SURABAYA| DutaIndonesia.com — Kasus meninggalnya Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana (Unud), Bali, akibat dugaan perundungan (bullying), mengejutkan banyak kalangan. Termasuk Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto kaget dan prihatin, yang langsung menelepon rektor Unud meminta penjelasan lengkap atas insiden memilukan itu.
Tragedi yang mencoreng dunia kampus tersebut menimbulkan pertanyaan: bagaimana bisa sebuah universitas — yang seharusnya menjadi tempat aman bagi kebebasan berpikir dan tumbuhnya karakter — bisa menjadi tempat yang tidak lagi aman dan nyaman?
Ketua ICMI Jawa Timur, Ulul Albab, menilai peristiwa ini harus menjadi bahan refleksi nasional bagi seluruh civitas akademika di Indonesia.
“Saya sungguh tidak percaya bahwa ada kampus yang sampai menimbulkan rasa tidak aman bagi mahasiswanya,” ujarnya dalam wawancara dengan media, Senin (20/10/2025).
“Sepanjang pengalaman saya di dunia kampus, suasana akademik itu pada dasarnya sangat humanis, egaliter, dan penuh semangat saling menghormati.”
Ulul Albab bercerita, selama kariernya menjadi pejabat kampus — mulai dari sekretaris lembaga penelitian, ketua lembaga penelitian, wakil rektor bidang kemahasiswaan, wakil rektor bidang akademik, hingga rektor — ia tidak pernah merasakan adanya aroma kebencian dalam interaksi civitas akademika.
Tragedi Bullying di Unud Bali, 6 Mahasiswa Terlibat Minta Maaf dan Dikenai Sanksi
“Kalau pun ada tutur sapa yang agak keras, biasanya itu ekspresi spontan dalam budaya egaliter kampus. Justru gaya seperti itu membuka ruang keterbukaan dan mempererat keakraban, bukan permusuhan,” jelasnya.
Namun Ulul Albab juga mengakui, bahwa dalam beberapa tahun terakhir muncul gejala baru di sebagian kecil kalangan dosen dan mahasiswa — terutama di media sosial dan grup WhatsApp kampus — yang menurutnya mulai kehilangan etika dalam dialog dan percakapan publik.
“Ada kecenderungan sebagian kecil kawan dosen ada yang merasa paling benar. Begitu ada tulisan atau unggahan opini rekan sejawat yang sesungguhnya merupakan hasil pemikiran ilmiah akademiknya, sang dosen ini langsung menilai negatif, bahkan sampai menulis komentar ‘saya malu membacanya’. Padahal ekspresi seperti itu justru mencerminkan kedangkalan intelektual dan moral penulis komentar itu sendiri.” Ungkap Ulul Albab sambil tersenyum.
Ia juga menyinggung fenomena dosen yang gemar mendominasi percakapan di grup WA kampus.
“Saya pernah mengalami sendiri, tulisan saya dikomentari dengan kata ‘ngawur’. Padahal saya sedang membuat ulasan akademik berdasarkan fakta dan data. Tapi saya tidak terprovokasi oleh godaan setan untuk membalas. Bagi saya, diskusi di media, apalagi media insan akademik, harus beretika, sopan, dan logis,” katanya sambil tersenyum.
“Perundungan di media sosial kampus, sering tanpa sadar, sebenarnya juga ada yang dalam bentuk kekerasan baru. Dan ini perlu diatur kembali, agar ruang digital kampus tidak berubah menjadi arena saling menjatuhkan.”
Ulul Albab menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendewasakan. Ruang tempat mahasiswa bertumbuh — bukan merasa terancam.
“Kampus adalah rumah kedua. Tempat belajar teori, sekaligus juga empati, adab, dan penghormatan terhadap perbedaan,” tegas Ulul Albab.
“Kalau kampus kehilangan suasana itu, maka hilang pula makna pendidikannya.” Lanjutnya.
Ia menutup percakapan dengan refleksi yang menenangkan, “Mungkin kita semua perlu menengok kembali ke hakikat awal pendidikan tinggi — yaitu membangun manusia berilmu dan berakhlak. Tanpa itu, gelar setinggi apa pun hanya tinggal symbol yang kosong.” (gas)













