Ketua PW LPPNU Jatim Hadapi El Nino dengan Inovasi Teknologi Pertanian

oleh
YouTube player
Tonton Video panen Melon di Ahmad Yani Farm Lamongan.

LAMONGAN| DutaIndonesia.com – Fenomena  anomali cuaca El Nino akan menjadi ancaman masyarakat. Salah satu dampaknya adalah kekeringan ekstrem yang bisa mengakibatkan petani gagal panen. 

Untuk itu Ghufron Ahmad Yani (Gus Yani), Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Pertanian dan Peternakan Nahdlatul Ulama (LPPNU) Jawa Timur menyarankan empat hal kepada masyarakat dan Pemerintah.

Pertama inovasi dan pengembangan teknologi pertanian. El Nino dan kondisi perubahan cuaca apa pun tidak bisa dihindari oleh masyarakat sehingga petani modern harus bisa hidup berdampingan dengan kondisi cuaca yang kadang berubah sangat ekstrem tersebut. Hal itu sudah dilakukan di Green House Ahmad Yani Farm di Lamongan.

Gus Yani sengaja  memberi contoh menanam melon di green house yang melibatkan sejumlah plasma petani di wilayah Desa Sendangharjo Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan. Saat ini selain Wisata Akar Langit Trinil yang berada di Dusun Wide, Desa Sendangharjo juga terkenal sebagai penghasil melon berkualitas. Khususnya melon eksklusif Emerald Gold yang warnanya kuning cerah nan menggoda.

Dengan pertanian modern ala green house ini tanaman melon atau tanaman yang lain bisa tahan terhadap perubahan cuaca, baik di musim hujan maupun di musim panas yang ekstrem. Selain itu, harus terus digalakkan inovasi teknologi pertanian yang lain.

“Inovasi dan penggunaan teknologi pertanian semacam ini sangat penting agar kita bisa menghadapi El Nino dan perubahan iklim lain,” kata Gus Yani kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (10/5/2023) siang.

Kedua, fenomena El Nino jelas akan sangat berpengaruh pada ketersediaan pangan di tanah air. Karena itu Pemerintah perlu melakukan antisipasi dini terhadap ketersediaan air dengan mengoptimalkan pemanfaatan waduk, embung, atau danau yang sudah dibangun sebelum masa aktif puncak El Nino yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2023 mendatang. 

Ketiga, politik anggaran Pemerintah diharapkan lebih berpihak lagi pada sektor pertanian. Paling tidak persentase anggaran pertanian di APBN sama dengan anggaran pendidikan yang mencapai 20%. Sebab sektor pertanian yang menopang kedaulatan pangan sangat vital yang tidak kalah pentingnya dengan sektor pendidikan.

“Tentu kita tahu mulai anak-anak SD, SMP, SMA, S1 hingga S3 tetap butuh makan. Bahkan makanan bergizi harus mereka konsumsi agar pendidikannya bisa berhasil dengan baik. Karena itu, keberpihakan Pemerintah pada sektor pertanian pangan mutlak harus lebih besar dengan politik anggaran yang jelas untuk pengembangan pertanian pangan di Indonesia. Setidaknya anggaran pertanian sama dengan anggaran untuk pendidikan,” katanya.

Keempat, berkaitan dengan penambahan anggaran pertanian, harus disiapkan pula pejabat pengelola anggaran yang amanah dan profesional. Sebab anggaran pertanian yang besar akan sia-sia bila dipegang pejabat yang bermental korup.

“Semoga Ramadhan yang sudah berlalu kemarin memberi pelajaran bagi para pejabat dan kita semua agar semakin amanah, istiqomah bekerja untuk kepentingan rakyat. El Nino atau kondisi alam apa pun pasti segera bisa diatasi kalau pejabatnya profesional bekerja untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan diri sendiri. Anggaran pertanian yang besar juga akan percuma saja bila pada akhirnya dikorupsi,” katanya. 

Seperti diberitakan DutaIndonesia.com dan Global News sebelumnya  Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta seluruh pihak di daerahnya untuk mewaspadai kekeringan akibat fenomena El Nino. Potensi El-Nino yang akan melanda Indonesia perlu kita waspadai bersama, kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

Bhilda Maulida, prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Selasa (2/5/2023), menjelaskan, bahwa saat ini kondisi El Nino berada pada fase Netral dan diprakirakan akan berlangsung hingga akhir semester I atau bulan Juni 2023.

Kondisi El Nino diprakirakan berangsur menuju fase aktif pada semester II (Juli, Agustus, September 2023) dengan peluang 50 — 60%. Selain itu kami prakirakan juga potensi terjadi hujan pada musim kemarau di tahun 2023 relatif kecil atau cenderung di bawah normal dibanding tahun 2020, 2021 maupun 2022. Namun untuk dampak yang ditimbulkan belum bisa dipastikan menunggu intensitas dari El Nino yang terjadi, katanya.

Terkait hal itu BMKG menghimbau kepada seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan panen air hujan dan mengisi waduk/danau/embung di periode peralihan musim. Sebab, hal itu berguna untuk mengatasi dampak musim kemarau seperti kebakaran lahan/hutan, kekeringan, dan kekurangan air bersih.

BMKG juga menghimbau Kementerian /Lembaga, seluruh jajaran pemerintah daerah, institusi terkait, dan masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terkait dampak musim kemarau seperti pergeseran awal musim yang berpengaruh pada awal masa tanam dan sifat hujan musim kemarau BAWAH NORMAL yang dapat mengakibatkan gagal panen. Yang paling perlu diwaspadai saat puncak kemarau di Bulan Agustus, ujarnya. (gas)

Keterangan Foto:

Ghufron Ahmad Yani, Ketua PW LPPNU Jatim di Green House Ahmad Yani Farm di Lamongan.

No More Posts Available.

No more pages to load.