Oleh Amy Maulana, Rusia
VLADIVOSTOK,RUSIA|DutaIndonesia.com- Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menantang Rusia untuk melipatgandakan nilai perdagangan bilateral dalam periode peninjauan pertama Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–Uni Ekonomi Eurasia (Indonesia–EAEU FTA). Tantangan ambisius ini disampaikan dalam pidato kunci di Forum Timur Jauh, Vladivostok, dan menjadi sorotan utama dalam rangkaian kunjungan kerjanya ke Rusia.
Target Realistis di Atas Pijakan Kuat
Mengawali paparannya tentang kerja sama ekonomi, Prabowo membeberkan data menggembirakan: pada tahun 2025, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia mendekati 5 miliar dolar AS. Angka ini mencatat pertumbuhan signifikan, meningkat 21,7 persen dibandingkan 2024 dan melonjak 33,7 persen dibandingkan 2023.
Namun, Presiden RI menegaskan bahwa capaian ini baru sebagai pijakan awal, bukan batas tertinggi. Di hadapan para delegasi dan pelaku usaha, ia melontarkan tantangan konkret.
“Saya mengusulkan agar Indonesia dan Rusia menetapkan sebuah tantangan yang jelas bagi diri kita: melipatgandakan perdagangan kita dalam periode peninjauan pertama Indonesia–EAEU FTA,” ujar Prabowo dengan tegas.
Ia optimistis target ganda ini akan tercapai berkat tiga faktor pendorong utama: pertama, struktur ekonomi kedua negara yang saling melengkapi; kedua, pemberlakuan Indonesia–EAEU FTA yang diharapkan pada awal 2027; dan ketiga, yang mungkin terpenting, hubungan yang semakin erat di antara para pelaku usaha kedua negara.
Prabowo menjelaskan bahwa fondasi perdagangan yang adil dan berkelanjutan terletak pada sifat saling melengkapi dari perekonomian Indonesia dan Rusia. Rusia memiliki keunggulan dalam gandum, pupuk, energi, serta ilmu pengetahuan dan rekayasa teknologi maju. Sementara itu, Indonesia unggul dalam minyak kelapa sawit, kopi, hasil perikanan, karet, tekstil, furnitur, barang-barang konsumsi, serta memiliki angkatan kerja muda yang produktif.
“Kekuatan satu pihak dapat menjawab kebutuhan pihak lainnya. Inilah fondasi perdagangan yang adil dan berkelanjutan,” tegasnya.
Lebih jauh, Prabowo memposisikan Indonesia sebagai pintu masuk alami bagi dunia usaha Eurasia menuju pasar ASEAN. Dengan status sebagai pasar terbesar di kawasan, pusat dari Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), dan mitra perdagangan bebas, Indonesia menawarkan akses ke 680 juta penduduk ASEAN.
Samudra Pasifik: Jalan Raya Economic
Dalam bagian lain pidatonya, Prabowo menyampaikan pandangan filosofis bahwa Samudra Pasifik, alih-alih menjadi pemisah, justru merupakan jalan raya yang menghubungkan kedua negara.
“Samudra Pasifik tidak memisahkan kita. Samudra Pasifik menghubungkan kita. Ia bukan tembok di antara kita. Ia adalah jalan raya yang menghubungkan kedua perekonomian kita,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan visi Prabowo tentang integrasi ekonomi lintas samudra, di mana jarak geografis tidak lagi menjadi hambatan, melainkan peluang untuk memperkuat konektivitas perdagangan.
Pembangunan untuk Kesejahteraan Rakyat
Presiden juga menyampaikan filosofi pembangunan Indonesia yang berpusat pada rakyat. Ia mendefinisikan “pembangunan untuk kesejahteraan rakyat” sebagai upaya mewujudkan “kebaikan terbesar bagi sebanyak-banyaknya rakyat.”
Keberhasilan pembangunan, baginya, harus diukur dari meja makan keluarga-keluarga biasa: kecukupan gizi anak, akses pupuk dan harga adil bagi petani, rumah layak, pekerjaan produktif bagi generasi muda, dan listrik yang menjangkau setiap desa.
Hal ini menjadi latar belakang kebijakan strategis nasional seperti program makanan bergizi gratis, perjuangan swasembada pangan dan ketahanan energi, serta percepatan hilirisasi dan industrialisasi.
Tegaskan Posisi Non-Blok di Sesi Tanya Jawab
Dalam sesi tanya jawab, ketika ditanya tentang posisi Indonesia dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan Amerika Serikat dan Rusia, Prabowo menegaskan komitmen Indonesia pada Gerakan Non-Blok.
“Indonesia selalu terbuka untuk bekerja sama dengan semua negara. Kami memiliki posisi yang jelas sebagai bagian dari Gerakan Non-Blok. Dan setiap negara mitra kerja sama kami, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, sudah mengerti dan menghormati posisi Indonesia ini,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan kembali politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, tidak terikat pada blok kekuatan tertentu, serta menjalin hubungan setara dan saling menguntungkan dengan semua pihak. (*)














