Gus Mus Tekankan Muktamar NU Fokus Gagasan dan Program, bukan Pertarungan Figur

oleh
Mustasyar PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus)
Mustasyar PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus)

REMBANG| DutaIndonesia.com – Mustasyar PBNU KH Mustofa Bisri menekankan agar pelaksanaan Muktamar NU tidak boleh terjebak pada kontestasi pemilihan figur pimpinan organisasi semata. Menurutnya, yang lebih penting dari Muktamar NU ialah untuk merumuskan arah besar organisasi ke depan, salah satunya melalui gagasan dan program berbasis keumatan.

Penegasan itu disampaikan Gus Mus saat menerima kunjungan silaturahim Rais PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh di ndalem Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Kabupaten Rembang, Selasa (5/5/2026). Dalam kunjungan itu, KH Ubaidullah Shodaqoh menyerahkan buku tulisan Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari berjudul Maklumat Rais Akbar Nahdlatul Ulama (Al-Idarah Al-Aliyah li Nahdlatul ‘Ulama).

Gus Mus menyampaikan, rumusan berkaitan arah gerakan organisasi ke depan sangatlah penting. Sebab, tantangan Nahdlatul Ulama hari ini cukup besar di berbagai lini kehidupan.

“Muktamar itu seharusnya tidak berhenti pada siapa sosok yang layak, melainkan merumuskan arah besar organisasi ke depan. Jadi gagasan dan program yang paling utama, sebab tantangan NU hari ini jauh lebih besar dari sekadar kontestasi sosok,” ujar Gus Mus.

Untuk itu, Gus Mus mendorong agar Muktamar NU dapat menjadi forum tertinggi organisasi untuk menyusun langkah-langkah besar. “Bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan lima tahunan,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Katib PWNU Jawa Tengah, KH Munib Abdul Muchit. Ia mengatakan, NU sudah saatnya melampaui urusan domestik dan regional, lalu tampil sebagai kekuatan dunia yang ikut membentuk peradaban baru.

“Muktamar NU jangan ditarik ke dalam kepentingan politik praktis dan perebutan pengaruh antarkelompok,” kata Munib.

Ia menilai tarik-menarik kepentingan politik jangka pendek justru berpotensi menguras energi organisasi dan menjauhkan NU dari misi utamanya dalam membimbing umat.

“Orientasi kekuasaan dan kepentingan pragmatis justru menguras energi organisasi,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.