SURABAYA|DutaIndonesia.com – Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya Senin 13 Februari 2023 malam. Pertemuan dua tokoh ini menarik perhatian publik sebab dilakukan menjelang Pilpres 2024.
Dalam kesempatan itu Prabowo mengaku sengaja mengundang Khofifah makam malam sebagai balasan karena pernah menjamunya di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada 3 Mei 2022 lalu. Saat itu juga sudah heboh, bahwa Prabowo tengah menjajaki untuk meminang Ketua Umum PP Muslimat NU tersebut. Apalagi Prabowo banyak memuji keberhasilan Khofifah.

Ketua PCI Muslimat Hongkong-Macao, Hj Fatimah Angelia, mengaku mendukung Khofifah untuk maju menjadi capres atau cawapres pada Pilpres 2024 mendatang. Dia juga menyerahkan sepenuhnya kepada Khofifah pasangan capres atau cawapresnya.
“Kalau dengan Pak Prabowo, kami mendukung. Tapi kalau dengan capres yang sudah lebih dulu deklarasi itu, warga Muslimat NU di Hongkong sepertinya tidak suka. Tapi kami menyerahkan sepenuhnya kepada Ibu Khofifah. Sebab Ibu Kohofifah itu kebanggaan kami,” kata Fatimah Angelia, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (15/2/2023). Fatimah bersama 6 rombongan Muslimat NU Hongkong-Macao baru saja menghadiri acara Satu Abad NU di Sidoarjo.

Sementara itu pengamat komunikasi politik Jamiluddin Ritonga menilai Prabowo menemui Khofifah salah satunya untuk kepentingan Pilpres 2024. “Prabowo tampaknya meminta kesediaan Khofifah untuk menjadi cawapresnya pada Pilpres 2024. Indikasi itu dapat dilihat dari dua hal,” kata Jamiluddin, dalam keterangannya dikutip Rabu 15 Februari 2023.
Pertama, pertemuan kedua tokoh tersebut dilakukan tertutup. Menurutnya, dengan pertemuan empat mata itu menandakan ada rahasia yang ingin disampaikan Prabowo kepada Khofifah. “Hal rahasia itu untuk saat ini kiranya berkaitan dengan pendampingnya pada Pilpres 2024,” tutur Jamiluddin.
Kedua, Prabowo melontarkan pujian kepada Khofifah usai pertemuan. Pujian tersebut terkait keberhasilan Khofifah memimpin Jawa Timur mengindikasikan kelayakannya menjadi cawapres. Dia menilai pujian Prabowo sebagai bentuk komunikasi politik indirect. “Prabowo tidak menyatakan ini lho bakal cawapresnya. Namun dengan menyatakan beragam prestasi Khofifah, Prabowo sudah beri sinyal inilah sosok yang paling layak jadi cawapresnya,” jelasnya.
Jamiluddin menambahkan, duet Prabowo-Khofifah jika berpasangan lebih kompetitif dibandingkan Prabowo berpasangan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Kata dia, suka tidak suka Khofifah memang lebih menjual daripada Cak Imin.
“Jadi, Prabowo akan berpeluang menang di Jawa Timur bila berpasangan dengan Khofifah. Hal itu dapat menebus kekalahannya di Jawa Timur pada Pilpres 2019,” sebut Jamiluddin yang juga dosen Universitas Esa Unggul tersebut.
Meski demikian, bukan perkara mudah jika Prabowo meminang Khofifah jadi cawapres. Ada beberapa konsekuensi seperti tertutupnya peluang Cak Imin untuk menjadi cawapres. Dia menganalisa dampaknya bisa berpengaruh terhadap Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya jika Khofifah jadi cawapres Prabowo. “Bila Khofifah jadi cawapres Prabowo bukan restu cak Imin, maka ada kemungkinan koalisi Gerindra-PKB akan bubar. PKB bisa saja berlabuh ke Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) atau ke PDIP,” tuturnya.
Selain itu, menurutnya Gerindra juga belum bisa mengusung Prabowo-Khofifah di Pilpres 2024. Sebab, Gerindra mesti berkoalisi dengan parpol lain untuk memenuhi syarat presidential threshold (PT) 20 persen. “Kiranya hal itu menjadi simalakama bagi Prabowo bila memaksakan Khofifah menjadi cawapresnya. Memang pilihan sulit bagi Prabowo,” ujarnya.
Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar tidak ingin mengomentari pertemuan antara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin itu mengaku dirinya belum tahu terkait pertemuan itu dan justru baru mengetahui informasi itu. “Belum tahu. Saya malah baru mendengar tadi pagi,” katanya saat di Blitar, Jawa Timur, Selasa kemarin.
Ia pun mengaku tidak risau dengan pertemuan tersebut. PKB hingga kini juga terus komunikasi dengan semua partai menyongsong Pemilu 2024. “Sekarang masih proses komunikasi dengan semua partai. Golkar, Nasdem, semua kami jajaki untuk perluas jumlah koalisi. Masih ada waktu,” katanya. (gas/det/vvn)













