Kepala Program Studi Sarjana Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Dr. Mochammad Sahal S.T., M.Sc., termasuk jamaah haji 2025 Kloter 12 Kabupaten Mojokerto Embarkasi Surabaya yang terpisah dari anggota keluarganya. Sang istri Ulifah Fuadah menempati Hotel Manazel Ishraq Nomor 1006 di kawasan Misfalah Kota Makkah, Arab Saudi, sementara Sahal menempati hotel 323 yang lokasinya cukup jauh. Sendirian lagi dari kloter 12 Embarkasi Surabaya.
Oleh Gatot Susanto
KEJADIAN suami istri jamaah haji terpisah hotel ini karena mereka berada di dalam naungan Syarikah yang berbeda. Padahal, sama-sama satu kloter. Bahkan, sama sama satu KBIH yakni KBIHU Al-Rahmah di Pungging Kabupaten Mojokerto. Hanya mereka berbeda Syarikah. Sang istri Syarikah Rawaf Mina RWF sementara dirinya RHL.
Namun begitulah, sistem baru dengan 8 syarikah–dari sebelumnya hanya satu muasasah–yang diterapkan tahun 2025 ini membuat jamaah haji harus menghadapi ujian baru dari Allah SWT. Menjadi jamaah haji yang tabah atau gampang marah, jengkel, dan sejenisnya. Sahal memilih tabah. Bukan tanpa alasan sikap itu dipilih oleh alumni Hochschule Darmstadt Jerman ini, dan pernah mengenyam pendidikan di Technische Universität Hamburg-Harburg Jerman, sebab sejak awal dia sudah pasrah dan kemudian bersyukur bisa berhaji tahun ini melalui jalur pendampingan atau penggabungan lansia ibu mertua sebagai menantu.

Aslinya, porsi haji Sahal baru tahun 2044. Masih 19 tahun lagi. Sedangkan istri Sahal, Ulifah Fuadah sebagai pendampingan mahram adiknya Tri Wahyuni.
Sahal maklum jalur pendampingan atau penggabungan ini memicu polemik di masyarakat sebab realitasnya memang menggeser jatah calon jamaah waiting list lain. Namun apa salahnya berihtiar. Dan bukankah haji panggilan suci dari Allah SWT. Bila ihtiar berhasil berarti Allah memang memangggil Sahal menjadi tamu-Nya tahun ini.
Dan begitulah akhirnya Sahal benar-benar dipanggil di injury time pemberangkatan haji 2025. Tentu hanya ada rasa syukur dan syukur. Plus persiapan yang harus dilakukan super kilat.
“Bagaimana tidak, informasi perpanjangan pendampingan lansia kami terima pada Rabu siang pukul 13.00 16 April 2025 dengan deadline besok terakhir. Langsung kami mengurus surat pengajuan pendampingan darı Dinkes/Puskesmas Keputih, melegalisir surat nikah di KUA Bratang, dan melegalisir akte kelahiran di Kelurahan Keputih Surabaya,” kata Mochammad Sahal kepada DutaIndonesia.com di Tanah Suci, sebelum berangkat Sholat Jumat di Masjidil Haram.
Esoknya Kamis, Sahal langsung melakukan tes kesehatan di Lab Mitra Husada depan asrama Haji Surabaya pukul 06.30 pagi dan terus meluncur ke ibu Mertua Choiriyah di Pungging Mojosari, lanjut ke KBIHU Al-Rahmah untuk pengisian form pengajuan pendampingan. Kemudian meluncur ke Kantor Kemenag Kabupaten Mojokerto.
“Alhamdulillaah ya Rab 🤲 Kamis pukul 14.00 17 April 2025 Surat Rekomendasi pendampingan lansia sampun released. Sekalian meminta Surat domisili di kantor Desa Tunggalpager yang dibutuhkan untuk mengurus mutasi, kemudian kami kembali ke Surabaya. Sabtu 19 April 2025 tes kesehatan di Puskesmas dan menjadwal tiga vaksin. Alhamdulillaah ya Rab, Selasa 22 April Istitha’ah sampun released, langsung kami melakukan pelunasan dan mengurus mutasi dari Kemenag Kota Surabaya ke Kemenag Kabupaten Mojokerto. Alhamdulillaah ya Rab, Rabu 23 April sudah released Surat Mutasi- nya,” ujarnya.
Kemudian yang cukup membuat deg-degan adalah terkait Visa. Namun, Alhamdulillaah ya Rab, sampun released VISA untuk Mochammad Sahal pada Jumat malam 2 Mei 2025. Dan berangkat pukul 02.40 dari Bandara Juanda Surabaya ke Bandara King Muhammad bin Abdul Aziz pada Selasa 6 Mei 2025, di mana sehari sebelumnya dikarantina di Asrama Haji Surabaya terlebih dahulu.
Sahal lebih bersyukur lagi, mengingat dia tidak hanya berhaji berdua saja dengan istrinya tapi bersama anggota keluarga yang lain. Sahal hanya sedih sebab anggota keluarga lain ada yang sudah sepuh tapi terpencar di hotel lain. Manusia diizinkan berihtiar. Maka dia kembali berihtiar agar bisa satu hotel bersama sang istri.
Maka, setelah menginap di hotel dalam naungan RHL semalam, dia meminta bantuan KBIHU Al Rahmah agar bisa pindah ke hotel bersama istrinya. Sahal rela ditempatkan di mana saja. Termasuk bila harus tidur di lantai berkarpet di kamar jamaah lain mengingat tidak ada tambahan tempat tidur. Bahkan bila tidak bisa, dia rela tidur di masjid hotel.
Dan beruntung, Sahal diterima di kamar nomor 113 yang sudah terisi empat orang jamaah haji, masing-masing Miftakhul Huda, Gatot Susanto, Sudarsono, dan Rachmad Hidayat. Awalnya, Sahal tidur di karpet. Tapi kemudian jamaah lain memintanya agar tidur di tempat tidur bersama-sama sebab mereka sama-sama jamaah haji asal Indonesia, satu kloter, dan satu KBIH. Membayar BIPIH dan KBIH dengan jumlah uang yang sama sehingga harus sama-sama merasakan enak atau tidak enaknya berhaji. Tidak boleh ada jamaah satu enak yang lain tidak enak.
Untuk itu diatur dua tempat tidur digabung ditempati bertiga. Sementara dua jamaah lain menempati masing-masing tempat tidurnya. Satu hal yang tidak bisa dikompromikan: Jatah makan. Sahal tidak dapat jatah makan. Karena itu dia berbagi makan dengan istri dan kadang dengan jamaah lain.
Suasana kamar 113 benar- benar menyerap roh haji: bersatu di jalan ilahi. Esensi haji adalah ukhuwah. Bersatunya umat Islam dari segenap penjuru dunia, dari berbagai suku bangsa, berbicara berbagai bahasa, berbeda tradisi-budaya, beragam karakter, dalam satu kota, Makkah Al Mukharomah, dalam satu rumah Allah Masjidil Haram, bertawaf pada satu titik, Kakbah, dan berwukuf di Padang Arafah, Mabid di Muzdalifah, dan melempar jumroh di Mina. Masing-masing ritual haji dilakukan pada tempat dan waktu yang sama. Tidak bisa ditukar. Tidak bisa diganti waktunya.
Maka, hanya mereka yang mau bersatu, menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah, yang hajinya insya Allah mabrur. Dan belajar berukhuwah bisa dimulai dari mana saja, termasuk di kamar hotel tempat para jamaah haji. Bisa pula di titian tawaf saat berdesak-desakan berebut jalan suci mengitari Kakbah 7 kali. Namun tidak sedikit jamaah yang saling dorong, menabrak, menginjak kaki, untuk berebut ruang yang sangat sempit di seputaran Kakbah. Apalagi bila muncul hasrat mencium Kakbah. Wabilkhusus Hajar Aswad. Setan yang juga rajin bertawaf bisa jadi mengaburkan makna, antara sunnah Nabi dan nafsu serakah manusia.
Namun tentu kita tetap tersenyum, terharu, bila ada jamaah dari beragam bangsa itu mau berbagi payung yang meneduhkan di tengah sengatan matahari yang super panas ketika bertawaf.
Jamaah lain yang berhidung super mancung menyemprotkan air ke muka jamaah hidup pesek asal Indonesia. Sungguh indah. Alhamdulillah. Segar. Hilang sesaat rasa gerah di badan.
Rasa segar itu pula dirasakan Sahal di hari-hari berikutnya selama mengikuti prosesi haji.
“Saya akhirnya bisa tidur di tempat tidur sendiri. Satu hotel dengan istri. Alhamdulillah, bisa beribadah dengan khusyuk bersama istri,” katanya.
Ya, bertawaf. Bersa’i. Bertahallul. Wahai, Allah ya Rab kami bersiap memenuhi panggilan suci-Mu. Berwukuf di Arafah. (*)












