Menengok Madrasah Kehidupan di Usia 65

oleh

Oleh: Ulul Albab

5 Agustus 2026. Saya genap 65 tahun.

Tahun ini perayaan berbeda. Saya tidak di rumah. Saya sedang dalam perjalanan wisata bersama pimpinan, dosen, dan karyawan Universitas Dr. Soetomo. Sekitar 300-an orang. Sejak 2 Agustus kami berjalan bersama, saling berbagi cerita.

Dan tepat di hari Rabo 5 Agustus 2026 besok, insyaalloh saya akan meluncurkan sebuah buku: *”Menengok Madrasah Kehidupan: Tidak Ada Yang Sia-Sia”*.

Dari Pesantren hingga Kampus

Buku ini bukan sekedar catatan tentang jejak perjalanan saya di Unitomo. Tetapi juga catatan perjalanan panjang hidup saya yang sempat saya catat.

Dimulai dari saya dilahirkan, dibesarkan di pesantren, masa menjadi mahasiswa, hingga mengabdi di dunia pendidikan. 1987 saya masuk Unitomo sebagai dosen muda. Dari kampus inilah saya ditugasbelajarkan S2 ke UGM, lalu melanjutkan S3 di UB Malang.

Di Unitomo saya belajar banyak peran. Dari Sekretaris Lembaga Penelitian, Ketua Lembaga Penelitian, Wakil Rektor III, hingga Rektor 2007–2013. Saya juga pernah mengemban amanah sebagai pengurus Yayasan YPCU.

Saya masih ingat masa paling berat, ketika kampus dilanda konflik. Di saat itulah saya belajar bahwa memimpin bukan soal menang, tapi soal mendamaikan. Alhamdulillah, Unitomo kembali damai dan tetap berdiri sampai hari ini.

Madrasah di Luar Kampus

Namun madrasah kehidupan tidak berhenti di gerbang kampus.

Perjalanan saya berlanjut ke berbagai amanah di luar Unitomo. Di komunitas, di organisasi masyarakat sipil, PW-NU Jatim, MUI Jatim, ICMI Jatim, DPP Amphuri, di asosiasi bisnis wisata, baik di tingkat daerah maupun nasional. Di sana saya bertemu orang-orang berbeda, masalah berbeda, dan ujian berbeda.

Dulu saya sering bertanya: untuk apa semua ini? Untuk apa capek rapat yang tidak selesai. Untuk apa program yang gagal. Untuk apa kritik yang menyakitkan.

Di usia 65, saya tulis semuanya. Ternyata semua itu adalah kelas. Kelas kesabaran. Kelas keikhlasan. Kelas kepemimpinan.

Dengan Kacamata Iman

Karena itu buku ini saya tulis dengan dua kacamata. Kacamata pengalaman dan kacamata iman.

Setiap cerita saya timbang dengan Al-Qur’an dan Hadis. Ada ayat tentang tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan bumi. Ada ayat tentang pentingnya menyiapkan bekal untuk hari esok. Ada ajaran Nabi tentang bahwa tidak ada satu kebaikan pun yang sia-sia, sekecil biji sawi.

Keyakinan itu yang membuat saya berani menulis: tidak ada yang sia-sia. Doa yang tertunda sedang melatih tawakal. Kerja yang belum dihargai sedang menabung pahala. Luka yang belum sembuh sedang mengajari empati.

Pelajaran untuk Melangkah

Meluncurkan buku di tengah perjalanan bersama keluarga besar Unitomo terasa pas. Karena hidup memang perjalanan.

38 tahun saya di Unitomo. Dari dosen muda hingga purna amanah struktural. Unitomo adalah madrasah kesekian saya, setelah orang tua, pesantren, dan kampus dimana saya digembleng S1-S3. Tapi setelah itu, hidup terus membuka kelas-kelas baru.

Pesan buku ini cukup mendalam: jangan buru-buru menyimpulkan hidup kita gagal. Selama kita masih mau belajar, maka setiap jejak, setiap jatuh, setiap bangun, akan bermakna.

Di usia senja ini, saya ingin berterima kasih. Kepada Allah, kepada orang tua, kepada guru-guru pesantren, kepada Unitomo, kepada semua komunitas yang pernah saya layani.

Karena dari semua itu saya belajar: bahwa madrasah kehidupan tidak pernah libur. Dan selama madrasah itu buka, maka tidak ada yang sia-sia. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.