Cegah Kebutaan, RSMM Jawa Timur Buka Layanan Deteksi Dini Kelainan Retina pada Bayi Prematur

oleh

SURABAYA| DutaIndonesia.com – Mata adalah organ terpenting untuk melihat, memahami, dan merasakan keindahan serta informasi dari dunia luar yang memungkinkan kita berinteraksi, menyimpan memori, dan memperluas wawasan. Karena itu menjaga mata sangat penting untuk kualitas hidup.
Direktur Rumah Sakit Mata Masyarakat (RSMM) Jawa Timur, dr A.A Ayu Mas Kusumayanti MKes menyebut, sepanjang tahun 2025 penyakit terbanyak untuk pasien rawat jalan di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu adalah katarak, glaukoma, dan astigmatism (kelainan refraksi).

“Penyebab kebutaan pertama adalah katarak dan menyusul glaukoma,” ungkapnya saat ditemui di kantornya Senin ( 2/2/2026).

Gangguan penglihatan juga bisa terjadi sejak lahir dan ini kerap tak diketahui atau disadari oleh masyarakat. Salah satunya retinopati prematuritas (retinopathy of prematurity/ROP) yaitu penyakit mata serius yang terjadi pada bayi prematur karena pertumbuhan pembuluh darah abnormal di retina.

Kelahiran prematur sendiri, secara global diperkirakan mencapai 15 juta per tahun. Lebih dari 1 juta bayi meninggal karena komplikasi prematur, seperti terkena infeksi, kelainan jantung. Dan yang survive sebagian akan mengalami kecacatan, gangguan kemampuan belajar, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran.
Saat bayi lahir prematur (usia kehamilan kurang dari 9 bulan dengan berat badan lahir kurang dari 2.000 gram), ia berisiko mengalami ROP.

Dalam kasus ROP ringan, mata bayi bisa sembuh dan tidak membuat kerusakan. Namun pada kondisi yang parah, bayi bisa sampai mengalami kebutaan.

Penyanyi dan penulis lagu, Putri Ariani adalah satu contoh dari sekian banyak kasus anak yang mengalami kebutaan karena ROP. Putri yang lahir di usia kehamilan 6 bulan ini mengalami kebutaan permanen sejak usia 3 bulan.
Dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Mata Masyarakat Jawa Timur, dr Niken Indah Noerdiyani SpM menjelaskan, gangguan penglihatan ROP terjadi karena bayi yang lahir prematur seluruh organ tubuhnya belum berkembang sempurna, termasuk retina mata.

“Sehingga kalau harus lahir di usia itu, untuk survival organnya belum siap,” kata dokter yang mendalami masalah kelainan pada mata anak dan strabismus ini.

Pada bayi ROP terjadi pertumbuhan pembuluh darah abnormal di retina (bagian belakang mata) rentan. Karena pembuluh darah belum selesai berkembang saat lahir prematur, yang dapat bocor, berdarah, menyebabkan jaringan parut, hingga menarik retina dan menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani.

Untuk deteksi dini dalam upaya mencegah kebutaan, sejak tahun 2013 RSMM Jawa Timur telah membuka layanan deteksi dini pada saraf mata bayi. Pendeteksian ini menggunakan alat khusus yaitu kamera retina (Retina Camera/RetCam) . Retina Camera adalah sistem kamera digital cang gih untuk pencitraan retina mata, terutama penting untuk deteksi dini kelainan mata pada bayi prematur seperti ROP dan kondisi serius lainnya.

Alat ini memungkinkan dokter melihat, merekam, dan menganalisis kondisi retina secara real-time, non-invasif, dan mendetail untuk intervensi cepat agar tidak terjadi kebutaan. Alat ini juga memberikan gambaran retina yang luas, membantu diagnosis dini retino blastoma, infeksi mata (seperti Toxoplasma), dan pemantauan perkembangan penyakit.
Setiap tahun terdapat peningkatan jumlah pasien yang menggunakan layanan RetCam.

Sepanjang 2025 saja, tercatat 115 bayi telah menjalani deteksi dini menggunakan alat tersebut di RSMM Jawa Timur dan lebih dari 19 bayi di luar RSMM Jawa Timur yang telah diperiksa bekerjasama dengan beberapa rumah sakit.

Faktor risiko ROP di antaranya adanya sepsis atau infeksi berat, transfusi darah berulang, dan penggunaan ventilator (terapi oksigen) berkepanjangan, serta riwayat keluarga dengan kelahiran prematur.

Dikatakan dr Niken, ROP menyumbang angka terbesar kebutaan yaitu 40%. “Kemajuan teknologi membuat bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) bisa survive. Di sisi lain membuat ROP meningkat, karena organ yang belum berkembang optimal,” ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Penanganan ROP tergantung stadium, mulai dari observasi, laser untuk menghentikan pertumbuhan retina yang abnormal, injeksi intravitreal untuk mengecilkan pembuluh darah, hingga operasi untuk kasus parah. Dan ini sudah bisa ditangani di RSMM Jawa Timur.

Mata adalah organ terpenting untuk melihat, karena itu dr Niken wanti-wanti mengingatkan deteksi dini sebagai sesuatu yang paling penting dilakukan untuk mencegah kebutaan. (ret)

No More Posts Available.

No more pages to load.