Sambil menarik nafas dalam-dalam saya mencoba memikirkan kira-kira bagaimana cara menjawabnya dengan singkat tapi mengena (direct to the point). Pertanyaan ini bukan baru. Jawaban yang diberikan juga telah banyak dan bermacam-macam. Jadi saya coba pikirkan cara lain yang singkat tapi mengena.
“I am sure you are an American. You know the constitution, right?” (Saya yakin anda orang Amerika. Anda tahu Konstitusi Amerika bukan?”, saya mulai.
Dia nampak mengangguk tapi tidak menjawab.
“If I said to you that the US constitution is about killing…because of the capital punishment in some states. Do you think I am just to it?” (Kalau saya katakan bahwa Konstitusi Amerika itu adalah membunuh karena adanya hukuman mati di beberapa negara bagian. Apakah saya adil dengan Konstitusi Amerika?”
Dia nampak menggelengkan kepada sambil tersenyum. Tampaknya setuju dengan saya.
“Shariah law is Islamic laws. It’s constitutes faith, rituals, behaviors or characters, and of course criminal codes”, (Shariah itu adalah Hukum Islam. Mencakup masalah iman, ibadah, akhlak dan tentunya juga masalah hukuman kriminal”.
“My belief in God is a part Shariah. I pray five times is also shariah. I do smile to you is because of my shariah. And if I stole your money I deserve to be punished” (saya beriman kepada Allah itu syariah. Saya Sholat 5 waktu itu Syariah bagi saya. Saya tersenyum ke anda kita itu Syariah. Dan kalau saya mencuri uang anda saya pastinya dihukum”, jelas saya.
“So it’s unjust to Shariah to judge it for its criminal code only” (Jadi sangat tidak adil ke Syariah ketika anda menilainya hanya dari sudut hukuman).
“Punishment happens when the law is violated” (hukuman terjadi ketika hukum dilanggar). “Not because of the law itself” (bukan karena hukum itu sendiri)”.
Saya ingin menjelaskan bahwa sesungguhnya yang harus ditakuti itu bukan Syariahnya. Tapi pelanggaran kepada Syariah yang membawa kepada konsekwensi hukuman. Dan ini berlaku kepada semua hukum yang ada. Bahkan juga pada hukum-hukum buatan manusia.
Wanita itu tampak diam. Tapi sekali-sekali mengangguk dan tersenyum. Tampak ada kepuasan, minimal dia telah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang mungkin selama ini mengganjal di benaknya.
Tanpa terasa saya tiba di station lain untuk ganti kereta. Tak lupa saya ucapkan terima kasih karena memberikan kesempatan kepada saya untuk berbuat baik.
Adakah kebaikan lebih dari menuntun seseorang dari pemahaman yang salah? (*)
NYC Subway, 21 Oktober 2021
Imam Shamsi Ali adalah Presiden Nusantara Foundation USA.













