Gala Dinner Pasca-Muktamar NU Digelar, Dorong Rekonsiliasi dan Penguatan Ukhuwah Nahdliyin

oleh

CIREBON | DutaIndonesia.com – Momentum pasca-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) akan diisi dengan agenda rekonsiliasi dan penguatan ukhuwah melalui Gala Dinner Pasca-Muktamar NU yang mengusung tema “Pekan Rekonsiliasi dan Ukhuwah Nahdliyin.”

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 27 September 2026, mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai, bertempat di Joglo Agung, Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon.

Agenda ini diinisiasi oleh Imam Jazuli Foundation sebagai ruang silaturahmi dan dialog bagi warga NU setelah seluruh rangkaian Muktamar ke-35 berakhir. Para kader Nahdliyin dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang memiliki pandangan berbeda terhadap hasil Muktamar, diundang untuk kembali duduk bersama dalam suasana persaudaraan.

Penyelenggara menilai berakhirnya Muktamar tidak semestinya menjadi akhir dari perbedaan, melainkan awal dari fase baru pengabdian. Ketegangan yang muncul selama proses Muktamar, baik pada ranah struktural maupun kultural, diharapkan dapat segera diakhiri melalui komunikasi, dialog, dan kerja bersama.

“Hajatan tertinggi organisasi telah usai. Kini saatnya amanat Muktamar diterjemahkan menjadi langkah nyata. Kebangkitan ulama harus berjalan beriringan dengan kebangkitan umat,” demikian semangat yang menjadi dasar kegiatan tersebut.

Dari Kontestasi Menuju Kolaborasi

Gala dinner yang diprakarsai oleh Imam Jazuli Foundation ini juga membawa pesan bahwa dinamika organisasi harus berhenti pada momentum kontestasi. Setelah keputusan organisasi ditetapkan, seluruh elemen NU memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga keberlangsungan jam’iyyah dan kemaslahatan umat.

“Musim Muktamar telah berlalu. Musim pengabdian dengan semangat kolaborasi antargenerasi sudah menunggu untuk dimulai,” menjadi salah satu pesan utama kegiatan.

Penyelenggara mengajak para kiai, ulama, kader, serta seluruh elemen NU untuk mengubah energi perbedaan menjadi energi pengkhidmatan. Perbedaan pilihan dan pandangan selama Muktamar dipandang sebagai bagian dari dinamika organisasi yang tidak seharusnya berlanjut menjadi sekat sosial maupun kultural.

Karena itu, rekonsiliasi tidak dimaknai sekadar sebagai pertemuan seremonial. Rekonsiliasi diharapkan menjadi proses membangun kembali kepercayaan, memperkuat komunikasi, serta menyatukan orientasi perjuangan NU memasuki abad kedua.

Muhasabah Tanpa Saling Menuding

“Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan, dan kegagalan di sepanjang zaman.”

Demikian peringatan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi. Perpecahan, menurut Rais Akbar Nahdlatul Ulama itu, bukan sekadar retak hubungan antarmanusia. Ia dapat menjadi racun yang perlahan menjalar ke dalam tubuh sebuah keluarga besar, meruntuhkan kepercayaan, menghabiskan energi, dan pada akhirnya menghancurkan rumah jam’iyyah yang dibangun bersama.

Selain silaturahmi, kegiatan tersebut juga diarahkan menjadi ruang muhasabah bersama. Evaluasi terhadap perjalanan organisasi dinilai penting agar berbagai persoalan yang pernah muncul tidak berulang dan menjadi beban bagi generasi berikutnya.

Muhasabah, dalam konteks ini, tidak diarahkan untuk mencari siapa yang harus disalahkan. Sebaliknya, setiap unsur organisasi diajak melihat ke dalam, memperbaiki kekurangan, dan memastikan agar perjalanan jam’iyyah tetap berorientasi pada khidmah.

“Sudah waktunya saling bermuhasabah tanpa perlu saling menuding. Jangan sampai kemacetan spiritual organisasi kembali terulang,” demikian pesan yang hendak dibawa dalam forum tersebut.

Ruang dialog dan kongkow bersama diharapkan dapat menjadi jembatan untuk menyatukan kembali berbagai elemen Nahdliyin. Visi dan misi perjuangan NU perlu ditempatkan di atas kepentingan kelompok, faksi, maupun perbedaan pilihan dalam momentum Muktamar.

Mengawal Abad Kedua NU

NU lahir untuk izzul Islam wal muslimin, menjaga dan mengembangkan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, mengangkat martabat ulama, melayani dan mencerdaskan umat, serta menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan kebangsaan.

Pekan Rekonsiliasi dan Ukhuwah Nahdliyin pada akhirnya diarahkan pada agenda yang lebih besar: mengawal perjalanan NU di abad kedua.

Para kiai, ulama, kader struktural, dan warga NU kultural diharapkan dapat kembali bergandengan tangan, saling menguatkan, serta membangun sinergi untuk menjawab tantangan zaman.

Semangat tersebut menjadi semakin penting karena NU memasuki fase baru perjalanan organisasi di abad kedua. Amanat Muktamar tidak cukup berhenti pada keputusan dan struktur kepengurusan, tetapi harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Gala Dinner Pasca-Muktamar NU pun diharapkan menjadi salah satu titik temu untuk merawat persaudaraan setelah kontestasi organisasi berakhir.

Pesannya sederhana: Muktamar boleh selesai, tetapi khidmah tidak boleh berhenti. Seluruh Nahdliyin diajak kembali menyatukan langkah, mengawal amanah para pengabdi, dan mengarungi perjalanan abad kedua NU dengan semangat ukhuwah, keikhlasan, kolaborasi, serta orientasi maslalah lil ummah. Bismillah. (gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.