Langit Tersenyum, Bukanlah Fenomena Biasa: Refleksi atas Arogansi Ilmuwan dan Peneliti

oleh
langit degan bulan tersenyum
Langit malam memesona dengan bulan yang tersenyum.

Oleh: Bambang Hariawan

HARI Jumat tanggal 25 April dini hari, manusia diberi hadiah keindahan alam Bulan Tersenyum atau dikenal dengan istilah Smiling Moon atau juga Face Smile Moon.
Fenomena di langit ini terjadi karena posisi planet Venus, Saturnus dan Bulan Sejajar.
Di cakrawala langit yang luas terbentang, ada banyak keajaiban seperti gerhana matahari, gerhana bulan, konjungsi planet, hingga peristiwa langit seperti “bulan tersenyum”—tersebut.
Semua adalah bagian dari tatanan kosmik yang sempurna. Namun yang menyedihkan, di tengah kemajuan sains dan teknologi, banyak yang menganggap semua ini sebagai peristiwa biasa. Bahkan para ilmuwan, Badan Meteorologi dan Geofisika, atau peneliti lainnya termasuk pemerintah melalui departemennya, selalu mensosialisasikan sebagai fenomena alam biasa dan direduksi hanya sebagai data astronomi. Padahal, dalam kacamata iman, langit adalah panggung agung tanda-tanda kebesaran Allah.

Menolak Pandangan “Biasa” terhadap Fenomena Langit
Sebagian kalangan ilmuwan sering menyebut fenomena langit sebagai peristiwa biasa, karena dapat dijelaskan secara ilmiah.
Saya sangat tidak sependapat. Frasa “peristiwa biasa” karena menjadi bentuk pengerdilan makna dari sesuatu yang sangat agung. Gerhana tidak pernah “biasa”. Bulan sabit yang sejajar dengan Venus dan Jupiter hingga membentuk senyuman di langit, jelas bukan hal “biasa”. Hal tersebut adalah pertunjukan langit yang diatur oleh Zat yang Maha Mengatur.
Jika fenomena itu biasa, coba saja ilmuwan menciptakan bulan, Venus, dan Saturnus sejajar tiap enam bulan. Bisakah? Tentu tidak akan bisa . Maka bagaimana mungkin kita menyebutnya sebagai “biasa”? Ucapan fenomena biasa seperti itu, bila tidak hati-hati, mengandung unsur kesombongan intelektual—merasa telah mengerti segalanya hanya karena mampu menjelaskan.

Di Mana Suara Ulama?
Yang lebih menyedihkan lagi adalah diamnya sebagian ulama dalam menanggapi penyempitan makna fenomena alam oleh sains sekuler. Jarang terdengar suara yang tegas untuk mengingatkan umat bahwa fenomena langit adalah ayat-ayat Allah. Bahwa segala keteraturan langit bukan hanya dapat dihitung, tapi juga harus disyukuri, direnungi dan dipahami sebagai petunjuk kebesaran Sang Pencipta. Di masa lalu, ulama seperti Al-Biruni dan Ibnu Sina menjembatani wahyu dan ilmu. Mereka tidak pernah merendahkan sains, namun juga tidak pernah memisahkannya dari iman.
Kini, jembatan itu hampir runtuh. Banyak ilmuwan kehilangan rasa takjub, dan banyak ulama kehilangan bahasa sains. Padahal, keduanya semestinya saling melengkapi. Fenomena langit bukan hanya untuk diamati, tapi juga untuk menggetarkan hati mengingat Maha Pencipta.

El Nino dan Ketidakmampuan Manusia
Contoh lain adalah perubahan musim. Dahulu, di negeri ini, musim kemarau dan musim hujan berjalan seimbang: masing-masing enam bulan. Kini, tak jarang terjadi kemarau panjang atau hujan ekstrem yang tak menentu. Apa jawabannya? Ilmuwan bilang: karena pengaruh El Nino atau pemanasan global.
Bila manusia tak bisa mengendalikan semua fenomena alam itu, bukankah itu menunjukkan bahwa alam ini hanya tunduk semata mata pada kehendak Allah, bukan pada kemampuan manusia? Lagi-lagi, fenomena ini bukanlah hal biasa. Ia adalah peringatan, sinyal, dan panggilan untuk kembali pada kesadaran illahiah.

Menjaga Rasa Takjub
Sebagai hamba yang beriman, kita tidak anti sains. Tapi kita menolak kesombongan atas nama ilmu. Kita butuh ilmu yang mengantar pada kekhusyukan, bukan yang merendahkan ciptaan Allah menjadi sekadar grafik dan kalkulasi.
Langit tidak sekadar berbicara pada teleskop. Langit berbicara pada hati manusia yang mau merenung dan berpikir.
Mulai sekarang, bila kita melihat gerhana bulan atau gerhana matahari, bila kita melihat miliaran meteor berjatuhan di langit, bila melihat hujan es, bahkan gerimis sekalipun, jangan lagi mengatakan hal tersebut fenomena alam biasa, justru fenomena alam luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena ilmuwan maupun peneliti tidak akan bisa menciptakan gerhana yang katanya fenomena biasa itu. Tidak akan bisa menciptakan fenomena langit tersenyum seperti hari Jumat tanggal 25 April dini hari. Insya Allah.
Semua fenomena alam itu luar biasa dan mutlak sebagai tanda tanda kebesaran Allah Sang Pencipta. Allahu Akbar, ya Kabir, Allah Maha Besar. (*)

*Bambang Hariawan adalah pemerhati sosial, agama dan politik.