
Piloting di Sumba
Lebih lanjut stafsus Agus mengatakan, Persatuan Olah Raga Berkuda Indonesia (Pordasi) sudah sejak tahun 1975 berupaya meningkatkan kualitas kuda pacu dengan cara menyilangkannya dengan pejantan kuda pacu impor Thoroughbred, yaitu Jenis kuda pacu yg pd awalnya dikembangkan di negara-negara Eropa.
Selama 46 tahun Pordasi melakukan proses pennyilangan kuda pacu, sehingga jenis kuda pacu Indonesia semakin meningkat kualitasnya, ada jenis Kuda G (G1 sd G4), yaitu anak kuda induk yg disilang dgn kuda Thoroughbred murni (pure THB) dan ada jenis KPI (Kuda Pacu Indonesia) yg merupakan hasil silangan antar Kuda G. Huruf G disini menunjukkan semakin besar angkanya, darah kuda inpornya semakin besar.
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki sangat menyadari bahwa bila kualitas kuda pacu lokal ditingkatkan maka akan berdampak pada kesejahteraan peternak kuda. Oleh karena itu kemarin, Menkop UKM Teten Masduki mengunjungi peternakan kuda pacu Aragon di Gekbrong Sukabumi.
Dalam kunjungan tersebut disepakati akan segera dilakukan piloting peningkatan kualitas kuda pacu lokal di Sumba NTT
Eddi Saddak menyambut baik rencana ini dan menyatakan, Aragon siap untuk mendukung piloting tersebut dengan menyediakan pejantan Kuda G2 atau G3 berdarah juara nasional. ” Kami siap mendukung gagasan ini, termasuk menyediakan pakan kuda dengan nutrisi lokal yang kami kembangkan di Aragon,'” kata Eddi.
Sebagai tindak lanjutnya Tim Kemenkop bersama Tim Aragon akan segera ke Sumba untuk mengadvokasi pentingnya para peternak kuda bergabung dalam wadah Koperasi agar pengelolaan bibit, pakan, obat2an dan pemeriksaan kesehatan kuda menjadi lebih efisien dan berbiaya lebih murah.
Stafsus Agus menambahkan, apabila melihat perbandingan harga kuda pacu lokal dgn kuda pacu berdarah G atau KPI, maka harga harga kuda pacu lokal berkisar di harga Rp.20juta sd Rp.40juta, sedangkan kuda pacu berdarah G4 dan KPI berharga di kisaran Rp.100juta sd Rp.200juta bahkan bisa lebih.
Dengan demikian, jika pilot project Koperasi Peternak Kuda ini terwujud, maka sudah tentu akan meningkatkan kesejahteraan peternak.
“Selain itu, tentu ke depannya bisa direplik asi di daerah sentra kuda di wilayah Indonesia,” tambahnya. (bej)














