Derajat Orang Sholeh Naik Setelah Diuji Oleh Allah dengan Berbagai Musibah

oleh
Kiai Asep mencermati santriwatinya yang menghafalkan sebuah hadist terkait tema pengajian pagi tadi. Bagi santri yang benar hafalannya, mendapat hadiah uang jajan Rp 5.000.
Kiai Asep mencermati santriwatinya yang menghafalkan sebuah hadist terkait tema pengajian pagi tadi. Bagi santri yang benar hafalannya, mendapat hadiah uang jajan Rp 5.000.

SURABAYA | DutaIndonesia.com – Jangan dikira, ketika telah menjadi golongan orang Sholeh (bertakwa), maka segala kehidupannya akan berjalan mulus. Ya usahanya, ya pekerjaanya, ya rezekinya, ya keluarganya, ya jodonya. Namun, pada saatnya akan diuji oleh Allah.

Hal ini ditegaskan oleh Prof DR KH Asep Syaifuddin Chalim MA, pendiri dan pengasuh Ponpes Ammanatul Ummah kepada para santrinya, saat pengajian kitab kuning, Rabu pagi di Ponpes Amanatul Ummah Siwalankerto, wonocolo, Surabaya, Rabu (21/10/26).
Dalam ajaran Islam, jelas Kiai Asep, peningkatan derajat orang Sholeh, setelah melewati musibah bukanlah bentuk hukuman, melainkan sebuah proses pembersihan dan pemuliaan oleh Allah SWT.

Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa derajat orang sholeh naik setelah diuji dengan musibah:
Pertama, sebagai penghapus dosa dan kesalahan. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada satu musibah pun (bahkan duri yang menusuk kaki) yang menimpa seorang muslim, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya karena ujian tersebut. Dengan bersihnya dosa, kedudukan mereka di sisi Allah otomatis meningkat.

Kedua, sebagai pembuktian dan penguat kualitas iman. Layaknya emas , yang harus dibakar untuk membuktikan keaslian dan kemurniannya, iman seorang sholeh diuji agar terlihat kualitas sabar, ridha, dan tawakal mereka yang sesungguhnya.

Ketiga, untuk mencapai kedudukan yang tinggi tidak bisa dicapai dengan amal biasa. Ada kalanya Allah telah menetapkan sebuah kedudukan yang sangat tinggi bagi seorang hamba di surga, namun amal ibadah hariannya belum mencukupi. Melalui ujian hidup yang dihadapi dengan sabar, Allah mengantarkan hamba tersebut ke derajat tinggi yang telah ditetapkan-Nya.

Keempat, mengikuti jejak para nabi. Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian para sahabat, kemudian para tabi’in, kemudian para wali, kemudian orang-orang sholeh yang meneladani mereka. Lolos dari ujian ini berarti naik ke level spiritual yang lebih dekat dengan para kekasih Allah.

Secara singkat, musibah bagi orang sholeh adalah “tangga spiritual”. Ketika mereka meresponsnya dengan sabar dan husnudzon (berprasangka baik kepada Allah), di situlah Allah mengangkat derajat mereka secara luar biasa.

“Oleh karena itu, bila kalian mendapat musibah, maka bersabar dan tetap sholat. Akan lebih baik bila ditambah dengan amalan riadhoh, seperti sholat sunnah, puasa sunnah, berdzikir, berdoa, bersedekah dan lain sebagainya,” jelas Kiai Asep.

“InsyaAllah, setelah musibah berlalu, maka maqom kalian akan naik derajatnya disisi Allah. Baik di dunia mau pun di akherat kelak. Di dunia semakin dihormati oleh masyarakat sekitar,” sambung Kiai Asep.

Juga dicontohkan oleh Kiai Asep, bila dalam suatu keluarga, ada anggota keluarga yang mendapat ujian sakit keras, maka sesungguhnya ujian itu tak hanya pada anggota keluarga yang sakit saja. Namun juga pada anggota keluarga lainnya, misalnya suami (bila yg sakit istri) atau istrinya (bila yang sakit suaminya) dan anggota keluarga lainnya (anak-anaknya). Karena mereka ikut susah untuk merawat, mengobati, membiayai dan seterusnya.

Bila yang sakit ikhlas dan bersabar karena Allah dan kemudian akhirnya meninggal dunia, dan anggota keluarganya yang mendapat musibah juga ikhlas, sabar karena Allah, maka yang meninggal derajatnya akan naik di akherat nanti. Sementara anggota keluarganya akan mendapatkan kenaikkan derajat kemuliaan di mata Allah, baik di dunia mau pun di akherat kelak.

“Itulah Rahman Rahim Allah terhadap keluarga mukmin,” pungkas Kiai Asep. (Moch Nuruddin)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.