan. Nuarta mengungkap, proyek GWK pada awalnya merupakan inisiatif pribadi. Ia bahkan menyiapkan lahan pribadi seluas 23 hektare sebelum memperoleh dukungan yang memadai dari berbagai pihak.

“Ketika tidak ada pihak yang membantu, saya melapor kepada Presiden Soeharto, hingga akhirnya beliau mencairkan pinjaman sebesar Rp 23 miliar,” ungkap seniman asal Bali yang bermukim di Bandung ini.

Setelah berjalan sekitar delapan tahun, pinjaman tersebut mulai ditagih. Untuk menutup, dia sempat menawarkan aset senilai sekitar Rp 1,3 triliun kepada negara, tetapi tidak memperoleh kepastian tindak lanjut.

Nuarta kemudian bekerja sama dengan Grup Alam Sutera. Kawasan GWK akhirnya berkembang menjadi destinasi wisata dan budaya yang ramai dikunjungi masyarakat.

Perjalanan tersebut, lanjutnya, memperlihatkan bahwa sebuah gagasan baru memiliki arti ketika mampu diwujudkan dan kemudian berhadapan langsung dengan publik.

Untuk mewujudkan karya berukuran raksasa, imajinasi saja tentu tidak cukup. Karena itu, Nuarta sejak lama mengembangkan pendekatan teknis dalam pembuatan patung berskala besar. Pada 1993, dia bahkan pada telah mematenkan teknik pembuatan patung organis berskala besar dengan pendekatan pembesaran skala dan pola segmentasi.

Penguasaan teknologi tersebut kemudian jadi bagian penting dalam pengerjaan berbagai proyek monumental.

Dengan pendekatan tersebut, persoalan konstruksi bukan lagi sekadar urusan teknisi. Bagi Nuarta, seniman yang mengerjakan karya monumental juga harus memahami bagaimana bentuk artistik diterjemahkan menjadi struktur yang dapat dibangun.

Pengalaman GWK tersebut kemudian dibawa Nuarta ketika mengerjakan desain Istana Garuda di IKN. Ia mengungkapkan, proyek tersebut dapat dikerjakan dalam waktu sekitar 11 bulan.

Target tersebut, menurut dia, bukan sekadar keberanian mengambil keputusan, melainkan berdasarkan perhitungan dan pengalaman yang diperoleh selama mengerjakan GWK.
“Saya berani berjanji karena sudah mengalkulasi seluruh pengalaman dari proyek GWK,” ujar seniman kelahiran Tabanan, Bali ini.

Diungkapkan, pembangunan GWK justru memiliki tingkat kesulitan teknis yang sangat tinggi karena ukurannya yang besar serta harus menghadapi terpaan angin.

Konsep Istana Garuda dikembangkan dengan pendekatan “archsculpt”, yaitu perpaduan antara seni patung dan arsitektur.

Perjalanan Nuarta dari GWK hingga Istana Garuda memperlihatkan satu hal bahwa karya monumental tidak berhenti ketika seniman menemukan sebuah gagasan. Justru setelah gagasan itu lahir, perjalanan sesungguhnya dimulai—mencari cara agar imajinasi dapat dihitung, dibangun, dan akhirnya hadir sebagai kenyataan di ruang publik.(ret)

No More Posts Available.

No more pages to load.