Konteks Kebangsaan
Jika kepemimpinan ini kita kontekstualisasikan dalam kehidupan berbangsa kita, maka semua karakteristik kepemimpinan Ibrahim itu secara substantif tertuang dalam pasal-pasal di falsafah negara Indonesia, Pancasila.
Kedalaman spiritualitas yang terpatri dalam kepemimpin Ibrahim AS itu terwakili dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kesabarannya membangun etika dalam kepemimpinannya yang berkarakter Itu terwakili dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab.
Sosoknya sebagai “ummah qanita” merupakan simbolisasi dari Persatuan kebangsaan kita.
Bahkan moral dan integritas kepemimpinannya itu yang tertuang dalam sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Sementara tujuan kepemimpinan untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan umum tersimpulkan dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selain itu, doa Ibrahim untuk penduduk Mekah adalah bentuk “cinta negeri “ (hubbub wathon). Dan karenanya nasionalisme, selama dimaksudkan untuk kepentingan umum dalam berbangsa dan bernegara adalah bagian dari spirit Islam.
Bersyukurlah bangsa Indonesia. Bangsa yang dalam sejarahnya tidak pernah terpisah dari nilai-nilai spiritualitas dan agama. Dan yang lebih khusus lagi, peranan agama dan ulama dari masa ke masa, dalam segala zaman dan situasi, tidak pernah dipandang sebelah mata.
Maka di pagi hari yang penuh barokah ini, kita rayakan pengorbanan Ibrahim, sekaligus kita hadirkan kembali komitmen kepemimpinan yang berkarakter, berakhlakul karimah. Kepemimpinan yang mengedepankan “Rahmah” (kasih sayang) kepada rakyat. Terlebih mereka yang memang berada pada posisi yang termarjinalkan.
Namun tidak kalah pentingnya di pagi hari ini kita membangun kembali semangat besar kita untuk bangkit dalam kebersamaan untuk membangun bangsa yang besar dan menang.
Bahkan lebih jauh, mari dengan kebersamaan ini kita bawa bangsa kita ke depab menjadi “imaman linnaas” (kepemimpinan global).
Ibrahim AS adalah sosok yang merepresentasi globalitas umat. Bahkan kepemimpinan Ibrahim juga adalah kepemimpinan global atau dalam bahasa Al-Quran: اماما للناس(pemimpin bagi seluruh manusia).
Dalam konteks ini ada dua hal penting untuk kita sadari sebagai bangsa:
Pertama, pentingnya menyadari realita dunia kita. Bahwa dunia kita adalah dunia global yang menuntut kesiapan penuh dengan global mindset dari anak-anak bangsa.
Kedua: bangsa ini secara khusus sebagai bangsa berpenduduk Muslim terbesar dunia, harus bangkit untuk mengemban kepemimpinan globa itu.
Dunia global adalah dunia yang berkarakter dengan kecepatan, kompetisi, dan ketergantungan (interconnectedness).
Umat dituntut untuk memilki kecepatan dalam menangkap semua peluang yang ada. Umat juga dituntut untuk memiliki kemampuan daya saing (kompetisi) yang tinggi. Tapi tidak kalah pentingnya umat harus menyadari urgensi membangun “kerjasama” dengan siapa saja demi membangun negeri dan dunia yang lebih baik.
Masanya bangsa ini bangkit di garda terdepan menampilkan Islam yang berkarakter maju dan menang. Islam yang saat ini menjadi dambaan dunia. Islam yang ramah, Islam yang berkarakter tawassuth (moderat) wa tassamuh (toleran).
Islam yang demikian inilah yang tersimpulkan dalam dua istilah: istilah kebangsaan dan istilah keumatan. Istilah kebangsaan dengan dengan Islam yang berkarakter Nusantara. Dan dalam istilah keumatan inilah Islam yang “rahmatan lil-alamin”.
Dengan semangat itulah umat Islam di Nusantara akan bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa membangun negeri ini. Bahkan ikut turut dalam mewwujudkan dunia yang berkatakter Qurani:
بلدة طيبة ورب غفور. (Negeri yang indah di bawah naungan amounan Tuhan).











