Israel Terus Serang Gaza, Warga Amerika Aktif Kawal Proses Gencatan Senjata

oleh
Warga Palestina melaksanakan salat Idul Adha di dekat reruntuhan Masjid Al-Rahma, yang hancur akibat serangan udara Israel, di Khan Younis, menewaskan 17 orang. 
Warga Palestina melaksanakan salat Idul Adha di dekat reruntuhan Masjid Al-Rahma, yang hancur akibat serangan udara Israel, di Khan Younis, menewaskan 17 orang. (Foto: Reuters)

NEW YORK| DutaIndonesia.com – Warga Amerika Serikat (AS), baik komunitas muslim maupun non-muslim, aktif memantau proposal gencatan senjata di Gaza, Palestina, yang sudah disetujui oleh Dewan Keamanan PBB dan didukung oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Pasalnya, perjanjian gencatan senjata itu harus benar-benar dilaksanakan di lapangan bila sudah ditetapkan oleh PBB. Namun demikian, Israel tetap saja mbalelo. Tentara Zionis itu terus menggempur Gaza.

“Resolusi gencatan senjata PBB yang didukung oleh AS itu setiap hari kita pantau terus, sebab bisa jadi berubah di lapangan. Kalau memang sudah diputuskan oleh PBB, ya alhamdulillah, semoga di lapangan Pemerintah Israel menjalankan resolusi tersebut, meskipun kita tahu, sudah banyak catatan sejarah, setiap kali ada resolusi, mereka (Israel) tidak bisa memegang komitmennya untuk menjalankan hal tersebut. Pemerintah Israel di bawah PM Benjamin Netanyahu terlalu arogan. Kita berharap kalau sudah diputuskan oleh PBB, ya harus dilaksanakan oleh Israel. Artinya, tidak selesai ketika diputuskan PBB saja, tapi juga implementasinya di lapangan, bagaimana caranya agar Pemerintah Israel mengaplikasikannya di lapangan, di mana saat ini wilayah Gaza dan Rafah dan lainnya telah mereka serang,” kata diaspora Indonesia di Amerika Serikat, Dr Natarianto Indrawan, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Kamis (20/6/2024). Natarianto merupakan ahli energi baru terbarukan (EBT) yang kini menjadi pengusaha hidrogen di AS dan Indonesia.

Natarianto Indrawan, PhD

Pria asal Belitung yang sekarang tinggal di Negara Bagian Oklahoma itu prihatin dengan kondisi di Gaza dan Rafah. Saat ini Pasukan Israel masih terus menggempur wilayah Palestina tersebut. Paling akhir dalam suasana Idul Adha, serangan serdadu Zionis itu menewaskan sedikitnya 17 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya dalam serangan udara Senin malam di Jalur Gaza–ketika Perang memasuki hari ke-256.

Saat menyampaikan pesan dalam momen Idul Adha kepada umat Islam, Biden mendorong perjanjian gencatan senjata di Gaza. Menurut Biden, hal itu adalah cara terbaik untuk membantu warga sipil yang menderita akibat kengerian perang yang dipicu oleh penjajahan Israel atas bumi Palestina.

“Terlalu banyak orang tak berdosa yang terbunuh, termasuk ribuan anak-anak. Banyak keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan menyaksikan komunitas mereka hancur. Kepedihan mereka sangat besar,” kata Biden, dilansir dari Arabnews, Senin (17/6/2024).

Biden meyakini, proposal gencatan senjata tiga tahap yang didukung oleh Dewan Keamanan PBB adalah cara terbaik untuk mengakhiri kekerasan di Gaza dan akhirnya bisa menghentikan perang.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih AS Jake Sullivan, mengatakan bahwa mediator Qatar dan Mesir hari-hari ini bakal melibatkan kelompok Hamas untuk melihat kemajuan proposal gencatan senjata di Gaza yang ditawarkan oleh Presiden AS Joe Biden.

Saat ini, masyarakat muslim dan non-muslim di Amerika Serikat sudah terbuka matanya melihat kengerian akibat perang dan penjajahan Israel atas Palestina. Setiap hari mereka memberikan aspirasinya, menyerukan kepada Kongres (DPR AS) di masing-masing negara bagian untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh Pemerintah Israel kepada warga Palestina.

“Setiap warga Amerika baik muslim maupun non- muslim yang memiliki kepedulian kepada warga Gaza memberikan kontak kepada perwakilannya di Kongres masing-masing negara bagian, ada beberapa office, pertama di Washington DC, kedua dan ketiga juga di Washington DC, baru di wilayah masing-masing. Itu dilakukan setiap hari. Mayoritas komunitas muslim dan mayoritas warga AS, juga banyaknya aksi mahasiswa yang turun ke jalan, membuat kemah-kemah di kampus masing-masing, itu adalah warga asli Amerika yang bukan muslim tapi memiliki konsen, kepedulian, kepada nasib warga Palestina khususnya di Gaza. Mereka menilai situasi di Gaza, sangat-sangat tidak manusiawi. Jauh dari prinsip keadilan,” kata Natarianto.

Menurut pakar energi baru terbarukan ini, kekerasan yang dilakukan oleh Pemerintahan PM Netanyahu di Gaza akhirnya membuka mata warga AS yang tadinya mendukung Israel, tapi setelah mempelajari situasinya di Gaza, akhirnya mereka berubah sikap.

“Mereka mempelajari secara langsung, mendapat info langsung, dari para relawan yang turun ke Gaza, melihat kekejaman langsung yang dilakukan tentara Israel. Info itu baik dari berbagai organisasi, yayasan, foundation, pemerintah maupun swasta, yang mengirimkan utusannya untuk membantu sebagai tenaga relawan di Gaza. Ketika kembali ke Amerika, mereka bercerita tentang kondisi yang sesungguhnya di Palestina, sehingga semakin banyak warga Amerika yang tadinya membela pemerintahan Israel di bawah Netanyahu, tapi berubah lebih objektif. Sekarang kita lihat di struktur media yang dikuasai zionis memang sangat kental pro-Israel, tapi secara faktual, di lapangan banyak juga yang pro-Palestina, karena arus informasi bisa didapatkan dari berbagai macam sumber, yang lebih bisa dipercaya, banyak sumber yang berinteraksi langsung dengan kejadian di lapangan, itu yang paling penting. Intinya, sekarang warga Amerika lebih objektif. Tapi mereka yang hanya berpedoman pada media mainstream, ini memang agak sulit. Tapi bagi mereka yang mau belajar, menelaah, mau riset, sekarang mulai terbuka mata hatinya untuk mendukung warga Palestina,” katanya.

Pasukan Israel sendiri terus menyerang Gaza. Akibat serangan pada Senin malam, wilayah Gaza semakin hancur. Suasana Idul Adha yang seharusnya menyenangkan, berubah mencekam. Tim medis mengumpulkan 13 jenazah dari puing-puing dua rumah milik keluarga Al-Ra’ie dan al-Madhoun yang hancur di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah.

Seperti dilaporkan kantor berita resmi Palestina Wafa, serangan udara Israel lain terhadap rumah keluarga Harb di kamp pengungsi Bureij menewaskan sedikitnya empat warga Palestina dan melukai beberapa lainnya.

Lebih banyak serangan udara dan penembakan Israel dilaporkan terjadi di Rafah dan Deir al-Balah, masing-masing di Gaza selatan dan tengah, serta lingkungan Tel al-Hawa dan Zeitoun di Kota Gaza. Israel mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera. Karena itu, Israel menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutal yang terus berlanjut di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu.

Lebih dari 37.300 warga Palestina telah terbunuh di Gaza, sebagian besar dari korban adalah wanita dan anak-anak, dan lebih dari 85.000 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

Lebih dari delapan bulan setelah perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur akibat blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan yang melumpuhkan. Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional, yang keputusan terbarunya memerintahkan Tel Aviv untuk segera menghentikan operasinya di Rafah, tempat lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum diserbu pada 6 Mei lalu. (gas/cnni)

No More Posts Available.

No more pages to load.