JAKARTA| DutaIndonesia.com – Tragedi bullying di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) masih menjadi sorotan publik. Tragedi ini mengakibatkan meninggalnya residen anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip).
Modus bullying pun terungkap, salah satunya beredar chat yang viral tentang bentuk-bentuk bullying yang diduga dilakukan dokter senior kepada junior.
Salah satunya adalah paksaan untuk makan beberapa bungkus nasi padang, sebagaimana tergambar dalam sebuah kutipan chat yang viral tersebut. Selain menyuruh makan nasi padang dalam porsi yang tidak wajar, dokter senior dalam chat tersebut juga mengucapkan kata-kata tidak pantas.
Bahkan dalam chat lain yang juga viral, muncul juga istilah ‘jatah istri residen’. Bentuk bullying yang disebut-sebut terjadi di lingkungan PPDS tersebut menuai kecaman dari para pengguna media sosial.
Kementerian Kesehatan RI sudah menyelidiki kasus tersebut. Namun terkait chat yang viral itu Kemenkes mengaku belum bisa mengkonfirmasi kebenarannya. Yang pasti, pihaknya belum mendapatkan laporan terkait bullying yang dimaksud.
“Kalau laporannya belum ada yang melaporkan ya,” ujar dr Nadia dikutip dari detikcom, Minggu (18/8/2024).
“Ini sedang kita investigasi juga ya, apalagi kalau ini berada di RS vertikal Kemkes,” kata dr Nadia.
Sementara itu, kasus meninggalnya residen PPDS di FK Undip tampaknya juga memasuki babak baru. Pihak keluarga korban buka suara, membantah kabar yang beredar bahwa almarhumah meninggal karena bunuh diri.
“Terkait yang viral katanya, nuwun sewu (mohon maaf) korban meninggal karena bunuh diri itu kami sangkal. Itu tidak benar. Bahwa almarhumah meninggal dunia karena sakit,” kata Susyanto dikutip dari detikJateng, Sabtu (17/8/2024)
Susyanto mengatakan ada kemungkinan almarhumah saat itu berada dalam keadaan capek dan lemas, dirinya menyuntikkan sendiri obat anestesi dan kelebihan dosis.
“Korban meninggal karena sakit, mungkin pas lagi kelelahan keadaan darurat, dia mungkin menyuntikkan anestesinya kelebihan dosis atau apa. Intinya dari keluarga menampik berita bahwa korban meninggal dunia karena bunuh diri,” katanya.
Pihak keluarga juga belum bisa memberikan pernyataan soal ada atau tidaknya perundungan yang dialami almarhumah selama menjalani pendidikan spesialis.
“Soal ada perundungan atau tidak kami tidak bisa memberikan secara vulgar ke media, karena bisa menjadi blunder. Kami akan berikan keterangan secara terang-benderang ke penegak hukum,” jelas Susyanto. (det/wis)












