Kesimpulan
Dari penyampaian ini ada beberapa kesimpulan yang ingin saya garis bawahi:
Pertama, al-imaanu quwwah. Bahwa keimanan kita itu adalah kekuatan dan modal utama dalam hidup. Hidup dunia yang penuh tantangan ini hanya akan bisa teratasi dengan kekuatan mentalitas yang terbentuk dari soliditas keimanan.
Kedua, iman secara emosi (hati) harus diimbangi oleh rasionalitas berpikir. Emosi tanpa rasionalitas berpikir berakibat kepada terbangunnya pemikiran dan prilaku sempit dan destruktif. Inilah yang kerap kita sebut dengan ekstrimisme.
Ketiga, ketaatan dalam beragama tidak terjadi tanpa proses panjang dan penuh tantangan. Karena memang itulah proses alami menuju kepada kematangan mentalitas dan hidup. Tantangan hidup diyakini sebagai bagian dari proses hidup itu sendiri. Karenanya secara esensi hidup itu adalah pengorbanan. Ibrahim merupakan ketauladanan tinggi dalam hal ini.
Keempat, hanya mereka yang telah lolos dari ujian hidup, dan mampu menegakkan perintah-perintah Allah (Kalimaat) yang akan diberikan kesempatan untuk mengemban kepemimpinan. Karenanya Jangan sampai terjadi pemimpin karbitan yang tidak teruji. Kepemimpinan itu bisa menjadi pintu syurga. Atau sebaliknya lobang ke neraka.
Kelima, kepemimpinan Ibrahim adalah kepemimpinan berkarakter, terbangun di atas kesadaran penuh bahwa menjadi pemimpin bukan “keleibihan”. Tapi tanggung jawab besar, dunia dan akhirat. Dan karenanya kepemimimpinannya terealisasi dalam mewujudkan stabilitas, keadilan dan kesejahteraan umum.
Keenam, Ibrahim juga telah memperlihatkan kecintaan kepada negerinya (hubbul wathon). Mendoakan secara khusus negeri anak keturunannya warzqhum minats tsamarat) dan kemananan (aaminan). Karenanya cinta bangsa dan negeri itu juga merupakan bagian dari iman. Maka loyalitas keagamaan dan kebangsaan tidak perlu diperbenturkan. Islam dan negara Indonesia sudah ditakdirkan bagaikan dua sisi mata yang yang tidak terpisahkan.
Ketujuh, Ibrahim adalah individu yang berkarakter global (ummah). Hal ini menyadarkan kita tentang dunia kita saat ini. Bahwa m dunia kita adalah dunia global dan kita dipaksa untuk memilih. Ikut menjadi pemain, menentukan dan menang. Atau sekedar menjadi penonton, berharap belas kasih, lalu tergilas oleh derasnya kompetisi global itu.
Kedelapan, Masanya Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia bangkit menjadi pelaku global, membangun kepemimpinan global atau “imaaman linnaas”. Karenanya Islam yang dipahami dan dipraktekkan di bumi Nusantara, Islam yang ramah, moderat dan toleran, harus dipromosikan ke kancah internasional.
Semoga Allah SWT meridhoi setiap langkah hidup kita. Semoga kita dijaga dalam iman dan Islam. Semoga kita secara kolektif dijaga dalam persaudaraan dan kesatuan. Dijauhkan dari berbagai prasangka buruk dan kebencian di antara kita. (*)












