MOJOKERTO|DutaIndonesia.com – Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, meminta semua pihak menyikapi secara proporsional polemik toa masjid. Terkait pernyataan Menag Yaqut Cholil Qoumas soal pengeras suara masjid, bila yang bersangkutan memang tidak bersalah, jangan disalah-salahkan. Namun demikian, Kiai Asep mengaku belum tahu kalimat utuh yang disampaikan oleh Menag Yaqut.
“Kalimat yang dilontarkan Beliau seperti apa, saya tidak tahu, karena tidak tahu saya tidak bisa berkomentar, mohon maaf. Ada yang bilang digabung-gabungkan, kalau benar ya benar, kalau salah ya salah. Kalau klarifikasi Beliau bilang tidak, ya saya tidak akan menyalahkan Beliau. Artinya, Beliau tidak menganalogikan azan dan suara anjing. Beliau hanya mengatakan sebelum azan boleh, 10 menit boleh, setelah azan selesai,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep menegaskan bahwa apa yang dituduhkan menyamakan azan dengan gonggongan anjing itu tidak jelas. “Apa benar begitu, kalimat utuhnya seperti apa, saya tidak tahu, makanya saya tidak mau komentar. Tapi kalau iya, ya jangan jadi menteri agama, masak begitu,” katanya.
Kiai Asep menegaskan, apa yang dikatakan Menag, untuk di daerah nonmuslim, boleh dikumandangkan talkim sebelum azan, dan selesai setelah azan. “Kalau di daerah muslim sehari semalam suntuk pun tidak apa-apa, mereka muslim semua dan mereka senang. Apalagi bila menjelang sahur sebab mengingatkan waktu sahur,” katanya.
Menurut Kiai Asep, harus proporsional dalam menanggapi polemik soal toa masjid ini. “Kalau Menag salah ya salah, kalau tidak salah, ya jangan disalah-salahkan. Kalau dia benar menganalogikan azan dengan suara anjing, ya mundur saja dari menag. Tapi menurut klarifikasinya tidak begitu kan…” katanya.
Kiai Asep memberi saran kepada Menag Yaqut agar banyak mendengar dari anak buahnya, banyak belajar dari orang lain, banyak mencari referensi, agar tidak membuat kebijakan yang bisa memicu kegaduhan. Kiai Asep memberi contoh Pak Harto yang secara pendidikan formal tidak lulus sarjana, tapi dia tokoh yang hebat karena pandai mendengar dari anak buahnya. “Calon menteri disuruh cerita, lalu dia belajar dari para menterinya. Harus banyak belajar, minta dirjen direktur suruh cerita, harus mau belajar,” katanya. (gas)















