Urgensi kepemimpinan dalam hidup
Kepemimpinan adalah pilar kehidupan. Karenanya semua manusia pada dasarnya adalah pemimpin dalam hidupnya. Rasulullah SAW menggambarkan hidup itu seolah gembalaan yang harus dijaga, tapi sekaligus dipertanggung jawaban.
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته
“Setiap kalian adalah gembala dan semuanya akan diminta pertanggung jawaban dari gembalaannya”.
Ibrahim AS diangkat menjadi pemimpin bukan dengan tiba-tiba dan serta merta. Tapi melalui proses panjang dengan berbagai penempaan. Al-Quran menyampaikan:
واذابتلي ابراهيم ربه بكلمات فأتمها قال اني جاعلك للناس اماما قال و من ذريتي قال لاينال عهدي الظالمين.
“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah), lalu dia menyempurnakan. Dia (Allah) berfirman: sesungguhnya Aku menjadikan kamu seorang pemimpin. Ibrahim berkata: dan juga dari kalangan anak keturunanku. Dia (Allah) menjawab: sesungguhnya keputusan Aku tidak akan diperoleh mereka yang zholim”.
Setelah mencapai kematangan jiwa dan pengalaman hidup yang solid, Ibrahim AS memang berdoa untuk dijadikan pemimpin. Tapi Ibrahim meminta kepemimpinan yang berasas ketakwaan. Kepemimpinan yang membawa umatnya kepada ketaatan dan kesalehan individu dan kolektif.
ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما.
“Wahai Tuhanku karuniakan kepada kami pasangan-pasangan dan anak keturunan yang menyejukkan hati. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”.
Secara mendasar, kepemimpinan Ibrahim AS memiliki tiga karakteristik dasar, seperti yang digambarkan dalam Al-Quranul Karim:
وجعلنا منهم اءمةيهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون
“dan Kami jadikan dari kalangan mereka pemimpin-pemimpin yang berpetunjuk dengan urusan Kami, memilki kesabaran, dan mereka dengan ayat-ayat Kami yakin”.
يهدون بأمرنا berarti mereka berpegang teguh dengan nilai-nilai kebenaran. Perpegang teguh juga berarti memiliki kapasitan keilmuan dan pemahaman dengan masalah-masalah (understanding the issues) yang dihadapi dalam kepemimpinannya. Dalam bahasa politik inilah yang disebut “kapabilitas”.
لما صبروا berarti memiliki mentalitas baja dalam menghadapi berbagai rintangan (challenges) dalam kepemimpinannya. Rintangan yang kita maksud bukan saja kesulitan-kesulitan yang ada. Tapi yang lebih penting juga adalah kesabaran dalam menghadapi godaan-godaan (temptations) kekuasaan. Sabar dengan kesulitan itu mudah dan wajar. Tapi sabar menghadapi godaan itu jauh lebih berat dan kadang terlihat aneh.
وكانوا بآياتنا يوقنون berarti yakin dan meyakinkan. Saya ingin mengatakan bahwa kepemimpinan Ibrahim itu dibangun di atas optimisme yang kuat. Tapi juga sekaligus memberikan optimisme yang tinggi. Optimisme dan harapan, bukan sekedar janji-janji yang seringkali gagal terpenuhi.
Satu catatan penting dari kepemimpinan Ibrahim adalah bahwa beliau selalu mendengarkan aspiarasi masyarakatnya. Hal ini terindikasi jelas ketika meminta opini anaknya menyikapi perintah Allah untuk menyembelihnya: فانظر ماذا تري (apa pendapatmu?).
Keinginan untuk mendengarkan, walaupun dari seorang anak remaja, apalagi berkaitan dengan urusan keyakinan, menjadikan Ibrahim seorang “pemimpin” yang bijak. Tidaklah barangkali berlebihan jika saya memakai bahasa politik modern bahwa Ibrahim adalah “master of democracy”.
Kepemimpinan itu memang karunia. Tapi bukanlah penghormatan. Kepemimpinan adalah karunia amanah dan kesempatan yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki untuk melakukan pengabdian kepadaNya melalui pelayanan publik. Dan karenanya pemimpin yang adil akan berada di posisi para nabi di hari Akhirat.
Kepemimpnan itu “karunia”, bahkan masuk dalam lingkaran “takdir”. Allahlah yang memberikan kepemimpinan kepada Ibrahim: أني جاعلك للناس اماما (sungguh Kami jadikan kamu (Wahai Ibrahim) sebagai pemimpin bagi manusia).
Al-Quran bahkan tegas menyampaikan:
قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك من تشاء
“Wahai Allah, Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendak”.
Manusia yang menyadari hakikat ini tidak akan berambisi buta dalam memperebutkan kepemimpinan. Tidak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepemimpinan. Tidak akan melakukan fitnah, menyebar hoax, dan cara-cara busuk lainnya demi meraih kepemimpinan itu.
Karena memang yakin Allahlah yang memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya. Di tanganNya kekuasaan langit dan bumi: ملكوت السماوات والأرض
Kepemimpinan Ibrahim itu tersimpulkan dalam doa yang dipanjatkan kepada Allah bagi negeri keturunannya:
واذقال ابراهيم رب اجعل هذا البلد امنا وارزق أهله من الثمرات من أمن منهم بالله واليوم الاخر قال ومن كفر امتعهقليلا ثم اضطره الي عذاب إنار وبئس المصير.
“Dan ingat ketika Ibrahim berdoa: wahai Tuhan kami jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan karuniakan kepada penduduknya buah-buahan bagi yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Dia (Allah) berfirman: tapi barang siapa yang ingkar maka Kami akan berikan kesenangan sejenak, lalu kami tarik mereka ke dalam api neraka, tempat kembali yang buruk”.
Doa ini mencakup tiga tujuan utama kepemimpinan Ibrahim:
Pertama, Al-amnu (keamanan). Sebab dengan keamanan itu akan tercipta stabilitas). Dan hanya dengan stabilitas akan terbangun kemakmuran.
Kedua, al-Rizqu (rezeki). Dengan pembangunan yang ditopang oleh stabilitas tadi akan tercipta kesejahteraan umum.
Ketiga, al-adlu (keadilan). Tapi kesejahteraan yang benar hanya akan terjadi ketika penegakan keadilan merata. Kesejahteraan yang berkeadilan itu adalah tujuan kepemimpinan Ibrahim AS.











