KEDIRI|DutaIndonesia.com – Pegiat sosial Eko Kuntadi bikin heboh lagi. Kali ini dia dinilai menghina Ustadzah Imaz Fatimatuz Zahra atau akrab disapa Ning Imaz dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Eko yang juga Ketua Umum Kornas Ganjarist itu memantik amarah netizen dan warga Nahdliyin setelah dirinnya menghina Ning Imaz yang sejatinya hendak menjelaskan tafsir Surat Ali Imran ayat 14.
Setelah menjadi bahan olok-olok, Ning Imaz pun akhirnya buka suara. Dia menanggapi permintaan banyak kalangan agar Eko minta maaf kepadanya. Namun Ning Imaz menjelaskan bahwa seharusnya Eko meminta maaf bukan kepadanya. Permintaan maaf itu lebih baik ditujukan kepada umat Islam yang sakit hati agamanya telah dihina. “Minta maafnya jangan ke saya. Ke Imam Ibnu Katsir. Ke umat se-Indonesia yang sakit hati agamanya dihina-hina,” ujarnya melalui akun Twitter @ImazzFat seperti dikutip Rabu (14/9/2022).
Asal mula kasus itu terjadi ketika video taushiyah Ning Imaz membahas Surat Ali Imran ayat 14 merujuk tafsir Ibnu Katsir. Ning Imaz menyinggung tentang kehidupan laki-laki dan perempuan di surga yang berbeda. Dia menjelaskan, sebetulnya orientasi kenikmatan tertinggi bagi laki-laki pemeluk agama Islam adalah perempuan.
“Makanya hadiahnya di surga nanti adalah bidadari, tapi kalau perempuan tidak. Perempuan di surga nanti, kenikmatan tertingginya bukan laki-laki. Makanya tidak ada bidadara, tidak ada. Perhiasan, perempuan itu menyukai perhiasan,” kata Ning Imaz dalam video yang dilabeli ‘tolol’ oleh Eko Kuntadi.
Ning Imaz menerangkan, kaum perempuan dalam ajaran Islam menyukai hal-hal yang indah. Pasalnya, kaum perempuan sendiri adalah perhiasan dan pasti menyukai perhiasan. Karena itu, balasan yang didapat di surga berbeda dengan laki-laki.
“Di surga nanti, perempuan diiming-imingi diberikan perhiasan yang luar biasa dan tidak bisa di-tashawur-kan keindahannya di dunia ini. Hanya bisa diketahui nanti di surga. Karena hal tersebut memang sudah ciptaannya demikian. Laki-laki orientasi tertinggi adalah perempuan. Hanya karena perempuan, laki-laki bisa menghalalkan cara. Betul atau tidak?” kata Ning Imaz.

Eko Kuntadi lalu menanggapi video itu. Dalam twit-nya dia sempat melontarkan kata-kata tak pantas yang ditujukan kepada Ning Imaz. “Jadi bidadari itu bukan perempuan?” katanya. Dia juga mengunggah video Ning Imaz dengan menambahkan kata-kata kasar. “Tolol tingkat kadal. Hidup kok cuma mimpi selangkangan,” cuit Eko pada Selasa (13/9/2022).
Kontan saja cuitan Eko tersebut menuai protes dari banyak netizen dari kalangan Nahdliyin. Salah seorang yang merespons cuita Eko itu adalah Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nadhlatul Ulama (PCINU) Australia-Selandia Baru, Nardirsyah Hosen atau akrab disapa Gus Nadir. Dalam cuitannya Gus Nadir menyorot Eko yang dianggap tidak beradab.
Menurutnya, seseorang boleh saja berbeda pendapat, namun tak perlu melabeli dengan kata-kata yang tidak pantas. Gus Nadir juga menjelaskan ke Eko, siapa sosok Ning Imaz yang telah dia hina tersebut.
“Yang Anda posting itu video Ning Imaz dari Ponpes Lirboyo, istri dari Gus Rifqil Moeslim. Beda pendapat hal biasa. Tapi gak usah melabeli dengan kata tolol. Posting saja video aslinya. Bukan yang sudah ditambahi kata-kata tolol. Belajarlah untuk santun dalam perbedaan,” ungkap Gus Nadir di Twitter.
Tak lama setelah Gus Nadir berkomentar, Eko menghapus cuitannya. Namun, sudah banyak netizen yang meng-capture cuitan Eko tersebut. Mereka ramai-ramai meminta klarifikasi dari Eko. Polemik itu membuat pengurus Ponpes Lirboyo buka suara. Kendati cuitan sudah dihapus, namun Lirboyo tetap menyayangkan apa yang telah dilakukan Eko.
Kendati cuitan tersebut telah dihapus oleh Eko Kuntadi, namun pengurus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri bereaksi terhadap hal tersebut. Salah seorang Pengurus Ponpes Lirboyo Kediri KH Oing Abdul Muid menanggapi twit Eko Kuntadi.
“Kita sangat menyayangkan cuitan semacam itu. Medsos tidak semestinya digunakan untuk caci maki ujaran kebencian,” tegas salah seorang pengurus Ponpes Lirboyo, KH Oing Abdul Muid dikutip dari detikJatim, Rabu (14/9/2022).
Ulama yang akrab disapa Gus Muid itu berpesan kepada Eko untuk lebih beradab dalam menyampaikan argumen. Tak masalah seseorang beda pendapat, namun harus ada tata krama untuk menyanggah pendapat lainya. “Kalau pun toh tidak setuju dengan pendapat yang disampaikan, sampaikan dengan beradab dan argumen yang valid. Toh, Ning Imaz juga terbuka dengan diskusi,” tukas Gus Muid.
Warga Nahdliyin yang kini menjadi senator DPD asal Jawa Tengah, Dr Abdul Kholik, mengatakan akhir-akhir ini memang terasa ada upaya stigmatisasi terhadap keberadaan lembaga pendidikan pesantren. Terakhir tampak jelas pada indikasi kasus penghinaan terhadap Ning Imaz selaku pengasuh Pesantren Lirboyo Jawa Timur.
”Sebelum kasus ini sudah muncul banyak kasus yang mengarah pada usaha mendiskreditkan pesantren seperti santri yang diangggap calon teroris, hingga kasus kekerasan pesantren. Padahal dalam hal kekerasan sebenarnya terjadi di banyak lembaga pendidikan lain seperti kasus kekerasan di IPDN, kasus akademi kelautan, bahkan terakhir kekerasan terjadi kekerasan di tubuh institusi kepolisian. Ini artinya pola umum yang masih terjadi di masyarakat kita,” kata Abdul Kholik, dikutip dari republika.co.id, Rabu (14/09/2022).
Menurut Kholik, pesantren adakah institusi pendidikan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Lembaga ini menjadi pusat pendidikan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. ”Karena itu saya menolak keras adanya sudah yang mengarah pada merendahkan institusi pesantren. Adanya kasus penghinaan kepada tokoh pesantren saya lihat cenderung di latar belakangi soal persaingan politik. Hal seperti ini harus dihentikan. Pesantren harus diberi dukungan oleh semua pihak dalam menjalankan pendidikannya yang tujuannya mencerdaskan bangsa,” kata Kholik.
Untuk itu, lanjut Kholik, penegak hukum harus segera bertindak tegas kepada pihak-pihak yang telah melecehkan pengasuh pesantren Lirboyo tersebut. Sebab, kalau terus dibiarkan maka akan berulang dan pesantren akan dirugikan.
”Bagi kami Lirboyo adalah pesantren tua dan besar. Santrinya sudah tersebar di seluruh Indonesia. Mereka sudah menjadi ulama dan kiai di berbagai daerah. Mereka kini sudah menjadi panutan masyarakat,” tegasnya.
Dalam sejarahnya pesantren Lirboyo adalah salah satu pesantren utama di kalangan Nahdliyin. Pondok Pesantren Lirboyo didirikan oleh KH Abdul Karim yang pada mulanya bertempat tinggal di Desa Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kediri, Jawa Timur pada tahun 1910 M. Sebelum menetap di Desa Lirboyo, beliau mengajar di Pondok Pesantren Tebu Ireng asuhan KH Hasyim Asy’ari yang juga menjadi teman sebayanya ketika berguru di Syaikhona Kholil Bangkalan.
KH Abdul Karim menikah dengan Nyai Khodijah binti KH Sholeh, Banjarmelati. Dan sejak pernikahan itulah KH Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo, Kediri. Berpindahnya KH Abdul Karim dari Tebuireng ke Desa Lirboyo disebabkan oleh adanya dorongan dari mertuanya (KH. Sholeh Banjarmelati) dengan harapan agar syiar dan dakwah Islam menjadi lebih luas.
Saat ini Pesatren Lirboyo berada di bawah pimpinan KH M Anwar Manshur. Pesantren ini adalah pesantren salaf, yakni pesantren yang menekankan pada kemampuan membaca dan mengkaji kitab-kitab salaf (kitab kuning) untuk pembelajaran sehari-hari. Pesantren ini menjadi salah satu pusat studi Islam sejak puluhan tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Bahkan di peristiwa-peristiwa kemerdekaan, Ponpes Lirboyo selalu ikut andil dalam pergerakan perjuangan dengan mengirimkan santri-santrinya ke medan perang seperti Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. * okz/det











